![]() |
| Hamparan sawah dan pedesaan / Foto:lensaudara@blogspot.com |
Ketika kaki-kaki kecil gadis mungil berseragam putih merah menyusuri pematang di sela-sela hamparan hijau sawah desa. Kicau burung-burung bernyanyi dan bebas menari di atas bulir padi. Menyaksikan Pak tani meneguk kesegaran air dalam kendi dan makan siang dalam rantang di gubug dengan ditemani sang istri. Semilir angin mengiringi matahari yang selalu menjadi sahabat petani.
Pemandangan menyejukkan itu, "surga" itu selalu dijumpai hingga gadis itu berubah wujud menjadi remaja berbaju putih biru
Tapi... panas tiba-tiba menyengat ketika sawah yang di hiasi kerbau, burung, gubug, itu tak ada lagi.
Lantas lamunan itu juga begitu cepat berlari mengilang ketika melintas dan bertatapan dengan truk pengangkut tanah yang wira wiri, pagar dari besi-besi beton yang tertancap, alat-alat berat, dan tanah yang dirampas dari tempatnya.
Surga itu berubah menjadi neraka ketika keteduhan alam tak lagi bisa jumawa. Semua karena manusia yang mulai hilang ingatan, lupa dan tak tahu seperti apa "surga" itu sebenarnya.
Entah karena "surga-surga" lain terus tercipta di atas hamparan hijau. "Surga" yang menurut gadis kecil berseragam putih merah waktu itu sebenarnya adalah "neraka"
Warna hijau,itu berubah menjadi merah, coklat, gersang dan puanaaass...Dan semua tinggal ingatan.(@aernee)

Komentar
Posting Komentar