Langsung ke konten utama

Krisis Air di Semarang

Sedimentasi di Sungan Garang / Foto:@aernee
Musibah banjir bandang di Sungai Garang (Kali Garang) di tahun 1990 begitu membekas dalam diri Dewi Liesnoor Setyowati. Tak hanya menjadi korban bencana banjir yang menewaskan 40an orang, tapi peristiwa kala itu menginspirasi perempuan asal Yogyakarta untuk mendedikasikan ilmu yang dipelajarinya kepada masyarakat.
“Kali Garang meluap dan menenggelamkan rumah kost di daerah Sampangan yang saya sewa bersama dua rekan. Banjir terjadi karena debit air sungai meningkat sedangkan kapasitas sungai mengecil,” kenang dosen Kartografi UNNES yang saat itu tengah mendalami ilmu Hidrologi di Magister Sains  Geografi Fisik UGM.

Kenapa itu bisa terjadi? Dari situlah Dewi mulai tertarik melakukan penelitian tentang Daerah Aliran Sungai (DAS). Dalam penelitiannya, Ketua Program Studi Pendidikan IPS  Program Pasca sarjana Unnes yang juga mengampu mata kuliah Hidrologi dan pengelolaan DAS itu fokus menekuni keterkaitan kondisi fisik sungai dengan perubahan alam karena faktor lingkungan dan manusia.

Tak hanya DAS Kaligarang tapi juga sejumlah DAS di Semarang dan Jateng seperti Das Kreo, DAS Babon, Sungai Bringin, Sungai Silandak, Sungai Blorong, Sungai Bodri dan DAS Pemali Jratun.
Pemasangan sejumlah alat pemantau tinggi muka air pun dilakukan perempuan bertubuh mungil  di sejumlah titik dengan resiko yang cukup besar. Tak hanya ketelitian mencari lokasi yang tepat tapi juga ancaman kehilangan alat pemantau yang sering dicuri warga atau hanyut terbawa air hujan.
“Tidak hanya memasang alat di sungai, tegalan dan lapangan golf untuk menghitung debit air, tapi setiap tiga hari saya ke hutan untuk memantau dan merekam data selama empat bulan. Saya juga harus membeli alat mahal untuk mengganti yang hilang,” imbuh perempuan yang pernah didapuk menjadi tenaga ahli pada BP DAS Pemali Jratun Jateng ini.

Menurutnya, dari hasil temuan di sejumlah penelitian menunjukkan perubahan alih fungsi lahan dan kerusakan lingkungan menjadi faktor dominan berkurangnya debit air tanah. Kondisi ini mengakibatkan ketersediaan air di daerah yang menjadi objek penelitiannya seperti di Kota Semarang dan beberapa wilayah di Jateng terus menyusut dan di ambang batas normal. Bahaya banjir dan longsor pun mengancam.

Konservasi sumber daya air dipengaruhi karakteristik lahan DAS, dimana luas dan bentuk DAS, topografi, dan tata guna lahan menjadi faktor penting yang mempengaruhi kuantitas dan kualitas air.
“Jumlah air di bumi pada dasarnya tidak mengalami perubahan. Permasalahan air terjadi karena adanya gangguan pada siklus hidrologi akibat aktivitas manusia. Dampaknya ya akan terjadi krisis air, terutama di perkotaan,” ujar perempuan yang telah mempublikasikan 40 hasil penelitiannya.

Jika perubahan lahan seperti pembabatan hutan, tegalan dan sawah menjadi pemukiman yang sudah terlihat sejak 20 tahun yang lalu tersebut tidak diikuti dengan sistem drainase yang memadai, akan berpengaruh besar terhadap siklus hidrologi Kota Semarang.

Dewi menegaskan, permasalah air menjadi sangat kompleks. Ditinjau dari aspek keilmuannya yakni geografi fisik, hal itu berkaitan dengan aspek alam dan manusia.  “Ini saling terkait dan mempengaruhi. Bagaimanapun juga manusia memberikan kontribusi terbesar dari kerusakan lingkungan dan alam.”
Dalam penelitiannya, dia selalu mengusulkan dan merekomendasikan teknologi konservasi untuk mengurangi ancaman krisis air di Jawa kepada pemerintah. Upaya tersebut dilakukan melalui program pembangunan berkelanjutan.

Penelitian yang dilakukan Dewi tentang perubahan aliran air sungai dari kajian ilmu geografi fisik itu pun berkembang  pada isu lingkungan secara luas, seperti kebencanaan, konservasi, Ruang Terbuka Hijau (RTH) hingga perubahan iklim. “Geografi fisik sangat terkait dengan isu lingkungan secara luas. Dan ilmu ini bisa diterapkan untuk membantu memecahkan persoalan persoalan lingkungan yang tidak ada habisnya,” jelas staf peneliti pada PKLH Lembaga Penelitian UNNES ini.
Misalnya, melalui penelitian kerjasama dengan Mercy Corp dan Rocefeller Foundation, ia membuat projek percontohan sistem Pemanenan Air Hujan (rainharvesting) untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat agar beradaptasi dengan alam. Caranya  dengan membuat tampungan air di rumah warga di sejumlah titik rawan kekeringan di Kota Semarang,
Menurutnya, selain menanam pohon dan membuat lubang biopori, pemanfaatan air hujan menjadi solusi yang lebih adaptif memecahkan masalah karena upaya konservasi lahan butuh waktu lama. “Warga diajak menampung air hujan untuk dimanfaatkan ketika musim kemarau. Tidak mudah mengenalkan teknologi baru tapi metode ini bisa diterapkan untuk mengantisipasi kurangnya pasokan sumber air.”

Dari hasil temuannya pula dia aplikasikan untuk mengedukasi dan membangun kesadaran masyarakat dengan mengaplikasikan pendidikan kebencanaan di daerah rawan bencana. Ia terjun langsung dan mengajak warga perduli bencana  sejak dini dengan membantu membuat kurikulum kegempaan di SD, membuat simulasi penyelamatan, jalur-jalur evakuasi, membaca tanda alam. Dan menciptakan metode aplikatif pendidikan kebencanaan. “Saya membuat  Komik ‘’Geoboy” seri bencana, poster dan CD pembelajaran yang disebar ke institusi pendidikan dan masyarakat agar lebih mudah dipahami,”jelas penulis sembilan buku yang menjadi acuan ilmu geografi.
“Ya, tak hanya mempelajari kondisi fisik alam dan lingkungan, tapi otomatis  harus mempelajari semuanya, termasuk perilaku manusia.”

Guru Besar tetap di Fakultas Ilmu Sosial Unnes juga menegaskan lewat pidato pengukuhannya berjudul ”Optimalisasi Ketersediaan Air Melalui Konservasi dengan Pendekatan Geografi”. Dia ingin menunjukkan bahwa ilmu geografi memegang peranan dalam membantu memecahkan masalah krusial yang terjadi di masyarakat.
“Yang terpenting mengubah perilaku manusia, karena kita tidak ingin prediksi kalau Semarang mengalami krisis air bersih di tahun 2025 itu benar-benar terjadi,” tandas satu-satunya professor di bidang Geografi Fisik di UNNES yang dikukuhkan tahun 2012 lalu. (@aernee)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Dieng, Negeri di Atas Awan

Dieng adalah salah satu destinasi unik dan menarik di Jawa Tengah, di kawasan Dieng Platheu ini anda dapat mengunjungi berbagai tempat wisata seperti Telaga Warna, Telaga Pengilon, Goa Semar-Sumur-Jaran dan Penganten, Museum Kailasa (Tempat peninggalan Purbakala), Kawah Sikidang, Candi Bima, Candi Gatotkaca, Kompleks Candi Arjuna, Sumur Jalatunda, Kawah Sileri dan masih banyak lagi lainnya selain dapat menikmati lanscape telaga warna dari Puncak Bukit Batu dan Bukit Sidengkeng. Sunrise ditempat ini pun sangat indah tidak kalah kelindahannya dengan sunrise di tempat lain. Anda dapat melihat Golden Sunrise dengan latar belakang Gunung Sindoro, Gunung Merapi. Gunung Merbabu, dan Gunung Wilis dari atas awan di puncak Gunung Sikunir, Gunung Pakuwaja dan Gunung Prau. Selain keindahan alam dan budaya yang dimiliki, Dieng juga memiliki mitos menarik yang masih ada hingga saat ini yaitu Mitos Anak Berrambut Gimbal/Gembel Titisan Kaladete yang hanya bisa kembali tumbuh normal jika sudah di ...

Belajar dari Tjokroaminoto

  Darah yang terpercik di antara hamparan kapas menyiratkan penderitaan rakyat pada saat babak baru Hindia Belanda selepas era tanam paksa di akhir tahun 1800. Kondisi itu berbanding terbalik dengan pemuda bangsawan, Oemar Said Tjokroaminoto (Tjokro).  Dia hidup nyaman. dengan tubuh berbalut beskap dan kain sarung  batik. Tidak seperti kebanyakan rakyat Indonesia. Kemiskinan, kebodohan   karena tak mengenyam pendidikan dan kesenjangan sosial inilah yang membuat hati Tjokro, sosok rendah hati, peduli dan hormat dengan siapapun berkobar untuk perubahan melalui Sarekat Islam (SI). Organisasi yang dibentuk untuk meningkatkan harkat dan martabat rakyat Indonesia. Ya, hampir semua adegan tergambar apik dalam “Guru Bangsa: Tjokroaminoto”. Film drama biopik besutan sutradara Garin Nugroho yang dirilis 9 April lalu, mengisahkan tokoh sejarah Indonesia bernama HOS Tjokroaminoto. Film ini menitikberatkan kehidupan dan perjuangan Tjokro. Film berjalan dengan mengi...

Pertemuan Mesra di Gang Baru

Pedagang di Pasar Gang Baru. Foto:@aernee SEMARANG, BERITASEMARANG.COM- Tak hanya tawar menawar barang, celoteh sendau gurau mewarnai suasana pagi di gang sempit yang penuh sesak dengan dagangan dan pembeli. Keramaian itu memang biasa bisa di temui di Gang Baru pada pagi hari. Di gang sempit inilah pasar tiban Gang Baru kawasan Pecinan Semarang selalu ramai di kunjungi pembeli. Tidak hanya warga Pecinan tetapi juga masyarakat dan pedagang eceran dari wilayah Semarang lainnya. Ya, siapa yang tak kenal Pasar Gang Baru, p asar tradisional ini terletak di kawasan Pecinan, dimana keberadaannya sudah dimulai sejak awal pembentukan kawasan Pecinan. Pasar Gang Baru tidak menempati ruang khusus atau bangunan untuk pasar, tetapi menempati jalan (gang) dan ruang-ruang hunian di sepanjang jalan Gang Baru. Nama Gang Baru, dilekatkan sebagai identitas atas sebuah jalan yang baru terbentuk pada masa itu. Pasar ini digelar ditengah jalan di antara rumah-rumah penduduk, hingga tidak d...