Langsung ke konten utama

Filosofi Sungai Dewi Liesnoor

Normalisasi sungai di Semarang / Foto: lensaindonesia.com
SEMARANG, BERITASEMARANG.COM- Hampir seperempat abad mendalami seluk beluk sungai dan permasalahannya membuat kehidupan Dewi Liesnoor Setyowati begitu menyatu dengan lingkungan dan alam. Meski kesehariannya disibukkan dengan aktivitasnya sebagai pengajar, peneliti dan guru besar di kampus konservasi UNNES.

Sepulang kerja pun, ia masih ‘’asyik’’ di depan komputer dan kadang terbangun ketika dini hari untuk menyelesaikan pekerjaan. Tapi, perempuan kalem ini tetap menajalani hidupnya dengan low profile. “Saya menjalani hidup dengan mengalir saja,”ujar anak pertama dari empat bersaudara ini.

Ya, mengalir bak air sungai yang menjadi objek penelitiannya selama ini dan menjaga keseimbangan alirannya agar tetap selaras dari hulu ke hilir. Filosofi ‘’sungai’’ itu pula yang digunakan perempuan berjilbab ini untuk menyelaraskan antara kehidupan professionalnya, lingkungan sekitar dan keluarga.
Rahasinya? “Kalau di rumah jabatan dan status professor tidak berlaku. Saya tetap seorang ibu rumah tangga. Meskipun saya sempat terpisah lama dan jauh dari suami,”imbuh istri Muhammad Amin (52), Dosen Universitas Lampung yang tengah menyelesaikan program Doktoralnya di UGM.

Di lingkungan tempat tinggalnya, ibu dua anak ini juga menggerakkan masyarakat untuk bersahabat dengan alam. Menurutnya, masyarakat harus belajar mengenal dan perduli dengan lingkungan meskipun hanya dengan cara yang sederhana. Misalnya, dengan mengajak warga menggiatkan penanaman pohon, menyebar bibit tanaman, membuat tanaman percontohan, biopori, resapan air, demplot tanaman hingga penyuluhan pentingnya menjaga lingkungan ke masyarakat. Tak sekadar omong kosong, upaya itu dimulai dari dalam rumahnya sendiri meski dengan lahan yang terbatas.
“Saya menanam berbagai macam tanaman buah, membuat lubang biopori dan rainharvesting untuk menyerap air hujan di rumah.”

Tapi di sela kesibukan yang selalu menyita kesehariannya, ia tetap meluangkan waktu bersama keluarga dan ‘’berdekatan’’ dengan alam. ”Selain hobi membuat kue, saya punya kebiasaan jalan-jalan atau tracking dengan suami. Hanya sekitar satu hingga dua jam, tapi itu sudah cukup,” ungkap nenek satu cucu ini tersenyum.(@aernee)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Dieng, Negeri di Atas Awan

Dieng adalah salah satu destinasi unik dan menarik di Jawa Tengah, di kawasan Dieng Platheu ini anda dapat mengunjungi berbagai tempat wisata seperti Telaga Warna, Telaga Pengilon, Goa Semar-Sumur-Jaran dan Penganten, Museum Kailasa (Tempat peninggalan Purbakala), Kawah Sikidang, Candi Bima, Candi Gatotkaca, Kompleks Candi Arjuna, Sumur Jalatunda, Kawah Sileri dan masih banyak lagi lainnya selain dapat menikmati lanscape telaga warna dari Puncak Bukit Batu dan Bukit Sidengkeng. Sunrise ditempat ini pun sangat indah tidak kalah kelindahannya dengan sunrise di tempat lain. Anda dapat melihat Golden Sunrise dengan latar belakang Gunung Sindoro, Gunung Merapi. Gunung Merbabu, dan Gunung Wilis dari atas awan di puncak Gunung Sikunir, Gunung Pakuwaja dan Gunung Prau. Selain keindahan alam dan budaya yang dimiliki, Dieng juga memiliki mitos menarik yang masih ada hingga saat ini yaitu Mitos Anak Berrambut Gimbal/Gembel Titisan Kaladete yang hanya bisa kembali tumbuh normal jika sudah di ...

Belajar dari Tjokroaminoto

  Darah yang terpercik di antara hamparan kapas menyiratkan penderitaan rakyat pada saat babak baru Hindia Belanda selepas era tanam paksa di akhir tahun 1800. Kondisi itu berbanding terbalik dengan pemuda bangsawan, Oemar Said Tjokroaminoto (Tjokro).  Dia hidup nyaman. dengan tubuh berbalut beskap dan kain sarung  batik. Tidak seperti kebanyakan rakyat Indonesia. Kemiskinan, kebodohan   karena tak mengenyam pendidikan dan kesenjangan sosial inilah yang membuat hati Tjokro, sosok rendah hati, peduli dan hormat dengan siapapun berkobar untuk perubahan melalui Sarekat Islam (SI). Organisasi yang dibentuk untuk meningkatkan harkat dan martabat rakyat Indonesia. Ya, hampir semua adegan tergambar apik dalam “Guru Bangsa: Tjokroaminoto”. Film drama biopik besutan sutradara Garin Nugroho yang dirilis 9 April lalu, mengisahkan tokoh sejarah Indonesia bernama HOS Tjokroaminoto. Film ini menitikberatkan kehidupan dan perjuangan Tjokro. Film berjalan dengan mengi...

Pertemuan Mesra di Gang Baru

Pedagang di Pasar Gang Baru. Foto:@aernee SEMARANG, BERITASEMARANG.COM- Tak hanya tawar menawar barang, celoteh sendau gurau mewarnai suasana pagi di gang sempit yang penuh sesak dengan dagangan dan pembeli. Keramaian itu memang biasa bisa di temui di Gang Baru pada pagi hari. Di gang sempit inilah pasar tiban Gang Baru kawasan Pecinan Semarang selalu ramai di kunjungi pembeli. Tidak hanya warga Pecinan tetapi juga masyarakat dan pedagang eceran dari wilayah Semarang lainnya. Ya, siapa yang tak kenal Pasar Gang Baru, p asar tradisional ini terletak di kawasan Pecinan, dimana keberadaannya sudah dimulai sejak awal pembentukan kawasan Pecinan. Pasar Gang Baru tidak menempati ruang khusus atau bangunan untuk pasar, tetapi menempati jalan (gang) dan ruang-ruang hunian di sepanjang jalan Gang Baru. Nama Gang Baru, dilekatkan sebagai identitas atas sebuah jalan yang baru terbentuk pada masa itu. Pasar ini digelar ditengah jalan di antara rumah-rumah penduduk, hingga tidak d...