Langsung ke konten utama

"Auman" Mak Engking di Lereng Ungaran

Udang saus tiram Mak Engking / Foto:@aernee
SEMARANG, BERITASEMARANG.COM- Begitu datang, mata pengunjung restoran waralaba Gubug makan Mang Engking yang berada di jalan Diponegoro No 249 Ungaran, Kabupaten Semarang akan disuguhi bangunan kuno berarsitektur Belanda yang disulap “kinclong”. Tapi  ini bisa “menipu”.


Saat memasuki ruangan, pengunjung merasa dibawa ke kampung dengan gubuk dan kolam gurame di bawahnya yang didesain asri berdinding bambu, atap dari daun nipah, sejenis jerami serta lantai kayu hasil perpaduan Sunda, Yogyakarta dan khas Bali yang menjadi ciri rumah makan Mak Engking.
“Ciri khas Mak Engking selalu mengusung lokalitas,” ujar Suwandi, Area Resto Manager Gubug Makan Mak Engking.

Sebagai pionir restoran spesial menu udang galah dan ikan gurami, Mak Engking menyediakan aneka masakan tradisional Indonesia seperti udang galah, gurame, kepiting, cumi, ayam dengan sambal khasnya yang dimasak dengan berbagai varian. “Menu favorit Udang bakar madu dengan rasa manis yang pas dari legit madunya, semriwing pedas dan gurih. Udangnya besar dan cerah karena masih segar.”

Bagi penggila seafood, nama Mak Engking pasti tak asing lagi. Di cabang keenam yang berlokasi di bangunan tua di tengah kota Ungaran, resto yang mengusung konsep "ndeso" tetap menyuguhkan citarasa tinggi.

Menu andalan lain, gurame cobek dengan bumbu ndeso. Hanya bawang merah diulek kasar, dengan sedikit jahe, kencur dan siraman jeruk sambel. Rasa unik aroma kencur dan jeruk ini yang membangkitkan selera. Apalagi ditambah dengan sayuran tumis kangkung, karedok, sayur asem, lalapan, tahu dan tempe goreng, plus sambal  terasi dadak.

Pengunjung juga bisa memilih udang saus tiram, udang saus padang, udang asam manis, gurame bakar, kepiting saus padang, kepiting saus tiram. Tidak perlu khawatir soal rasa karena makanan di semua cabang citarasanya sama karena selain bahan baku fresh, menu di resto ini dimasak dengan bumbu racikan special Mak Engking dari koki yang khusus didatangkan dari Sunda.

Kalau hidangan penutup, es cendolnya atau es kelapa muda langsung dari buahnya bisa menjadi pilihan selain teh dengan rasa sepet. Bicara harga, dijamin sepadan dengan yang anda nikmati.

Tidak hanya menyajikan hidangan menu makanan dengan resep orisinil warisan leluhur negeri Parahyangan bercitarasa tinggi, tapi juga panorama alam gunung Ungaran nan memikat.

***
“Selamat sore, selamat datang di Gubung Makan Mak Engking.” Sapaan dan senyum ramah ditujukan pada tamu yang datang. Tidak hanya makanan dengan cita rasa yang tinggi dan lezat. Keramahan juga menjadi salah satu standar yang mengedepankan mutu pelayanan, kepuasan setiap tamu-tamu serta suasana makan yang nyaman.

Mak Engking Ungaran adalah resoran franchise cabang Yogyakarta, Jakarta, Surabaya,  Bandung dan Bali. Resto yang menempati areal seluas 1,7 hektar ini terdiri dari beberapa paviliun yang bangunannya terbuat dari bambu yang bisa dipilih dengan kapasitas hampir 600 orang dengan fasilitas arena  main anak-anak dan parkir yang luas.
“Resto ini juga dilengkapi dengan kios Organik Mart yang menyediakan berbagai  bahan organik. Setiap pengunjung dapat membeli produk dari PT Sido Muncul, seperti beras dan sayuran organik, pupuk organik, dan bisa dua melihat harimau Sumatera koleksi kami,’’ jelas Suwandi.

Perpaduan modern dan old fashion menjadikan Mak Engking lebih dari sekadar tempat makan tapi juga leisure yang menyenangkan. Jadi, jangan heran ketika menyantap makanan diiringi alunan khas musik sunda, tiba-tiba terdengar auman dua harimau Sumatera. Siapa yang tidak tergiur? (@aernee)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Dieng, Negeri di Atas Awan

Dieng adalah salah satu destinasi unik dan menarik di Jawa Tengah, di kawasan Dieng Platheu ini anda dapat mengunjungi berbagai tempat wisata seperti Telaga Warna, Telaga Pengilon, Goa Semar-Sumur-Jaran dan Penganten, Museum Kailasa (Tempat peninggalan Purbakala), Kawah Sikidang, Candi Bima, Candi Gatotkaca, Kompleks Candi Arjuna, Sumur Jalatunda, Kawah Sileri dan masih banyak lagi lainnya selain dapat menikmati lanscape telaga warna dari Puncak Bukit Batu dan Bukit Sidengkeng. Sunrise ditempat ini pun sangat indah tidak kalah kelindahannya dengan sunrise di tempat lain. Anda dapat melihat Golden Sunrise dengan latar belakang Gunung Sindoro, Gunung Merapi. Gunung Merbabu, dan Gunung Wilis dari atas awan di puncak Gunung Sikunir, Gunung Pakuwaja dan Gunung Prau. Selain keindahan alam dan budaya yang dimiliki, Dieng juga memiliki mitos menarik yang masih ada hingga saat ini yaitu Mitos Anak Berrambut Gimbal/Gembel Titisan Kaladete yang hanya bisa kembali tumbuh normal jika sudah di ...

Belajar dari Tjokroaminoto

  Darah yang terpercik di antara hamparan kapas menyiratkan penderitaan rakyat pada saat babak baru Hindia Belanda selepas era tanam paksa di akhir tahun 1800. Kondisi itu berbanding terbalik dengan pemuda bangsawan, Oemar Said Tjokroaminoto (Tjokro).  Dia hidup nyaman. dengan tubuh berbalut beskap dan kain sarung  batik. Tidak seperti kebanyakan rakyat Indonesia. Kemiskinan, kebodohan   karena tak mengenyam pendidikan dan kesenjangan sosial inilah yang membuat hati Tjokro, sosok rendah hati, peduli dan hormat dengan siapapun berkobar untuk perubahan melalui Sarekat Islam (SI). Organisasi yang dibentuk untuk meningkatkan harkat dan martabat rakyat Indonesia. Ya, hampir semua adegan tergambar apik dalam “Guru Bangsa: Tjokroaminoto”. Film drama biopik besutan sutradara Garin Nugroho yang dirilis 9 April lalu, mengisahkan tokoh sejarah Indonesia bernama HOS Tjokroaminoto. Film ini menitikberatkan kehidupan dan perjuangan Tjokro. Film berjalan dengan mengi...

Pertemuan Mesra di Gang Baru

Pedagang di Pasar Gang Baru. Foto:@aernee SEMARANG, BERITASEMARANG.COM- Tak hanya tawar menawar barang, celoteh sendau gurau mewarnai suasana pagi di gang sempit yang penuh sesak dengan dagangan dan pembeli. Keramaian itu memang biasa bisa di temui di Gang Baru pada pagi hari. Di gang sempit inilah pasar tiban Gang Baru kawasan Pecinan Semarang selalu ramai di kunjungi pembeli. Tidak hanya warga Pecinan tetapi juga masyarakat dan pedagang eceran dari wilayah Semarang lainnya. Ya, siapa yang tak kenal Pasar Gang Baru, p asar tradisional ini terletak di kawasan Pecinan, dimana keberadaannya sudah dimulai sejak awal pembentukan kawasan Pecinan. Pasar Gang Baru tidak menempati ruang khusus atau bangunan untuk pasar, tetapi menempati jalan (gang) dan ruang-ruang hunian di sepanjang jalan Gang Baru. Nama Gang Baru, dilekatkan sebagai identitas atas sebuah jalan yang baru terbentuk pada masa itu. Pasar ini digelar ditengah jalan di antara rumah-rumah penduduk, hingga tidak d...