
Foto : 365til30.com
Saya mengenal Anindya Kusuma Putri ketika mewawancarai sepak terjang dan prestasinya di luar kampus. Anin dianggap mewakili remaja masa kini yang energetik dan patut menjadi contoh.Meski Waktu itu, follower akun instagram perempuan berambut panjang masih terbatas follower lokal.
Setelah itu bisa dibilang saya tidak pernah berkomunikasi lagi dengan perempuan cergas ini.
Hingga 18 Februari 2015 lalu (tepatnya sepekan sebelum pemilihan Putri Indonesia 2015), saya menerima email berisi profile release Anindya Kusuma Putri yang berisi segudang prestasi dari Gadis Sampul, pertukaran pelajar, presiden AIESEC, atlet bulutangkis & basket, presenter Jejak Petualang, pemeran pendukung film layar lebar, dan kisah Anin lainnya.
Sepekan kemudian, mahkota dari emas putih itu menghiasi kepalanya. Senyumnya mengembang hingga di akhir penobatannya sebagai putri.
Tapi, baru empat hari menikmati julukan Putri Indonesia, Anin harus berurusan dengan followernya yang "mendadak" melonjak.
Apa daya, itu berkah sekaligus peringatan baginya bahwa kondisinya telah berbeda.
Gegaranya, status "im so vietnam today" plus foto sensitif Anin dengan tshirt warna menantang ngejreng merah bara bergambar palu arit berwarna kuning. Simbol PKI, katanya. Partai yang sejak masa Orde Baru hingga kini dilarang pemerintah untuk beredar seenaknya. Dalam bentuk apapun dan apalah.
Anin kemudian harus sibuk klarifikasi. Termasuk nongol di stasiun televisi berita."Awalnya kaget karena itu foto lama. Tujuan mengenakan bukan untuk memperkenalkan atau memperkenalkan arti logo, tapi bagaimana belajar mengetahui dan menghormati budaya dari negara lain."
"Im not talking about the logo, tapi im talking about vietnam." Sebuah jawaban yang diplomatis, manis, dan tepat sasaran. Suasana tenang dan Anin melenggang dengan nyaman.
Urusan baju ini mengingatkan saya pada Matthias, trainer asal Swiss dalam sebuah workshop jurnalis yang saya ikuti beberapa tahun lalu di Yogyakarta. Tepatnya obrolan dengan Matthias tentang makna "apa yang kamu pakai".
Peristiwa itu terjadi setelah kami melakukan relaksasi di Candi Prambanan, sebagai salah satu kegiatan dalam program workshop.
Perbedaan suhu memang diakui sangat mengganggunya. Terlebih dengan cuaca panas membuat tubuhnya terus mengeluarkan keringat hingga membasahi kemeja polos warna abu-abu gelap yang dipakainya.
Matthias memutuskan untuk mencari tshirt pengganti kemeja dan meminta saya untuk menemani berkeliling di sekitar toko-toko sovenir. Kami berputar satu kali...dua kali..dan belum juga menemukan tshirt yang di mauinya. Yang seperti apa tepatnya saya juga tidak tahu.
Saya hanya mencoba memancing dengan menawarkan tshirt yang dijual para pedagang. Mulai yang bergambar wayang, kesenian tradisional, ya apalah yang terlihat khas dari Prambanan.
Tapi, Matthias hanya menggeleng dan akhirnya memilih menyerah. Bahkan dia kemudian memutuskan untuk tetap memakai baju yang basah dengan keringat itu.
Penasaran...
Keingintahuan saya terjawab setelah Matthias menjelaskan alasan lebih memilih baju basah ketimbang tshirt yang saya tawarkan.
"Pakaian itu bukan hal yang sepele karena ketika saya memilih pakaian, maka pakaian itu harus bisa memberikan aura positif bagi jiwa dan hati saya, dan itu bisa terpancar ke luar. Jadi kalau saya mengenakan pakaian tidak bisa sembarangan."
Menurut dia, keseimbangan body and soul itu sangat penting untuk kehidupan kita. Jadi, segala sesuatu harus dipikirkan. Contoh kecilnya ya ketika kita memilih apa yang ingin kita kenakan.
Aaah, bisa saja Matthias mengatakan hal itu karena profesinya sebagai terapis.
Tapi ketika saya memilih ingin mengenakan tshirt merah membara dengan variasi warna kuning itu. Bisa jadi itu muncul karena dorongan bawah sadar saya sedang mengajak saya untuk "memberontak" dan "liar".
Setelah dipikir-pikir, ternyata bukan hanya alam bawah sadar saya, tetapi saya benar-benar sadar...(@anon)
Komentar
Posting Komentar