| Gapura makam Ki Ageng Pandanaran / Foto :@aernee |
Sebagai pendiri kota Semarang, Ki Ageng Pandanaran mempunyai tempat tersendiri sehingga makamnya sering dikunjungi para peziarah, khususnya pada haul dan hari libur keagamaan seperti Idul Fitri. Makam ini dibuka untuk umum setiap saat.
”Puncaknya tradisi syawalan, biasanya berombongan dari makam Saleh Darat di Bergota para peziarah datang kesini. Dari pagi hingga malam hari selalu ramai,” ujar Hj. Ida Syarifah pengelola yayasan Sosial Ki Ageng Pandanaran.
Menurut Ida, pada saat tradisi syawalan tepatnya pada H+7 Lebaran itulah ratusan bahkan ribuan pengunjung mulai datang dan memadati kompleks makam. Mereka harus bersabar dan bergiliran masuk ke makam Ki Ageng Pandanaran. Selain warga kota Semarang, sebagian besar peziarah ini, datang dari berbagai kota seperti Kendal, Weleri, Batang dan Pekalongan.
Di komplek ini, terdapat dua makam utama yakni makam Ki Ageng Pandanaran 1 dan istrinya Nyi Ageng Sejanila. Makamnya berada di ruangan khusus di bagian dalam dan tertutup dengan kelambu putih. Dua Makam lainnya adalah makam keturunannya, yakni Nyai Arang dan Pangeran Bojong. Serta puluhan makam kerabat dan keturunan lain dari Ki Ageng Pandanaran yang berada di luar aula utama.
Selain sebagai wisata religi, sebenarnya makam Ki Ageng Pandanaran ini juga bisa jadikan wisata sejarah. Cukup menarik karena pengunjung yang datang kesini bisa mempelajari sejarah kerajaan Majapahit. Di aula makam ini di pajang silsilah Ki Ageng Pandanaran, catatan sejarah kerabat Kadilangu dan sejarah Keraton Surokarto tuwin Ngayogyakarto dari Prabu Brawijaya V ing Majapahit. Ditempel di dalam dinding aula yang bisa dibaca dengan gamblang. Bahkan jika ingin tahu lebih banyak tentang sejarah Ki Ageng Pandanaran, pengunjung bebas bertanya langsung pada juru kunci makam atau pengelola yayasan sosial Ki Pgeng pandanaran.
Di kompleks makam Ki Ageng Pandanaran juga berdiri sebuah masjid yang sudah ada sejak zaman Belanda. Meski masjid lama, tapi Masjid Ki Ageng Pandanaran sederhana ini terlihat cukup modern karena sejak tahun 1969 sudah mengalami kurang lebih lima kali perbaikan.
Di areal makam ini juga berdiri menara pandang. Pengunjung diberi kebebasan naik menara yang berada di samping masjid jika tertarik. Di atas menara ini, pengunjung dapat melihat suasana Kota Semarang dengan mata telanjang.
Berwisata disini pun pengunjung tak perlu merogoh kantong. Cukup infak sukarela di kotak amal yang disediakan pengelola.
Komplek makam ini memang tidak berada persis di jalan raya, sehingga pengunjung yang datang berombongan pada tradisi syawalan ini harus berjalan kaki sejauh 100 meter dari jalan Kyai Saleh. Meski areal makam relatif sempit, lokasinya cukup asri, bersih dan sejuk dengan pepohonan rindang di sekeliling kompleks yang berada di dataran tinggi ini.
”Kalau pas ramai, mereka harus jalan kaki. Biasanya mereka naik bis rombongan, jadi kendaraan harus diparkir di jalan utama di jalan Kyai Saleh. Maklum tempatnya tidak luas,” imbuh Ida.
Makam Ki Ageng Pandanaran berada di perkampungan di jantung kota Semarang, tepatnya terletak di jalan Jalan Mugas Dalam II/4, Kelurahan Mugasari, kurang lebih satu kilometer dari bundaran Tugu Muda. Atau sekitar 500 meter dari kawasan wisata kuliner dan oleh-oleh khas Semarang yang terletak di ruas jalan Pandanaran. (@aernee)
Komentar
Posting Komentar