| Mensortir biji kopi / Foto:@aernee |
“Padahal pasar lokal kurang dilirik tapi konsumsi dalam negeri tahun lalu mencapai 3,5 juta karung. Prediksi naik karena anak muda yang gemar minum kopi bertambah,” kata Moelyono Soesilo, wakil ketua Asosiasi Ekportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Jateng.
Menurut lelaki yang 20 tahun lebih berkecimpung dalam bisnis kopi ini, menggarap pasar lokal dinilai lebih menguntungkan ketimbang pasar luar negeri yang harganya jauh lebih mahal. Mencapai 20-30 persen daripada harga ekspor. “Harga kopi luar negeri 2.040 dollar Amerika sedangkan kopi dalam negeri 2.250 dollar per-ton.”
Karena itu, sudah seyogyanya pemerintah melakukan intensifikasi produk kopi di Indonesia yang saat ini produksinya rata-rata hanya 1-1,2 ton per-hektar. “Vietnam bisa mencapai 2,8 ton per ha. Semua itu tergantung pada treatment. Apalagi beberapa tahun terakhir Vietnam mengembangkan varietas baru dengan produktivitas mencapai 6 ton per ha.”
***
| Biji kopi yang telah disangrai / Foto:@aernee |
Kopi ini sudah merambah restoran dan kafe dan pusat oleh-oleh khas Semarang.” Beberapa kafe di Semarang dan resto mengambil kopi dari Illy, Lavasta, Segafreto Italia dan Swiss. Mereka impor, padahal sebenarnya banyak kopi lokal kualitasnya bagus. Harga produk dan kualitasnya juga kompetitif.”
“Kami mengenalkan konsep freash roast, order baru diracik untuk mendapatkan bubuk kopi dengan kondisi optimal,”imbuh Hardjano Tjandra, pemilik The Blue Lotus Coffe House Semarang.
Menurutnya, hasil panen kopi tiap tahun juga membedakan rasa. Ini bisa terdeteksi dari bijinya. Karena itu panen tiap tahun perlakuan terhadap biji kopi beda. “Kopi terbaik itu relatif karena tiap kopi itu punya ciri khas istimewa. Jadi harus mempunyai pengetahuan untuk menghasilkan produk kopi yang optimal,” imbuh Chief Barista ini.
Program sertifikasi produk untuk menghadapi pasar kopi tahun 2015 tengah disiapkan. Apalagi jika kopi ini akan diekspor ke Eropa. “Ketika bicara black coffee pasti Indonesia karena kopi terbaik ada di sini.”
Ya, dari 10 kopi terbaik dunia, tiga diantaranya ada di Indonesia, yakni Mandheiling, Java Arabika dan Kalosi Toraja.
Jadi, pekerjaan rumah sekarang ini adalah memotivasi dan mengubah mindset petani untuk inovasi dan menunjukkan bahwa Jawa mempunyai biji kopi terbaik di dunia.
Seperti pada masa sebelum Perang Dunia II, saat Jawa Tengah mempunyai jalur rel kereta api yang digunakan untuk mengangkut kopi dan rempah-rempah ke Semarang yang kemudian diangkut dengan kapal laut menuju Eropa untuk dinikmati menjadi minuman kopi yang paling dicari. (@aernee)
related post see http://www.beritasemarang.com/2015/03/merenda-asa-dari-kopi-jawa-1.html
Komentar
Posting Komentar