Langsung ke konten utama

Musim Kemarau Bakal Mundur

ilustrasi : idkf.bogor.net
SEMARANG, BERITASEMARANG.COM- Hujan yang masih mengguyur sejumlah wilayah di Jawa Tengah mengindikasikan musim kemarau tahun ini akan mundur dari prediksi sebelumnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Semarang menyebut, kondisi ini terjadi karena pengaruh dari La Nina. Gejala gangguan iklim akibat menurunnya suhu permukaan laut Samudera Pasifik.

Akibat dari La Nina adalah hujan turun lebih banyak di Samudera Pasifik sebelah barat Australia dan Indonesia.Sehingga di daerah ini akan terjadi hujan lebat dan banjir di mana-mana.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Semarang  Evi Luthfiati mengatakan, musim kemarau yang normalnya terjadi bulan Mei diprakirakan mundur di bulan Juni. Rata-rata musim kemarau tahun ini mundurnya 10 hingga 20 dasarian.

"Sebagian besar wilayah di Jateng seperti di Kota Semarang. Untuk bagian tengah seperti Pemalang dan bagian selatan seperti Pekalongan selatan dan Banjarnegara yang kemarau akhir Juni, diprakirakan mundur di bulan Juli."
Sedangkan daerah Jateng bagian timur, seperti Kabupaten Rembang dan Kabupaten Blora, diprakirakan tetap normal. Musim kemarau akan terjadi pada akhir bulan April.

Menurut dia, dari pantauan BMKG, fenomena La Nina masih terlihat dengan intensitas lemah dan suhu permukaan laut perairan Indonesia masih hangat.

Gejala perubahan cuaca itu juga akan berdampak pada sektor pertanian sehingga petani dihimbau untuk waspada, mengingat di bulan Mei masih terjadi hujan.

Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang Ayu Entys menambahkan agar petani mengatur jadwal tanam dan mengikuti alam untuk menghindari gagal panen."Sebaiknya tidak memaksakan untuk menanam jika ketersediaan air terbatas, kecuali untuk  padi gogo," jelasnya.
Apalagi sebagian besar lahan pertanian dengan luasan sawah irigasi teknis ada 832 hektare dan yang nonteknis seluas 1.072 hektare tergantung dengan musim.

Sementara itu, Bulog Divisi Regional Jawa Tengah memastikan ketersediaan pangan di Jateng masih mencukupi dengan persediaan operasional yang tercatat Februari lalu yakni setara beras sebanyak 201.682 ton yang tersebar di enam karesidenan yaitu di Semarang, Pati, Surakarta, Banyumas, Kedu, dan Pekalongan. Persediaan juga cukup untuk memenuhi kebutuhan raskin hingga lima bulan ke depan atau hingga bulan Agustus 2015.

"Akhir bulan ini dan awal bulan depan diprediksikan menjadi puncak panen raya di sejumlah daerah. Kalau sekarang sudah banyak yang panen tetapi sebagian masih belum, untuk yang sudah di antaranya Sragen, Pati, dan Demak," kata Kepala Bulog Divisi Regional Jateng, Damin Hartono.

Dengan adanya panen raya maka persediaan beras yang terserap Bulog Divre Jateng semakin besar sehingga bisa memenuhi kebutuhan beras di Jateng dan tidak perlu impor beras.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menambahkan, Pemerintah provinsi Jawa Tengah memastikan tidak ada impor beras karena sejumlah daerah sudah mulai panen raya. “Impor hanya dilakukan ketika krisis. Kalau produksi sudah terpenuhi tidak perlu impor.”

Kalaupun impor itu dilakukan untuk beras jenis premium yang memang tidak ditanam di Indonesia, salah satunya beras yang dikonsumsi khusus pasien penderita penyakit tertentu. (@tinuk)

sumber : antarajateng

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Dieng, Negeri di Atas Awan

Dieng adalah salah satu destinasi unik dan menarik di Jawa Tengah, di kawasan Dieng Platheu ini anda dapat mengunjungi berbagai tempat wisata seperti Telaga Warna, Telaga Pengilon, Goa Semar-Sumur-Jaran dan Penganten, Museum Kailasa (Tempat peninggalan Purbakala), Kawah Sikidang, Candi Bima, Candi Gatotkaca, Kompleks Candi Arjuna, Sumur Jalatunda, Kawah Sileri dan masih banyak lagi lainnya selain dapat menikmati lanscape telaga warna dari Puncak Bukit Batu dan Bukit Sidengkeng. Sunrise ditempat ini pun sangat indah tidak kalah kelindahannya dengan sunrise di tempat lain. Anda dapat melihat Golden Sunrise dengan latar belakang Gunung Sindoro, Gunung Merapi. Gunung Merbabu, dan Gunung Wilis dari atas awan di puncak Gunung Sikunir, Gunung Pakuwaja dan Gunung Prau. Selain keindahan alam dan budaya yang dimiliki, Dieng juga memiliki mitos menarik yang masih ada hingga saat ini yaitu Mitos Anak Berrambut Gimbal/Gembel Titisan Kaladete yang hanya bisa kembali tumbuh normal jika sudah di ...

Belajar dari Tjokroaminoto

  Darah yang terpercik di antara hamparan kapas menyiratkan penderitaan rakyat pada saat babak baru Hindia Belanda selepas era tanam paksa di akhir tahun 1800. Kondisi itu berbanding terbalik dengan pemuda bangsawan, Oemar Said Tjokroaminoto (Tjokro).  Dia hidup nyaman. dengan tubuh berbalut beskap dan kain sarung  batik. Tidak seperti kebanyakan rakyat Indonesia. Kemiskinan, kebodohan   karena tak mengenyam pendidikan dan kesenjangan sosial inilah yang membuat hati Tjokro, sosok rendah hati, peduli dan hormat dengan siapapun berkobar untuk perubahan melalui Sarekat Islam (SI). Organisasi yang dibentuk untuk meningkatkan harkat dan martabat rakyat Indonesia. Ya, hampir semua adegan tergambar apik dalam “Guru Bangsa: Tjokroaminoto”. Film drama biopik besutan sutradara Garin Nugroho yang dirilis 9 April lalu, mengisahkan tokoh sejarah Indonesia bernama HOS Tjokroaminoto. Film ini menitikberatkan kehidupan dan perjuangan Tjokro. Film berjalan dengan mengi...

Pertemuan Mesra di Gang Baru

Pedagang di Pasar Gang Baru. Foto:@aernee SEMARANG, BERITASEMARANG.COM- Tak hanya tawar menawar barang, celoteh sendau gurau mewarnai suasana pagi di gang sempit yang penuh sesak dengan dagangan dan pembeli. Keramaian itu memang biasa bisa di temui di Gang Baru pada pagi hari. Di gang sempit inilah pasar tiban Gang Baru kawasan Pecinan Semarang selalu ramai di kunjungi pembeli. Tidak hanya warga Pecinan tetapi juga masyarakat dan pedagang eceran dari wilayah Semarang lainnya. Ya, siapa yang tak kenal Pasar Gang Baru, p asar tradisional ini terletak di kawasan Pecinan, dimana keberadaannya sudah dimulai sejak awal pembentukan kawasan Pecinan. Pasar Gang Baru tidak menempati ruang khusus atau bangunan untuk pasar, tetapi menempati jalan (gang) dan ruang-ruang hunian di sepanjang jalan Gang Baru. Nama Gang Baru, dilekatkan sebagai identitas atas sebuah jalan yang baru terbentuk pada masa itu. Pasar ini digelar ditengah jalan di antara rumah-rumah penduduk, hingga tidak d...