![]() |
| Populasi teripang terus menurun / mhs.blog.ui.ac.id |
Perempuan kelahiran Medan, 7 Oktober 1958 ini bahkan berhasil menggabungkan dan mengaplikasikan ilmu kelautan yang ditekuninya dengan disiplin ilmu lain untuk menghasilkan temuan yang berguna bagi masyarakat.
“Awalnya karena tidak diterima di kedokteran seperti kemauan ayah. Daftar keperawatan saat tes psikologi juga tidak lolos juga hingga akhirnya mengambil pilihan kedua di ilmu perikanan,” kenang anak seorang mantri terkenal asal di Pekanbaru ini.
Ilmu yang saat itu belum banyak dilirik. Namun, ketertarikan dengan ilmu yang ditekuni hampir tiga dekade ini semakin menjadi ketika mendalami bahan hayati khususnya biota laut di dasar laut. Delianis mulai fokus melakukan penelitian pada biota invertebrata yang jarang diminati para peneliti. Seperti bintang laut, bulu babi dan teripang. Perairan Karimunjawa, Kabupaten Jepara yang kaya akan biota laut menjadi fokus penelitiannya.
“Saya banyak belajar dari guru besar di ITB yang memberi motivasi untuk menggali banyak hal dari laut yang punya nilai ekonomis luar biasa tapi jarang dilirik seperti halnya teripang,” ujar jebolan Marine Science Programme, Universitas Arhus Denmark dan Sience Program Doktor Pasca Sarjana ITB.
Menurutnya pakar Kelautan Undip ini, masyarakat kawasan pantai sudah mengenal teripang sebagai bahan pangan. Teripang atau timun laut menjadi sumber peng¬hidupan bagi masyarakat Kari¬munjawa. Tapi, nelayan lokal lebih tertarik mengambil dan menjual pada penadah dari Jawa Timur dan Bali untuk ko¬moditas ekspor. Selain harga menggiurkan, permintaan untuk konsumsi sangat tinggi. Dari belasan spesies teripang, harga teripang pasir bisa mencapai Rp 1 juta per kilogram. Selain pengaruh perubahan iklim, biota laut dengan nama latin Ho¬lothu¬rians ini diekplorasi hingga populasinya terus menurun
.
“Waktu mahasiswa, teripang masih banyak ditemui di kedalaman satu meter. Sekarang harus menyelam di kedalaman 30 meter dan belum tentu me¬nemukan biota laut ini,” ujar dosen Jurusan Kelautan Fakultas Perikanan Ilmu Ke¬lautan (FPIK) Undip ini.
Tahun 1997, Delianis bekerjasama dengan Tim Kerja Biologi Ekologi Budi Daya FPIK Undip merintis pelestarian teripang dan intens meneliti ekologi, populasi, pemijahan, dan distibusi teripang. Awalnya riset untuk konservasi diaplikasikan lewat budidaya teripang di keramba apung. “Di Indonesia masih jarang budidaya teripang karena tidak mudah, terutama jenis teripang emas dan teripang pasir.”
Penelitian tentang teripang terus dikembangkan. Dari sinilah kemudian Delianis menemukan bahan makanan sehat ini juga berkhasiat bagi kesehatan. Dan mulai tahun 2006, tergerak untuk mengaplikasikan hasil penelitiannya ini.
Ketua Tim Penjaminan Mu¬tu Undip FPIK mengatakan, teripang yang disebut dengan istilah “gamat” itu mengandung protein tinggi, rendah kolesterol, glukosa, Docosahexaenoic acid (DHA) dan Omega-3 sehingga sangat baik dimanfaatkan untuk menjaga kesehatan tubuh.
“Teripang mengandung zat untuk penguat dan pelicin tulang untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan, seperti penyakit sendi, lupus, diabetes, dan obat luka ringan. Sangat baik untuk dikonsumsi. Jika di luar negeri seperti Malaysia, produk sejenis dipasarkan secara masal dalam bentuk cairan sari teripang. Saya butuh waktu setahun untuk meyakinkan kalau penelitian ini bisa dipakai hingga akhirnya membuat produk dalam bentuk kapsul.”
Selain teripang, Delianis juga membuktikan biota laut lainnya yang memiliki nilai ekonomis dan manfaat tinggi di bidang kesehatan yang belum banyak diketahui masyarakat, seperti bulu babi atau landak laut, rumput laut hingga spesies kerang-kerangan dan ekstrak bakteri molusca yang dapat diaplikasikan untuk gel antiseptik. Khasiat biota laut bahkan berpotensi sebagai obat antikanker.
Tahun 2009, di bawah bendera perusahaan PT Karunia Bahari, Delianis memproduksi suplemen dan kosmetik dari bahan biota laut hasil penelitiannya selama belasan tahun. Tak hanya Kapsul ‘’Gametri’’ berbahan dasar teripang, tapi juga ‘’Vitaly’’ dari telur landak laut, rumput laut untuk kosmetika, Cithosan dari cangkang sebagai bahan pengawet dan anti bakteri.
Memang, untuk sementara pasarnya masih terbatas skala home industri karena selain tak mudah meyakinkan produk lokal hasil penelitian pada masyarakat. Produk hasil laut masih belum familiar. “Kalau melakukan penelitian tanpa memperlihatkan hasil aplikasi rasanya belum tuntas sampai ke ujung. Meski hasilnya belum banyak dirasakan karena masyarakat masih berpikir produk dari luar lebih bagus.”
Lantas, dari mana ide menemukan subjek penelitian yang ‘’beda’’ dengan yang lain? Ini hasil analisisi dan intuisi. Menurutnya, idenya datang spontan dengan mencermati keseharian di sekitarnya, misalnya ikut menyelam dengan nelayan, mempelajari kebiasaan mereka dan mengkajinya secara ilmiah melalui uji laboratorium.
“Setiap ke lapangan suka melihat sisi lain yang tidak terpikirkan orang. Itu menariknya. Saya lihat nelayan mengkonsumsi telur landak laut ketika kedinginan. Bahkan penasaran melihat anak saya meneliti rumput laut untuk menurunkan kadar gula darah,” imbuh ibu satu anak yang juga memiliki lima anak asuh ini.
Delianis menambahkan, budidaya teripang bisa menjadi sektor investasi yang menjanjikan. Dan itu hanya satu dari sekian kekayaan biota laut yang ada di Indonesia yang bisa dimanfaatkan. Tidak hanya untuk pengembangan ilmu pengetahuan, tapi juga untuk kepentingan banyak hal.
“Tidak gampang mendapat pengakuan. Harapan, suatu saat masyarakat menghargai hasil penelitian bangsanya sendiri. Apalagi, penelitian yang sifatnya aplikatif tidak akan ada habisnya. Itu yang memacu saya untuk terus melakukan penelitian biota laut,” tandasnya.
***
Antara Keluarga dan Pekerjaan
Menghabiskan waktu di laboratorium untuk sebuah penelitian tak hanya menguras tenaga tapi juga waktu. Untuk kepentingan itu, Delianis Pringgenies bisa menghabiskan waktu seharian di laboratorium untuk sebuah pekerjaan yang dianggapnya ‘’sensitif’’ dan sulit. Tak hanya itu, ia pun harus rela meninggalkan keluarganya hingga waktu tertentu.
“Misalnya ketika akan melakukan proses ‘’pemijahan’’ teripang. Saya harus tinggal di Karimunjawa hingga berhari-hari, tanpa sinyal, listrik terbatas. Setiap hari ditunggu tapi tidak bertelur, padahal sudah diajak komunikasi, dikasih makan pelet, ganti kulit. Mengamati fase-fasenya setiap saat dan menunggu itu bukan hal yang mudah,” ceritanya sambil tersenyum.
Ya, penelitian memang membutuh kesabaran dan ketelitian perempuan berambut pendek itu, apalagi yang dihadapi mahluk hidup yang berada di laut. Namun, itu tak membuat Koordinator Masyarakat Moluska Indonesia untuk wilayah Jawa Tengah ‘’mati gaya’’ dan punya banyak cara menikmati laut di sela-sela pekerjaannya.
“Kehidupan di laut itu mengasyikkan. Bahkan keramba apung bisa menjadi tempat untuk membaca dan menulis yang asyik. Tempatnya tenang. Peneliti itu tidak pernah punya dana khusus untuk jalan-jalan jadi melakukan penelitian sambil refreshing,” imbuh peneliti internasional yang pernah mendapat dana sponsor hingga 10 tahun dari lembaga penelitian DANIDA Denmark.
Delianis bisa menjadi sosok yang berbeda dalam mengatur waktunya. Kuncinya, tak menyatukan pekerjaan dan urusan domestik. Jadi wajar, ketika berkumpul dengan keluarga, tak ada pembicaraan tentang pekerjaan.
“Saya harus profesional dan independen, tapi di rumah saya seorang ibu dan harus bisa membedakan posisi itu. Suami tidak pernah ikut campur dalam urusan pekerjaan. Bentuk dukungan lebih pada sikap dan kepercayaan. Jadi tidak merecoki satu sama lain.”
Disiplin menurutnya menjadi salah satu kunci keberhasilan. Ini dibuktikan ketika memilih merantau. Pun di pekerjaan yang ditekuninya selama ini. “Waktu itu tetap ‘’gaul’’, diajak dan ikut nonton film hingga larut malam dengan teman-teman. Tapi pulangnya saya tidak tidur sampai pagi karena belajar. Jadi meski bandel nilai saya tetap bagus,” ungkap sambil tertawa.
Ya, kombinasi karakter Delianis keras dan lembut tak lepas dari pendidikan keluarganya di masa lalu. Dan ini pula yang sebenarnya mengharmoniskan keluarga dan keilmuwannya.(@aernee)

Komentar
Posting Komentar