Langsung ke konten utama

Menggenjot Investasi di Jateng

Industri kreatif / Foto:antaranews
Ekonomi kreatif menjadi kekuatan baru dalam pembangunan nasional. Perekonomian kreatif berbasis kreativitas dan inovasi dengan basis pengetahuan dan teknologi memberikan kontribusi signifikan pertumbuhan domestik bruto (PDB) Indonesia.

Di Jawa Tengah, ekonomi kreatif juga terus digenjot untuk meningkatkan laju investasi. Tingginya potensi Usaha Mikro menjadi sumber utama untuk mengembangkan dan menciptakan nilai tambah dengan dukungan iklim yang kondusif.

Pemprov Jateng menargetkan realisasi investasi di 2015 sebesar Rp130 triliun atau lebih besar dari pencapaianpada 2014 yang tercatat sebesar Rp124 triliun. Pada 2014, realisasi investasi di wilayah ini melebihi dari target sebesar Rp119 triliun dengan perincian Rp100 triliun dari penanaman modal asing, sedangkan sisanya dari penanaman modal dalam negeri.

Kepala BPMD Jawa Tengah Sujarwanto Dwiatmoko mengatakan, upaya itu dilakukan Badan Penanaman Modal Daerah (BPMD) Jawa Tengah dengan menggarap daerah khusus ekonomi kreatif sekaligus potensi destinasi wisata.

“Sejumlah daerah yang mempunyai potensi wisata tinggi difokuskan untuk pengembangan industri kreatif di antaranya Solo, Boyolali, Sragen, Wonogiri, Sukoharjo, dan Klaten.  Banyak destinasi wisata alami yang belum tereksplorasi optimal," katanya.

Untuk pengembangan tersebut, pihaknya bersinergi dengan pemerintah daerah setempat dan kerja sama perbatasan dengan sejumlah daerah di Jawa Timur di antaranya Ponorogo, Pacian, Magetan, dan Ngawi. "Daerah perbatasan terintegrasi dengan wilayah kita dan mereka juga memiliki potensi besar untuk pengembangan industri kreatif dan pariwisata.”

Sedangkan untuk daya tarik industri skala besar, pihaknya  memfasilitasi para investor yang masuk ke Jawa Tengah melalui kantung-kantung kawasan industri seperti di Ungaran, Cilacap, Demak, Kendal, dan Kota Semarang.

Kendalanya, belum semua kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah menerapkan sistem pelayanan terpadu satu pintu untuk memudahkan perizinan di bidang investasi. “Kurang lima daerah yang belum menerapkan sistem PTSP (Pelayanan Terpadu Satu Pintu)," lanjutnya.

Menurut dia, kelima daerah yakni Kota Magelang, Kabupaten Wonosobo, Brebes, Tegal, Pemalang masih menunggu implementasi Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2104 tentang Pemerintah Daerah sehingga terkendala kewenangan ke sistem PTSP. “Padahal kami terus mendorong masuknya investor ke wilayah Jateng dengan memberikan kemudahan berbagai perizinan investasi.”

Tingginya peluang investasi di Jateng, seperti hortikultura, parwisata, jasa, padat karya, atau industri kreatif juga membuka penanaman modal domestik untuk menanamkan modalnya dengan memberdayakan masyarakat untuk mengalihkan konsumsi dan  menggunakan uang untuk peningkatan produktivitas.

Laman Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Selasa (21/10/2014) menyebutkan, hingga semester I-2014 nilai tambah dari sektor ekonomi kreatif diestimasi mencapai Rp111,1 triliun. Penyumbang nilai tambah tertinggi antara lain subsektor mode, kuliner, kerajinan, penerbitan dan percetakan yang semuanya berkaintan dengan sektor pariwisata.

Ekonomi kreatif juga telah menyerap 11,8 juta tenaga kerja sebesar 10,72 dari total tenaga kerja nasional pada 2013 nasional pada 2013 atau di atas target 8,35. Ekonomi kreatif telah menciptakan 5,4 juta usaha atau sekitar 9,68persen dari total jumlah usaha nasional, serta memberikan kontribusi terhadap devisa negara sebesar Rp119 Triliun atau sebesar 5,72persen dari total ekspor nasional.

Menurut estimasi Pusat Data dan Informasi (pusdatin) Kemenparekraf, ekpor karya kreatif Indonesia tengah tahun mencapai Rp63,1 Triliun atau tumbuh sebesar 7,27 dibandingkan periode yang sama 2013.

Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh subsektor kerajinan dengan laju pertumbuhan ekspor sebesar 11,81 persen diikuti mode dengan pertumbuhan 7,12 dengan rincian periklanan sebesar 6,02 persen dan arsitektur 5,59 persen. (@tinuk/berbagai sumber)
sumber : Antarajateng

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Dieng, Negeri di Atas Awan

Dieng adalah salah satu destinasi unik dan menarik di Jawa Tengah, di kawasan Dieng Platheu ini anda dapat mengunjungi berbagai tempat wisata seperti Telaga Warna, Telaga Pengilon, Goa Semar-Sumur-Jaran dan Penganten, Museum Kailasa (Tempat peninggalan Purbakala), Kawah Sikidang, Candi Bima, Candi Gatotkaca, Kompleks Candi Arjuna, Sumur Jalatunda, Kawah Sileri dan masih banyak lagi lainnya selain dapat menikmati lanscape telaga warna dari Puncak Bukit Batu dan Bukit Sidengkeng. Sunrise ditempat ini pun sangat indah tidak kalah kelindahannya dengan sunrise di tempat lain. Anda dapat melihat Golden Sunrise dengan latar belakang Gunung Sindoro, Gunung Merapi. Gunung Merbabu, dan Gunung Wilis dari atas awan di puncak Gunung Sikunir, Gunung Pakuwaja dan Gunung Prau. Selain keindahan alam dan budaya yang dimiliki, Dieng juga memiliki mitos menarik yang masih ada hingga saat ini yaitu Mitos Anak Berrambut Gimbal/Gembel Titisan Kaladete yang hanya bisa kembali tumbuh normal jika sudah di ...

Belajar dari Tjokroaminoto

  Darah yang terpercik di antara hamparan kapas menyiratkan penderitaan rakyat pada saat babak baru Hindia Belanda selepas era tanam paksa di akhir tahun 1800. Kondisi itu berbanding terbalik dengan pemuda bangsawan, Oemar Said Tjokroaminoto (Tjokro).  Dia hidup nyaman. dengan tubuh berbalut beskap dan kain sarung  batik. Tidak seperti kebanyakan rakyat Indonesia. Kemiskinan, kebodohan   karena tak mengenyam pendidikan dan kesenjangan sosial inilah yang membuat hati Tjokro, sosok rendah hati, peduli dan hormat dengan siapapun berkobar untuk perubahan melalui Sarekat Islam (SI). Organisasi yang dibentuk untuk meningkatkan harkat dan martabat rakyat Indonesia. Ya, hampir semua adegan tergambar apik dalam “Guru Bangsa: Tjokroaminoto”. Film drama biopik besutan sutradara Garin Nugroho yang dirilis 9 April lalu, mengisahkan tokoh sejarah Indonesia bernama HOS Tjokroaminoto. Film ini menitikberatkan kehidupan dan perjuangan Tjokro. Film berjalan dengan mengi...

Pertemuan Mesra di Gang Baru

Pedagang di Pasar Gang Baru. Foto:@aernee SEMARANG, BERITASEMARANG.COM- Tak hanya tawar menawar barang, celoteh sendau gurau mewarnai suasana pagi di gang sempit yang penuh sesak dengan dagangan dan pembeli. Keramaian itu memang biasa bisa di temui di Gang Baru pada pagi hari. Di gang sempit inilah pasar tiban Gang Baru kawasan Pecinan Semarang selalu ramai di kunjungi pembeli. Tidak hanya warga Pecinan tetapi juga masyarakat dan pedagang eceran dari wilayah Semarang lainnya. Ya, siapa yang tak kenal Pasar Gang Baru, p asar tradisional ini terletak di kawasan Pecinan, dimana keberadaannya sudah dimulai sejak awal pembentukan kawasan Pecinan. Pasar Gang Baru tidak menempati ruang khusus atau bangunan untuk pasar, tetapi menempati jalan (gang) dan ruang-ruang hunian di sepanjang jalan Gang Baru. Nama Gang Baru, dilekatkan sebagai identitas atas sebuah jalan yang baru terbentuk pada masa itu. Pasar ini digelar ditengah jalan di antara rumah-rumah penduduk, hingga tidak d...