![]() |
| Normalisasi sungai di Semarang / Foto: lensaindonesia.com |
Sepulang kerja pun, ia masih ‘’asyik’’ di depan komputer dan kadang terbangun ketika dini hari untuk menyelesaikan pekerjaan. Tapi, perempuan kalem ini tetap menajalani hidupnya dengan low profile. “Saya menjalani hidup dengan mengalir saja,”ujar anak pertama dari empat bersaudara ini.
Ya, mengalir bak air sungai yang menjadi objek penelitiannya selama ini dan menjaga keseimbangan alirannya agar tetap selaras dari hulu ke hilir. Filosofi ‘’sungai’’ itu pula yang digunakan perempuan berjilbab ini untuk menyelaraskan antara kehidupan professionalnya, lingkungan sekitar dan keluarga.
Rahasinya? “Kalau di rumah jabatan dan status professor tidak berlaku. Saya tetap seorang ibu rumah tangga. Meskipun saya sempat terpisah lama dan jauh dari suami,”imbuh istri Muhammad Amin (52), Dosen Universitas Lampung yang tengah menyelesaikan program Doktoralnya di UGM.
Di lingkungan tempat tinggalnya, ibu dua anak ini juga menggerakkan masyarakat untuk bersahabat dengan alam. Menurutnya, masyarakat harus belajar mengenal dan perduli dengan lingkungan meskipun hanya dengan cara yang sederhana. Misalnya, dengan mengajak warga menggiatkan penanaman pohon, menyebar bibit tanaman, membuat tanaman percontohan, biopori, resapan air, demplot tanaman hingga penyuluhan pentingnya menjaga lingkungan ke masyarakat. Tak sekadar omong kosong, upaya itu dimulai dari dalam rumahnya sendiri meski dengan lahan yang terbatas.
“Saya menanam berbagai macam tanaman buah, membuat lubang biopori dan rainharvesting untuk menyerap air hujan di rumah.”
Tapi di sela kesibukan yang selalu menyita kesehariannya, ia tetap meluangkan waktu bersama keluarga dan ‘’berdekatan’’ dengan alam. ”Selain hobi membuat kue, saya punya kebiasaan jalan-jalan atau tracking dengan suami. Hanya sekitar satu hingga dua jam, tapi itu sudah cukup,” ungkap nenek satu cucu ini tersenyum.(@aernee)

Komentar
Posting Komentar