Langsung ke konten utama

Masnu’ah, Pejuang Perempuan Nelayan Dusun Moro

Masnu'ah/Foto:@aernee
Kegelisahan ibu satu anak ini membuncak. Setiap hari menyaksikan kemiskinan dan budaya partiarki yang membelenggu para istri nelayan di desanya yang sangat meresahkan. Dia bertekad untuk mengubah  paradigma para perempuan Dusun Moro, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. “Saya juga korban budaya. Menikah di usia dini dan mempunyai suami nelayan. Jadi saya paham sekali bagaimana kondisinya.”

Ya, masnu’ah (41) sangat paham karena terlahir dari keluarga nelayan Rembang yang mempunyai Kehidupan dan masalah yang nyaris sama. Tidak hanya Hidup di bawah garis kemiskinan tapi juga terbelenggu budaya partiarki yang cenderung merugikan para perempuan di wilayah pesisir.

“Para istri nelayan mengalami multi beban.  bertanggungjawab menutup kebutuhan sementara suaminya melaut berhari-hari. Akses informasi dan kebebasan berpendapat dibatasi. Perempuan juga dianggap konco wingking, seperti barang yang bisa diperlakukan seenaknya dan dianggap wajar.”

Mas'nuah memberanikan diri keluar dari kondisi itu. Pintu mulai terbuka ketika akhir Desember  2005, Koalisi Perempuan Indonesia dan Lembaga Bantuan Hukum memberikan bantuan kepada Masnu'ah untuk membentuk kelompok Puspita Bahari, sebuah organisasi yang mendorong  kesetaraan gender dan penegasan hak dengan cara membangun kapasitas dan keterampilan untuk mendorong peningkatan ekonomi keluarga nelayan.

Dia mempengaruhi para perempuan di desanya untuk mencari solusi alternatif mengangkat kehidupan mereka. Caranya, dengan pertemuan rutin dan kegiatan usaha melalui koperasi beras yang diperoleh dari hasil iuran swadaya seribu rupiah atau jimpitan beras. Bermodal satu juta rupiah untuk membeli beras dan disalurkan kepada keluarga nelayan.

Tapi bangkrut setelah dua tahun berjalan karena kondisi perekonomian tak menentu. “Tidak mudah mengajak ibu-ibu karena suami tidak mengijinkan keluar dan aktif. Saya bukan siapa-siapa jadi sadar omongan tidak akan dipercaya. Saya lebih banyak aksi.”

Tak menyerah, meski berulang kali upayanya menui  jalan buntu. Kegagalan demi kegagalan justru memicunya untuk bertahan.

Menurutnya, mengangkat perekonomian keluarga nelayan bukan perkara mudah. Kemiskinan yang mendera keluarga nelayan cenderung menempatkan perempuan dalam posisi marjinal sehingga kesulitan dalam menjalankan usaha. “Kesulitan ekonomi dan kerap menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)," ujar perempuan  yang aktif dalam sejumlah organisasi kemasyarakatan.

Tahun 2009 Puspita Bahari melakukan penguatan ekonomi masyarakat dengan mengajak istri nelayan membuat produk olahan seperti kerupuk, keripik, dan abon berbahan baku ikan murah. Pengolahan sepenuhnya dilakukan secara secara turun temurun. “Saya melihat ikan terbuang sia-sia karena tidak sadar itu bisa meningkatkan ekonomi. Dari hidangan di meja merambah pasar, koperasi, warung. Bahkan sekarang mampu mandiri.”

Sejak empat tahun lalu, Puspita Bahari juga  merangkul para suami dengan menjadi mediator bantuan tiga kapal untuk melaut dari Dompet Dhuafa yang disalurkan lewat LBH Layar Nusantara dan Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara), membentuk empat kelompok untuk  bergabung dalam forum masyarakat peduli lingkungan lewat Program Peduli Penghijauan Mangrove. “Selain itu juga mengelola sampah untuk mengurangi kekumuhan desa nelayan hingga tahun lalu menerima penghargaan Kusala Swadaya sebagai kelompok perempuan nelayan yang berhasil mengatasi kekumuhan di perkampungan nelayan.”

Masnu’ah menambahkan, tak hanya upaya peningkatan kesejahteraan tapi juga pemberdayaan perempuan untuk kesetaraan gender, penyuluhan kesehatan reproduksi, HIV AIDS, dan KDRT. Permasahalan ini dianggap krusial karena tingginya kasus KDRT yang dialami para istri nelayan. Upaya ini seringkali menemui jalan berliku. “Ketika mendampingi perempuan korban KDRT ke pengadilan justru mendapat kecaman dan dipojokkan. Padahal tujuannya untuk memberikan efek jera pada sumi dan masyarakat karena melakukan kekerasan terhadap perempuan. Prosesnya alot karena tidak ada tindakan dan dukungan.”

Upaya yang dilakukan untuk memberdayakan para perempuan di desanya sempat mendapat tentangan dari keluarga dan Su’udi, Suaminya. Selain faktor budaya, mereka juga terpengaruh masyarakat. “Itu karena saya sering keluar rumah. Tapi tak perlu banyak bicara, saya buktikan saja.”Sebenarnya, Sejak 2004, ia juga mengajak warga rajin menabung untuk menekan budaya konsumtif. “Saya keliling desa datangi dari rumah ke rumah untuk mengambil tabungan mereka. Seribu hingga lima ribu per minggu. Harus mengalah,” ujar perempuan yang memiliki 100 nasabah
ini.

Masnuah juga membuat jaringan dan persaudaraan nelayan se-Indonesia untuk membantu menangani permasalahan nelayan dan studi banding untuk perempuan nelayan Indonesia. Seperti dari Aceh, Sumatera, Tuban. “Selain  di Bau-Bau, kami juga membebaskan nelayan Rembang yang disandera di Sumatera. Februari lalu membantu 8 ABK nelayan dengan kapal cantrang dari Jateng yang berada di Balikpapan.”

Kini, dusun Moro, Demak sudah mengalami perubahan. Kondisinya menjadi lebih baik dan tertata. Bahkan Masnuah dipercaya untuk menjembatani program pemerintah Kabupaten Demak sebagai  Kader Rehabititasi Berbasis Masyarakat RBM, Perempuan Sosial Masyarat (PSM) Dinas social dan  pendampingan anak cacat masalah lansia, KDRT.

Namun ia  mengaku, upaya yang dilakukan seringkali menjadi dilema karena program pemerintah untuk masyarakat bawah belum merata.  Ia menjadi tempat mengadu dan ‘’ngarep’’ bantuan.
“Saya kadang terpukul. Paling hanya memberi pengertian kalau program itu tidak seperti membeli gethuk di warung. Butuh proses dan kesabaran. Saya hanya menjembatani dan mencarikan jalan untuk mereka,”lanjutnya.

Dari semua itu, tujuan hanya satu. Masnuah ingin perempuan-perempuan nelayan yang tinggal di wilayah pesisir juga bisa jadi agen perubahan. Tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga masyarakat. “Hingga sekarang masih ada saja yang tidak percaya dan mengawasi. Bahkan mengolok-olok dan melecehkan. saya ndablek saja. Yang penting tujuan benar. Yang penting  Saya mendapat kepuasan batin kalau bisa membantu seseorang. Itu saja.

***
Sebagai orang yang berlatar pendidikan rendah dengan akses terbatas, Masnu’ah tak pernah berani memimpikan hal-hal besar. Tapi pengetahuan dan pengalamannya dalam memberdayakan anggota kelompok perempuan nelayan Puspita Bahari (organisasi dampingan Kiara) yang dikelolanya ternyata justru memberikan banyak pengalaman baru.

Termasuk ketika mendapat undangan dari lembaga internasional untuk mengikuti pelatihan pemberdayaan untuk masyarakat pesisir di Bangkok yang dihadiri 10 negara pada Januari lalu. “Apalagi  bisa ke luar negeri. Mimpi ingin naik pesawat saja tidak pernah. Saya sadari kondisinya, makanya takut kalau punya mimpi yang terlalu tinggi,” ujar perempuan yang hanya mengenyam pendidikan di SD Tasikagung I, Rembang, Jawa Tengah   ini.

Tak hanya itu saja, Masnu’ah menjadi satu-satunya perempuan Indonesia yang menerima penghargaan Honouring 100 Women to Mark 100 Years of Womens Resistence for Rights, Empowerment and Liberation  dari Asian Rural Womens Coalition (ARWC) karena dianggap telah berkontribusi dalam mengedepankan perjuangan untuk hak-hak dan kepentingan perempuan pedesaan di Asia atas kiprahnya itu.“Padahal saya tidak pernah mengikuti  kompetisi, lomba atau mengirim apapun.  Tapi tiba-tiba disodori penghargaan macam-macan dari mana-mana. Itu sangat luar biasa dan membanggakan.”

Menurutnya, banyak kejutan yang datang bertubi-tubi dalam hidupnya yang tak pernah dibayangkan sebelumnya mengingat upaya yang dilakukan selama ini dianggapnya sebagai bentuk perjuangan bagi kaum dan lingkungannya agar bisa mendapat kehidupan dengan lebih baik.“Saya terkejut diberi piagam ini, apalagi tulisannya bahasa Inggris semua,” sambil memperlihatkan piagam yang diterimanya bulan Oktober lalu.

Wajar saja karena ia tak memiliki kemampuan berbahasa Inggris. Hal ini pula yng sempat membuatnya khawatir ketika berhadapan dengan pseserta pelatihan dari berbagai negara. “Tapi itu tidak terbukti karena mereka semua sangat membantu. Sekarang juga mulai belajar bahasa Inggris. Tapi sebisanya saja, sesuai kemampuan. Bahkan pertama kali naik pesawat takut sekali. Tangan ini tidak pernah lepas dari tangan pendamping yang menemani,” ucapnya sambil tersenyum

Masnuah mengaku masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk perbaikan masyarakat wilayah pesisir meski sudah dijalani selama 16 tahun terakhir ini.  Dan semangatnya inipun menular kepada Mohamad Vicky Alansyah (21), anak semata wayangnya menjadi bagian dari 11 anak miskin berprestasi yang mendapat beasiswa dari Universitas Internasional Batam.

“Cita-citanya ingin menjadi Menteri Kelautan karena melihat ibunya menangani masalah nelayan. Ya, saya jadi berani mimpi kalau Vicky bisa jadi orang hebat seperti orang-orang yang saya temui selama ini, tidak seperti orangtuanya,” ucapnya merendah.(@aernee)

Komentar

  1. Subhanallah, keren bangett...semoga makin banyak menginspirasi...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Dieng, Negeri di Atas Awan

Dieng adalah salah satu destinasi unik dan menarik di Jawa Tengah, di kawasan Dieng Platheu ini anda dapat mengunjungi berbagai tempat wisata seperti Telaga Warna, Telaga Pengilon, Goa Semar-Sumur-Jaran dan Penganten, Museum Kailasa (Tempat peninggalan Purbakala), Kawah Sikidang, Candi Bima, Candi Gatotkaca, Kompleks Candi Arjuna, Sumur Jalatunda, Kawah Sileri dan masih banyak lagi lainnya selain dapat menikmati lanscape telaga warna dari Puncak Bukit Batu dan Bukit Sidengkeng. Sunrise ditempat ini pun sangat indah tidak kalah kelindahannya dengan sunrise di tempat lain. Anda dapat melihat Golden Sunrise dengan latar belakang Gunung Sindoro, Gunung Merapi. Gunung Merbabu, dan Gunung Wilis dari atas awan di puncak Gunung Sikunir, Gunung Pakuwaja dan Gunung Prau. Selain keindahan alam dan budaya yang dimiliki, Dieng juga memiliki mitos menarik yang masih ada hingga saat ini yaitu Mitos Anak Berrambut Gimbal/Gembel Titisan Kaladete yang hanya bisa kembali tumbuh normal jika sudah di ...

Belajar dari Tjokroaminoto

  Darah yang terpercik di antara hamparan kapas menyiratkan penderitaan rakyat pada saat babak baru Hindia Belanda selepas era tanam paksa di akhir tahun 1800. Kondisi itu berbanding terbalik dengan pemuda bangsawan, Oemar Said Tjokroaminoto (Tjokro).  Dia hidup nyaman. dengan tubuh berbalut beskap dan kain sarung  batik. Tidak seperti kebanyakan rakyat Indonesia. Kemiskinan, kebodohan   karena tak mengenyam pendidikan dan kesenjangan sosial inilah yang membuat hati Tjokro, sosok rendah hati, peduli dan hormat dengan siapapun berkobar untuk perubahan melalui Sarekat Islam (SI). Organisasi yang dibentuk untuk meningkatkan harkat dan martabat rakyat Indonesia. Ya, hampir semua adegan tergambar apik dalam “Guru Bangsa: Tjokroaminoto”. Film drama biopik besutan sutradara Garin Nugroho yang dirilis 9 April lalu, mengisahkan tokoh sejarah Indonesia bernama HOS Tjokroaminoto. Film ini menitikberatkan kehidupan dan perjuangan Tjokro. Film berjalan dengan mengi...

Pertemuan Mesra di Gang Baru

Pedagang di Pasar Gang Baru. Foto:@aernee SEMARANG, BERITASEMARANG.COM- Tak hanya tawar menawar barang, celoteh sendau gurau mewarnai suasana pagi di gang sempit yang penuh sesak dengan dagangan dan pembeli. Keramaian itu memang biasa bisa di temui di Gang Baru pada pagi hari. Di gang sempit inilah pasar tiban Gang Baru kawasan Pecinan Semarang selalu ramai di kunjungi pembeli. Tidak hanya warga Pecinan tetapi juga masyarakat dan pedagang eceran dari wilayah Semarang lainnya. Ya, siapa yang tak kenal Pasar Gang Baru, p asar tradisional ini terletak di kawasan Pecinan, dimana keberadaannya sudah dimulai sejak awal pembentukan kawasan Pecinan. Pasar Gang Baru tidak menempati ruang khusus atau bangunan untuk pasar, tetapi menempati jalan (gang) dan ruang-ruang hunian di sepanjang jalan Gang Baru. Nama Gang Baru, dilekatkan sebagai identitas atas sebuah jalan yang baru terbentuk pada masa itu. Pasar ini digelar ditengah jalan di antara rumah-rumah penduduk, hingga tidak d...