![]() |
| Pulau Nusakambangan. Sumber : wisatafamily.blogspot.com |
Penghuninya narapidana berbagai jenis kejahatan dengan masa pidana cukup lama sampai hukuman seumur hidup dan terpidana mati. Saya, Nonie Arnee berkesempatan mengunjungi Nusakambangan dan melihat aktivitas para napi beberapa waktu lalu.
***
Menjangkau Pulau Nusakambangan kami harus menggunakan kapal Feri kecil dengan jarak tempuh 10 menit dari Pelabuhan Wijaya Pura Cilacap. Di suatu siang di medio 2011, saya bersama rombongan Kementrian Hukum dan HAM langsung menuju Lapas Pasir Putih, yang terletak sekitar 15 kilometer dari dermaga Sodong Nusakambangan.
Dalam perjalanan menuju Lapas Pasir Putih, kami bertemu dengan Markus yang menjajakan hiasan batu akik hasil kerajinan tangannya kepada pengunjung. Ia adalah napi yang tengah menjalani masa asimilasi. Maksudnya, sudah menjalani dua pertiga masa hukuman sehingga boleh keluar tahanan dan tinggal di Lapas Terbuka. "Bikin kayak gini agak lama. Satu hari dapat satu cincin, tapi itu kalau ada alatnya. Ini juga harus menggali di hutan yang ada didekat gunung,”jelasnya.
Ketrampilan membuat kerajinan tangan batu akik seperti Markus, juga dipelajari napi lainnya. Akik dijual dengan harga berkisar antara Rp.150 ribu- Rp.200 ribu. Hasilnya digunakan untuk membantu napi lain. ”Uangnya untuk membantu anak dalam, beli sayur, uang jajan. Tidak saya makan sendiri."
***
Lapas pasir putih rapi dan sangat terawat. Lapas ini beroperasi sejak Juni 2007 dan dihuni 200-an napi. Lokasinya paling jauh diantara enam lapas lain dan dianggap sebagai penjara paling ketat se-Indonesia. Pengamanannya tujuh lapis. Dilengkapi dengan teropong X-Ray dan pengawasan video. Ada penjaga di tiap pintu masuk dan tembok kawat berduri tiga lapis mengelilingi bangunan.
Puluhan napi terlihat berada di luar sel, tengah istirahat dan ngobrol di sekitar halaman Masjid yang berada tepat di tengah bangunan Lapas. Diantaranya Gunawan Santoso, Terpidana mati kasus pembunuhan Bos PT Aneka Sakti Bakti Asaba. Ia menceritakan keseharianny selama 1,5 tahun di Lapas Pasir Putih.
"Sini aktifitasnya sangat padat, kalau pagi kegiatan olah raga. Saya lebih banyak menghabiskan waktu di gereja untuk ibadah. Hampir seminggu 4 sampai 5 kali. Setelah siang olahraga lagi. Kalau sore saya dikasih kebebasan menyalurkan hobi dan dikasih tugas beternak ikan, burung. Ful kegiatan dan pukul 18.00, semua harus masuk (ke sel).”
Tiap lapas di Nusakambangan memiliki bermacam fasilitas olahraga. Dari tujuh lapas yang kami kunjungi, Lapas Pasir Putih, Batu, dan Narkotika menyediakan fasilitas olahraga lebih lengkap. Napi tinggal memilih, jenis olah raga yang disukai seperti tenis, bulutangkis, pingpong, atau sepak bola.
Selain fasilitas olahraga, semua Lapas juga dilengkapi dengan sarana ibadah dan televisi sebagai sarana informasi. ”Saya setiap hari pagi bangun jam 4, setelah shalat subuh tidak tidur lagi karena melakukan kebersihan masjid. Setelah itu shalat dhuha dan mengaji hingga jam 9, istirahat, sambung shalat zhuhur. Ada pembagian tugas untuk menyapu, mengepel. Itu biasa tapi inisiatif kami sendiri. Pagi siang seperti ini. Kami punya jemaah sekitar 40 orang bisa keluar malam Magrib sampai Isya. Setelah itu masuk kamar.
Beribadah menjadi cara untuk menghabiskan hari bagi Raden Ganda, napi narkotik asal Banten yang menjalani pidana 15 tahun. Begitu juga Suparman terpidana kasus pembunuhan yang divonis 15 tahun.
”Aktifitasnya ya bermain voli, main bola, pokoknya permainan. Kita hanya bersih-bersih masjid. Kalau ada kegiatan kursus bahasa inggris ikut-ikutan setiap hari Rabu. Buang-buang waktu supaya cepat sore dan cepat malam. Ya begitulah.
Para napi juga dibekali berbagai ketrampilan seperti bengkel, ruang berkarya, dan lahan bercocok tanam. ”Ada macam-macam kadang kita di sini. Kita bikin jala, beternak lobster, bikin mebel. Ada yang mengajari dari luar. Tergantung kesenangan masing-masing,” Kata Muhamad Aswan, napi lain dengan hukuman 10 tahun.
Menurut kepala Lapas Pasir Putih Sutrisman, pemberian fasilitas di semua lapas yang ada di Nusakambangan menjadi bagian dari program pembinaan napi, yakni pembinaan mental dan kemandirian. ”Kita ikuti kegiatan pembinaan mental dan kemandirian. Mental kita ada dari luar pelayanan dari gereja dan dari Basma dari Yayasan Pertamina untuk kegiatan keagamaan. Kemandirian ada pertukangan dan pertanian. Ada perikanan juga.”
Dwi Haryanto kepala Lapas Permisan menambahkan, napi dibebaskan memilih ketrampilan yang disukai."Aktivitas ada kegiatan ketrampilan, pertukangan kayu misalnya bikin kapal-kapal mebeler, meja kursi dan sebagainya. Olah raga mulai dari futsal dan sepak bola, voli dan tenis meja. Kegiatan keagamaan baik yang islam maupun kristiani,semua ada. Juga hiburan. Ada buku-buku tapi terbatas. Banyak yang punya buku bacaan sendiri. Mereka banyak belajar, baca, tulis itu tidak masalah untuk mengisi waktu mereka. Banyak juga yang menciptakan lagu."
Para napi diperlakukan sama. Kepala Keamanan Lapas Pasir Putih Yudho Setiono mengatakan, tidak ada yang mendapat keistimewaan. ”Saat ini masih persuasif, ketika kita tanya punya keluhan apa di tempat lain, dia merasa tidak diperlakukan manusiawi. oke you punya bargaining seperti itu, you saya perlakukan manusiawi tapi jangan sekali-kali sentuh masalah kemanan, akan lebih menderita di tempat ini daripada tempat lain. Bargainingnya seperti itu."
Sesuai aturan, Napi dibebaskan beraktivitas mulai pukul 8 pagi hingga pukul 17. Selebihnya, mereka menghabiskan waktunya di kamarnya.”Kita tetap punya sentuhan yang manusiawi, bagaimanan dia itu savety kita juga savety. Ada keseimbangan antara pola pendekatan persuasif dengan pendekatan keamanan. Ada kesibukan Gunawan disana, misalnya dia punya kandang burung besar isinya banyak burung. Dia juga ngurusi beberapa kolam isinya ikan. Jadi kita memberi aktifitas tapi pemantauan tetap jalan terus 24 jam. Tidak masalah kalau jam-jam tertentu kan,” imbuhnya.
Meski ada kegiatan dan fasilitas, sebagian napi mengalami depresi. Mereka terutama napi warga negara asing yang sebagian divonis mati karena terlibat perdagangan narkotika. Mereka memilih mengurung diri di kamar tahanan dan enggan bersosialisasi.
John Cukuj, napi asal Nigeria mengaku, mereka tidak pernah dikunjungi keluarga karena proses mengurus perijinan besuk sangat sulit. ”Kanwil melarang membawa orang asing, orang Afrika kunjungan. Dari kanwil bisa jaminin orang Afrika kunjungan, tapi di Nusakambangan susah harus minta surat. Kalau di Jakarta tidak minta surat, tidak minta apa-apa.”
Di Nusakambangan ada 87 napi warga asing dari 19 negara dengan berbagai macam pidana berat. Di sini pernah ditahan trio bom Bali Imam Samudra, Ali Ghufron dan Amrozi. Ada juga 3 warga Nigeria yang akhirnya menjalani eksekusi mati karena terlibat perdagangan Narkotika. Selain itu, raja kayu Bob Hasan dan Tommy Soeharto pernah menghabiskan masa tahanannya di Nusakambangan. Tercatat ada 52 terpidana mati yang menunggu eksekusi. Mereka punya cara sendiri menjalani dan menghabiskan hari untuk melupakan hukumannya. Antara lain dengan berolahraga dan beribadah. (non)

Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai "Menghitung Hari di Lapas Nusakambangan".
BalasHapusSaya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Indonesia yang bisa anda kunjungi di Informasi Seputar Indonesia