Langsung ke konten utama

Cukup mulai dari koinmu

foto : 2-clicks-coins.com
SEMARANG, BERITASEMARANG.COM- Jangan meremehkan uang seratus rupiah, karena koinmu bisa membantu anak usia sekolah yang kurang mampu mengenyam pendidikan kembali.

Setidaknya ini sudah dibuktikan 20 lebih anak muda yang tergabung dalam komunitas Semarang Coin A Chance ! (SCAC), sebuah gerakan sosial yang mengajak siapa saja dan para netter  seperti blogger, facebooker bahkan yang aktif "bercuit" di twitter untuk mengumpulkan recehan atau uang logam yang dimiliki.

Uang yang biasanya bertumpuk dan mungkin jarang digunakan itu kemudian dikumpulkan dan ditukar dengan sebuah kesempatan untuk membantu biaya sekolah bagi anak putus sekolah.
“Masyarakat juga bebas berpartisipasi. Kami mengajak semua orang memanfaatkan kembali uang receh untuk berbagi,” ujar Fabiola Chrisma Kirana, koordinator regional Semarang Coins a Chance!

Caranya, dengan menggelar berbagai kegiatan voluntari yang fokus pada pengumpulan uang dari para coin dropper, coiners atau dari dropzone (lokasi Stoples CAC yang dapat digunakan sebagai tempat pengumpulan koin).
“Coin Collecting Day (CCD) menjadi agenda rutin karena kegiatan ini menjadi ajang sharing tentang gerakan Coin A Chance,  pengumpulan dan penghitungan koin-koin yang nantinya di sumbangkan secara perorangan, kelompok atau yang telah dikumpulkan.”

Semarang Coin A Chance! digagas Jarir Juwaini dan Fabiola sebagai fasilitator penghimpun. Mereka mengorganisir para voluntir hingga CAC regional Semarang terbentuk 22 Juni 2011 lalu yang ditandai dengan menggelar Coin Collecting Day ( CCD ), dropping beasiswa (penyaluran beasiswa terhadap adik asuh), picnic coin (kegiatan liburan bersama adik asuh), survey adik asuh untuk menambah jumlah adik asuh, dan sounding komunitas (kegiatan sosialisasi komunitas).
 “Semua kegiatan disebar di media sosial dan blog.Awalnya berhasil mengumpulkan koin sebesar Rp 500 ribu, tapi perkembangannya bisa dua kali lipat lebih. Bahkan juga mendapat uang kertas dengan nilai besar dan mata uang asing  ”imbuh cewek yang awalnya tergabung di CAC Yogjakarta.

Fabiola mengakui gerakan ini tidak semudah memasukan koin dalam celengan toples yang disediakan karena butuh kesadaran tiap individu untuk berbagi. Bisa jadi karena belum dikenal masyarakat, apalagi sebagian besar voluntir itu mahasiswa dari luar kota dan mempunyai kesibukan masing-masing.
“Sebagain besar lebih suka menjadi droper coins ketimbang aktif sebagai coiner yang harus bertanggung jawab menggerakkan sekitarnya untuk mengumpulkan koin. Misalnya, di kampus meletakkan stoples khusus di salah satu sudut,  lalu menyebarkan pemberitahuan mengenai Coin A Chance! “

Dyah Ayu Permatasari, divisi drop zone menyebutkan dalam menjalankan gerakannya, Semarang Coin A Chance! Juga bekerjasama dengan sejumlah pihak yang bersedia menjadi dropzone (lokasi untuk celengan Coin a Chance!.
 “Saat ini punya 15 Dropze koin yang tersebar di kampus, sekolah, kantor, warung makan, CoffeeShop, atau di rumah coiner. Termasuk di butikku juga,” lanjut pemilik butik Stoic Shop.

Tak hanya itu, para voluntir ini juga menggelar piknik koin di akhir semester untuk adik asuh penerima beasiswa pendidikan.  “Kami Outbond agar  saling mengenal satu sama lain dan menjalin keakraban antara adik asuh dan kakak asuh,” timpal Ayu Dwi Nurani, anggota lainnya.

Adik asuh dari tingkat SD, SMP, maupun SMA  merupakan hasil seleksi ketat dari survey dan rekomendasi dari beberapa sekolah, wawancara terhadap siswa, orang tua, dan kunjungan ke rumah.

Ayu menambahkan, Hal ini dilakukan untuk mengetahui secara langsung semangat belajar adik asuh, dukungan orang tua terhadap pendidikan anaknya, dan memastikan kondisi keluarga calon penerima beasiswa.
Semarang Coin A Chance ini merupakan lanjutan sebuah gerakan sosial yang digagas sejak 2008 lalu di Jakarta. Selain semarang, Gerakan ini juga sudah dilanjutkan di enam kota besar di Indonesia seperti bandung, Surabaya, Bali, malang, Yogyakarta, palu serta Australia dan Eropa.

 “Tujuan meningkatkan kualitas pendidikan di Kota Semarang dengan memberikan beasiswa kepada anak usia sekolah yang kurang mampu. Caranya  dengan mengumpulkan koin-koin yang tidak terpakai yang diubah menjadi kesempatan agar mereka tetap dapat sekolah,” tandas Fabiola.

Jadi, siapapun bisa menukar setumpuk ‘recehan’ atau uang logam yang mungkin saja tidak terpakai dengan kesempatan anak-anak yang kurang mampu melanjutkan sekolah. (@aernee)

Komentar