Langsung ke konten utama

Hentikan Proyek Pembangkit di Jawa



Foto:energitoday.com

SEMARANG, BERITASEMARANG.COM- Council International of Large Electric System (CIRGE) Indonesia mendesak pemerintah menghentikan proyek pembangunan pembangkit listrik di Jawa.


Rendahnya daya dukung lingkungan menjadi salah satu alasan yang krusial, sehingga pembangunan itu sebaiknya di prioritaskan di luar Jawa, di daerah terpencil, dan di wilayah yang banyak sumber energinya.

"Untuk mencari lahan yang akan dipergunakan  menara tapak saja sudah sulit.  Dewan Energi Nasional pernah menyatakan  pembangkit listrik ke depan harus dibangun di luar Jawa, di daerah yang tertinggal,” kata Ketua Council International of Large Electric System (CIRGE) Indonesia, Herman Darnel Ibrahim, dalam diskusi Minggu (22/3/2015).


Menurut dia, kebutuhan listrik ini tidak terlepas dari kebutuhan industri, di luar konsumsi rumah tangga. Karena itu, pemerintah seharusnya menghentikan pembangunan pabrik di Jawa. Idealnya, idealnya Jawa menjadi kota jasa, kota pendidikan, dan kota teknologi informasi sehingga kebutuhan listrik tidak melonjak.
Konsumsi listrik penduduk di Jawa saat ini ada sekitar 60 persen dari populasi, dengan ketersediaan energi 81 persen.  Artinya, pasokan energi tercukupi dengan asumsi konsumsi 1.200 KWh per kapita.

Berbeda dengan persebaran pendudukIndonesia di luar Jawa sebesar 40 persen yang hanya memiliki ketersediaan energi listrik  19 persen, atau konsumsinya hanya sekitar 300 KWh per kapita.

Herman menambahkan, dengan asumsi kebutuhan listrik hingga 2019 tidak akan mencapai 35 ribu megawatt (MW). Sebanyak 20 juta rumah tangga yang belum teraliri listrik paling tidak hanya membutuhkan 4.000 MW, ditambah kebutuhan di luar industri dengan kebutuhan sampai lima tahun mendatang sebanyak 15 ribu MW.

“Energi sebesar 20 ribu akhirnya digunakan Untuk industri. Ini yang harus dipikirkan pemerinta, pabrik apa yang harus ada. Kalau bangun di Jawa, tanah sudah sempit. PLTU Jateng saja 3 tahun,” jelas Herman.

Pembangunan pembangkit di luar Jawa akan semakin dibutuhkan mengingat pemerintah memiliki agenda pembangunan 14 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di luar Jawa, 1 di Jawa, 14 kawasan industri serta permukiman. (@aernee)

sumber : kompas.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Dieng, Negeri di Atas Awan

Dieng adalah salah satu destinasi unik dan menarik di Jawa Tengah, di kawasan Dieng Platheu ini anda dapat mengunjungi berbagai tempat wisata seperti Telaga Warna, Telaga Pengilon, Goa Semar-Sumur-Jaran dan Penganten, Museum Kailasa (Tempat peninggalan Purbakala), Kawah Sikidang, Candi Bima, Candi Gatotkaca, Kompleks Candi Arjuna, Sumur Jalatunda, Kawah Sileri dan masih banyak lagi lainnya selain dapat menikmati lanscape telaga warna dari Puncak Bukit Batu dan Bukit Sidengkeng. Sunrise ditempat ini pun sangat indah tidak kalah kelindahannya dengan sunrise di tempat lain. Anda dapat melihat Golden Sunrise dengan latar belakang Gunung Sindoro, Gunung Merapi. Gunung Merbabu, dan Gunung Wilis dari atas awan di puncak Gunung Sikunir, Gunung Pakuwaja dan Gunung Prau. Selain keindahan alam dan budaya yang dimiliki, Dieng juga memiliki mitos menarik yang masih ada hingga saat ini yaitu Mitos Anak Berrambut Gimbal/Gembel Titisan Kaladete yang hanya bisa kembali tumbuh normal jika sudah di ...

Belajar dari Tjokroaminoto

  Darah yang terpercik di antara hamparan kapas menyiratkan penderitaan rakyat pada saat babak baru Hindia Belanda selepas era tanam paksa di akhir tahun 1800. Kondisi itu berbanding terbalik dengan pemuda bangsawan, Oemar Said Tjokroaminoto (Tjokro).  Dia hidup nyaman. dengan tubuh berbalut beskap dan kain sarung  batik. Tidak seperti kebanyakan rakyat Indonesia. Kemiskinan, kebodohan   karena tak mengenyam pendidikan dan kesenjangan sosial inilah yang membuat hati Tjokro, sosok rendah hati, peduli dan hormat dengan siapapun berkobar untuk perubahan melalui Sarekat Islam (SI). Organisasi yang dibentuk untuk meningkatkan harkat dan martabat rakyat Indonesia. Ya, hampir semua adegan tergambar apik dalam “Guru Bangsa: Tjokroaminoto”. Film drama biopik besutan sutradara Garin Nugroho yang dirilis 9 April lalu, mengisahkan tokoh sejarah Indonesia bernama HOS Tjokroaminoto. Film ini menitikberatkan kehidupan dan perjuangan Tjokro. Film berjalan dengan mengi...

Pertemuan Mesra di Gang Baru

Pedagang di Pasar Gang Baru. Foto:@aernee SEMARANG, BERITASEMARANG.COM- Tak hanya tawar menawar barang, celoteh sendau gurau mewarnai suasana pagi di gang sempit yang penuh sesak dengan dagangan dan pembeli. Keramaian itu memang biasa bisa di temui di Gang Baru pada pagi hari. Di gang sempit inilah pasar tiban Gang Baru kawasan Pecinan Semarang selalu ramai di kunjungi pembeli. Tidak hanya warga Pecinan tetapi juga masyarakat dan pedagang eceran dari wilayah Semarang lainnya. Ya, siapa yang tak kenal Pasar Gang Baru, p asar tradisional ini terletak di kawasan Pecinan, dimana keberadaannya sudah dimulai sejak awal pembentukan kawasan Pecinan. Pasar Gang Baru tidak menempati ruang khusus atau bangunan untuk pasar, tetapi menempati jalan (gang) dan ruang-ruang hunian di sepanjang jalan Gang Baru. Nama Gang Baru, dilekatkan sebagai identitas atas sebuah jalan yang baru terbentuk pada masa itu. Pasar ini digelar ditengah jalan di antara rumah-rumah penduduk, hingga tidak d...