Langsung ke konten utama

Generasi Digital?

digital generation. Foto : fourthsource.com

Beberapa waktu lalu saya mendapat undangan dari seorang teman lama untuk ngopi. Kami tak bersua sekitar setahun terakhir, meski sesekali masih sering melempar komentar lewat jejaring sosial.

Tak memungkiri hanya dengan dunia maya hampir 70 persen komunikasi di lakukan dengan orang-orang di luar sana.

Bukan karena saya generasi digital seperti yang dikatakan Pak Hendry Subiakto, staf ahli Komeninfo ketika kami bertemu di sebuah acara di Semarang. Tetapi memang sejauh ini, kita seolah tidak bisa lepas dengan koneksi internet dan itu menjadi salah satu sarana untuk menggapai mereka.Keterbatasan waktu dan jarak sebenarnya menjadi alasan utama.

Sebenarnya, kalau  berbicara gadget jelas saja tidak ada habisnya. Dan ini juga yang menjadi salah satu obrolan menarik dengan kawan yang saya temui. Tapi bukan cerita menyenangkan,justru kekesalan-kekesalan yang terlontar.

Termasuk ketika dia bertemu koleganya (katanya) cantik yang menggenggam gawai canggihnya. Dengan sesekali membetulkan kacamata seperti seorang pemikir, perempuan itu bukannya menyimak pembicaraan rencana proyek yang tengah mereka garap tapi justru menikmati keasyikan tangannya menekan tombol-tombol keypad. Bahkan beberapa kali nampak tersenyum  dan menahan tawa.

“Kebangetan! seketika itu ekspektasiku terhadapnya buyar,” katanya mengulang gumamannya waktu itu.

Entahlah yang dimaksud buyar itu karena dia merasa kurang dihargai atau gadget bercasing merah itu lebih keren ketimbang teman saya yang berumur separoh abad lebih.

Pernah mengalami itu? Sepertinya setiap hari. Gawai canggih memang membuat saya dan anda (mungkin) merasa  lebih hidup. Maksudnya, dalam kesendirian pun bisa terbahak bahkan tersenyum simpul dengan manisnya hingga membuat orang lain yang melihat menyerngitkan dahi dan berkomentar, “gila” dan akhirnya memakluminya.

Gawai memang kadang bisa mengubah persepsi orang lain terhadap diri kita. Seperti dua hal tadi.
Bukankah repot kalau sudah begini?? Padahal itu bisa saja terjadi  karena tuntutan pekerjaan atau urusan lainnya. Bukan melulu spontanitas hingga tak menyadari ketika tangan memegang gadget itu kelayapan ke dunia maya tak ada habisnya.

Dan akhirnya asyik sendiri yang seringkali membuat kita semua melupakan teman, kolega, bahkan keluarga. Juga tak memedulikan orang lain di sekitar kita.

Emang setragis itu? saya rasa tidak. Apalagi Pak Hendry juga mengatakan kalau gawai justru menjadi sarana efektif untuk mengekspresikan kepedulian atau hal penting dan besar. Contohnya, seperti tweeps yang begitu gencarnya menyuarakan ketidak adilan atau protes di lini massanya. Atau seperti teman yang rela tidur jam dua pagi untuk ngetwit isu-isu aktual di negeri ini.Gawai bisa menjadi sarana social movement.

Lantas saya  dan anda masuk golongan yang mana? Kalau seperti yang disebut teman ngopi saya itu, mendingan buruan mematikan handphone untuk menikmati sekeliling :) (non)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Dieng, Negeri di Atas Awan

Dieng adalah salah satu destinasi unik dan menarik di Jawa Tengah, di kawasan Dieng Platheu ini anda dapat mengunjungi berbagai tempat wisata seperti Telaga Warna, Telaga Pengilon, Goa Semar-Sumur-Jaran dan Penganten, Museum Kailasa (Tempat peninggalan Purbakala), Kawah Sikidang, Candi Bima, Candi Gatotkaca, Kompleks Candi Arjuna, Sumur Jalatunda, Kawah Sileri dan masih banyak lagi lainnya selain dapat menikmati lanscape telaga warna dari Puncak Bukit Batu dan Bukit Sidengkeng. Sunrise ditempat ini pun sangat indah tidak kalah kelindahannya dengan sunrise di tempat lain. Anda dapat melihat Golden Sunrise dengan latar belakang Gunung Sindoro, Gunung Merapi. Gunung Merbabu, dan Gunung Wilis dari atas awan di puncak Gunung Sikunir, Gunung Pakuwaja dan Gunung Prau. Selain keindahan alam dan budaya yang dimiliki, Dieng juga memiliki mitos menarik yang masih ada hingga saat ini yaitu Mitos Anak Berrambut Gimbal/Gembel Titisan Kaladete yang hanya bisa kembali tumbuh normal jika sudah di ...

Belajar dari Tjokroaminoto

  Darah yang terpercik di antara hamparan kapas menyiratkan penderitaan rakyat pada saat babak baru Hindia Belanda selepas era tanam paksa di akhir tahun 1800. Kondisi itu berbanding terbalik dengan pemuda bangsawan, Oemar Said Tjokroaminoto (Tjokro).  Dia hidup nyaman. dengan tubuh berbalut beskap dan kain sarung  batik. Tidak seperti kebanyakan rakyat Indonesia. Kemiskinan, kebodohan   karena tak mengenyam pendidikan dan kesenjangan sosial inilah yang membuat hati Tjokro, sosok rendah hati, peduli dan hormat dengan siapapun berkobar untuk perubahan melalui Sarekat Islam (SI). Organisasi yang dibentuk untuk meningkatkan harkat dan martabat rakyat Indonesia. Ya, hampir semua adegan tergambar apik dalam “Guru Bangsa: Tjokroaminoto”. Film drama biopik besutan sutradara Garin Nugroho yang dirilis 9 April lalu, mengisahkan tokoh sejarah Indonesia bernama HOS Tjokroaminoto. Film ini menitikberatkan kehidupan dan perjuangan Tjokro. Film berjalan dengan mengi...

Pertemuan Mesra di Gang Baru

Pedagang di Pasar Gang Baru. Foto:@aernee SEMARANG, BERITASEMARANG.COM- Tak hanya tawar menawar barang, celoteh sendau gurau mewarnai suasana pagi di gang sempit yang penuh sesak dengan dagangan dan pembeli. Keramaian itu memang biasa bisa di temui di Gang Baru pada pagi hari. Di gang sempit inilah pasar tiban Gang Baru kawasan Pecinan Semarang selalu ramai di kunjungi pembeli. Tidak hanya warga Pecinan tetapi juga masyarakat dan pedagang eceran dari wilayah Semarang lainnya. Ya, siapa yang tak kenal Pasar Gang Baru, p asar tradisional ini terletak di kawasan Pecinan, dimana keberadaannya sudah dimulai sejak awal pembentukan kawasan Pecinan. Pasar Gang Baru tidak menempati ruang khusus atau bangunan untuk pasar, tetapi menempati jalan (gang) dan ruang-ruang hunian di sepanjang jalan Gang Baru. Nama Gang Baru, dilekatkan sebagai identitas atas sebuah jalan yang baru terbentuk pada masa itu. Pasar ini digelar ditengah jalan di antara rumah-rumah penduduk, hingga tidak d...