![]() |
| Foto:thejakartapost.com |
“Ia dirantai di emperan rumah, penuh kutu dan kotoran, mal nutrisi dan tidak terurus hingga warga bereaksi karena mengganggu lingkungan. Tapi pemilik sementara melawan dan melarang adopsi. Cukup alot dan emosional ketika menyelamatkannya,” kenang Ina, sapaan akrab perempuan berambut panjang itu.
Tak sampai si situ saja, proses rehabilitasi Dido membutuhkan waktu berbulan-bulan karena perubahan perilaku hewan yang dirantai. Kucing itu mempunyai kepribadian ganda dan menerkam obyek yang dilihatnya. Setelah dirawat, Dido akhirnya diadopsi warga.
Meski hanya seekor kucing, Ina menganggap bahwa mereka juga berhak mendapat kehidupan yang lebih baik dan harus diselamatkan. Pun dengan kelima pencinta satwa lainnya, A Odyssey Sanco, Elly Mangunsong, Kiswandari Ratna, Rejeki Marsudiyani, Monique Van Der Harst.
Dari seringnya menyaksikan satwa domestik yang disiksa dan ditelantarkan inilah, tahun 2009 mereka bertemu dan tergerak membentuk Komunitas Animal Friends Jogja (AFJ). Tidak hanya sebatas sebagai komunitas penyayang binatang, setahun kemudian AFJ menjadi organisasi resmi dan menjadi anggota IOPA internasional.
“Kami difasilitasi Jakarta Animal Aid Network (JAAN). Awalnya berenam iuran Rp100 ribu per bulan untuk operasional membantu satwa di jalanan Kota Jogja,” ungkap Program Manager Animal Friends Jogja (AFJ) ini.
Sejumlah kegiatan tak hanya mengarah pada penyelamatan dan perawatan local animal yakni, kucing dan anjing yang ada di rumah singgah di kawasan Bantul. Tapi juga menggerakkan para voluntir untuk mengedukasi anak-anak dan umum lewat puppet show, program valentine for animal, pengenalan satwa, games, lagu cinta satwa. Bahkan juga unit edukasi keliling yang rutin datang ke PAUD dan kontrol populasi hewan bekerjasama dengan dokter hewan, kampanye dan aksi simpatik, go green, monitoring, hingga sterilisasi.
“Kami tidak punya penyokong dana, sedangkan rescue dan perawatan harus kontinyu setiap hari dan mencarikan adopter. Ini urusan nyawa jadi selain butuh dana juga harus komitmen. Meski ada yang kecewa ketika datang “kok disuruh bersihin pup anjing”. Makanya dari awal harusnya tahu agar tidak kaget,”ujarnya tertawa.
Ina menambahkan, program adopsi dan forter care untuk kesejahteraan satwa domestik juga tidak sembarangan. AFJ selektif mencarikan adopter mengingat tingginya kasus penelantaran dan penyiksaan hewan. Para adopter harus melewati prosedur adopsi seperti mengisi formulir, wawancara , pemantauan dan pengawasan selama 3 bulan dan mengirim foto hewan yang diadopsi secara berkala.
“Makanya banyak yang lebih suka beli di pasar karena tidak melewati prosedur yang rumit dan ribet. Awalnya membeli di pasar, memelihara karena lucu atau tren memberi kado satwa seperti kukang, kucing hutan tapi tidak tahu merawat. Padahal harus mempelajari dan memahami perilakunya. Bukankan lebih baik mengadopsi daripada melegalkan perdagangan satwa,” imbuhnya
Semua kegiatan dikelola via daring. Memanfaatkan email hingga jejaring sosial Bahkan memilih lokasi rumah singgah yang ‘’tersembunyi’’. Ini dilakukan demi keamanan satwa dan menghindari pembuangan satwa domestik. Cara kerja ini juga dianggap lebih efektif untuk mengindari ancaman dan intimidasi dari oknum.
Satwa Liar
Selain satwa domestik, AFJ juga tak menutup mata dengan maraknya perdagangan dan eksploitasi satwa liar dengan membangun jaringan bersama organisasi sejenis untuk menyelamatkan, rehabilitasi dan pelepasan satwa liar. Dari kukang, kucing hutan, owa, elang, orangutan, lumba-lumba hingga hiu dan paus yang terdampar di perairan Bantul.
Bagi Ina, sekecil apapun tindakan manusia terhadap satwa liar akan berpengaruh terhadap ekosistem alam. “Satwa liar tidak untuk dipelihara tapi agar bebas di habitatnya. Harapannya orang lebih tahu bahwa menangkap lebih gampang, dijual, dibeli tapi melepas liarkan itu sangat tidak mudah, butuh waktu dan dana besar.”
Untuk itu, pihaknya rajin mengedukasi masyarakat untuk lebih peduli terhadarp satwa liar. Tak hanya aksi simpatik dengan berbagai cara seperti mural bertemakan kampanye penyelamatan lumba-lumba, menggunakan media budaya lokal, aksi teatrikal, dan pemutaran video. Tapi juga menekan pemangku kebijakan untuk membuat MOU untuk mengatur dan melindungi satwa.
“Kami akan terus bersuara. Misalnya penutupan tempat pemotongan daging anjing, pelarangan sirkus lumba-lumba karena menjual eksotisme. Bahkan ada lumba-lumba yang di sewa seharga 150 juta untuk dipajang di restoran. Juga menentang kolam penelitian lumba-lumba. Kalau ingin meneliti ya di habitatnya.”
Ina mengaku, usahanya butuh perjuangan dan kesabaran karena hukum tidak tegas menindak para pelaku yang memanfaatkan dan mengeksploitasi semua jenis satwa yang dilindungi untuk dipelihara dan komersial. Masih adanya dispensasi kepada para okmun juga menjadi kendala terbesar.
“Kami desak pemerintah agar melarang kepemilikan satwa liar dengan alasan apapun. Juga meminta prosedur penyitaan yang jelas. Jangan sampai mereka mengambil jalan pintas memasukkan satwa sitaan ke kebun binatang. Karena itu artinya dari neraka yang satu ke neraka yang lain.”
Menurutnya, hingga kini kepedulian masyarakat memang masih rendah dan cenderung tidak perduli karena subjek penanganan bukan manusia hingga kesejahteraannya dikesampingkan. “Satwa tidak dianggap penting bahkan dipandang sebagai barang. Tiap individu itu berharga, mereka punya kehidupan sendiri. Itu yang sulit dipahami masyarakat. Padahal aktivitas kami butuh dukungan masyarakat,” tandasnya.
***
Bemodal cinta, Dessy Zahara Angelina Pane menyelamatkan dan merawat hewan yang kondisinya memprihatinkan di rumah singgah AFJ hingga menjadi peliharaan yang menyenangkan.
Sebut saja Geisha, kucing betina kecil yang awalnya terikat benang di pinggang dan leher hingga menembus daging. Monyet ekor panjang yang disiksa dan dieksploitasi pemiliknya di perempatan jalan. Tjoenil yang ditemukan di tempat sampah dan menderita infeksi berat di sebelah matanya. Hingga Pippi di tepian sungai. Atau Melly, anjing labrador Retriever yang terikat bertahun-tahun, menderita ascites dan parasit darah akibat serangan kutu dan Pica, anjing yang diselamatkan dari ancaman pembunuhan untuk konsumsi yang kini telah siap diadopsi.
“Kami tak pernah membeda-bedakan satu dengan yang lain. Bahkan memahami kekurangannya. Karena tak mungkin memelihara semua, beberapa tinggal di rumah orangtua asuh dan sukarelawan ,” ujar Dessy Zahara Angelina Pane yang tinggal tak jauh dari rumah singgah AFJ.
Ya, Ina bersama A Odyssey Sanco, suaminya yang juga basist band indie Shaggy Dog juga menjadi adopter bagi lima anjing dan dua kucing yang ada di rumah singgah memang pencinta satwa. Karena itu, tak hanya kompak membagi kasih sayang, keduanya selalu dikelilingi hewan peliharaannya. Bahkan ketika hewan peliharaannya sakit pun, mereka berdua dengan senang hati merawat hingga sembuh.
“Pokoknya selalu ada kucing diantara kita karena kami tidak bisa pergi bersama. Salah satu harus tinggal di rumah untuk menjaga mereka. Makanya kami hampir tidak pernah pergi bersama. Kalau mereka sakit bisa repot sampai lupa kalau punya suami,” imbuh bekas vokalis band punk ini tertawa.
Menurutnya, itu bentuk komitmen bersama kecintaannya pada satwa yang sudah tumbuh sejak belia. Ia terbiasa berinteraksi dengan anjing peliharaannya. Ditambah lagi dengan keputusannya menjadi seorang vegetarian sejak 17 tahun lalu. Ini tentu saja berdampak pada sikap dan pandangan hidupnya terhadap satwa.
“Saya mulai belajar banyak hal tentang satwa. Semua harus dipelajari dari jenis, habitat, perawatan, kesehatan hingga perilakunya. Saya banyak belajar dari buku, internet dan learning by doing . Apalagi sebelumnya juga mengenal banyak seniman yang karyanya mengkritik eksploitasi satwa,” imbuh perempuan yang pernah bekerja di Cemeti Art House ini.
Tapi, jangan salah jika aktivitasnya ini pada awalnya ditentang keluarga besarnya karena apa yang dijalaninya ini bertolakbelakang dengan disiplin ilmu yang dipelajarinya selama ini. “Awalnya ditentang, tapi mereka sekarang memahami apa yang saya perjuangkan. Meskipun kalau kumpul tidak pernah membicarakan urusan satwa,” imbuh anak kedua dari dua bersaudara ini yang juga alumnus jurusan Arsitektur Universitas Atmajaya Yogyakarta.(@aernee)

Komentar
Posting Komentar