Langsung ke konten utama

"NAYANA" yang Melawan Arus

"Nayana" menggaet pasar lokal. Foto : @aernee/Beritasemarang.com
Model kerudung kini berkembang pesat seiring dengan busana mulim. Bahkan setiap saat tren berbagai jenis kerudung terus bermunculan dipasaran. Dari kerudung yang meriah dan mewah hingga yang sederhana. Seperti kerudung Arzeti, Marshanda dan masih banyak lagi.


Tapi ternyata jenis kerudung yang sederhana juga masih banyak dinikmati. Seperti kerudung yang sering di kenalkan artis Novia Kolopaking, suami dari seniman kenamaan Emha Ainun Najib.

Pemeran film Siti Nurbaya ini selalu memilih menggunakan kerudung yang simpel. Kerudung berbahan rayon spandek dengan model sederhana  satu warna dan hanya sedikit aplikasi payet atau bordir di bagian atasnya.

Tapi Siapa sangka jika kerudung yang selalu digunakan artis cantik ini berasal dari industri rumahan di kawasan Kampung Jambon Ungaran, Kabupaten Semarang. Pemiliknya adalah Ika Darmanti. Kerudungnya menggunakan brand Kerudung cantik "Nayana".

Perempuan  yang tinggal di Graha Yasa D7 Ungaran ini mengungkapkan, Novia Kolopaking menjadi model dari kerudung "Nayana" miliknya sejak beberapa tahun yang lalu.

Lalu bagaimana Ika Darmanti mulai merintis usaha kerudungnya yang produksinya kini sudah tersebar di hampir seluruh nusantara?

Usaha bisnis konveksi kerudung Ika berawal dari ketidaksengajaan. Tepatnya, pada tahun 2005 lalu, ketika Ia memutuskan  menggunakan kerudung atau jilbab sebagai pelengkap berbusananya sehari-hari. Ia mengalami kesulitan untuk mencari kerudung seperti yang diinginkan. ”Waktu itu susah sekali cari kerudung, modelnya rame semua. Padahal saya suka yang simpel,” Ika mulai bercerita ikwal merintis bisnisnya.

Kemudian iapun berinisiatif untuk mendesain sendiri kerudung yang akan dipakainya, daripada membeli di toko atau mal. Terlebih lagi sebagai ibu rumah tangga dia mempunyai banyak waktu luang selain mengasuh anaknya. Sejak menikah, suaminya menganjurkan ajar ia lebih memprioritaskan anak-anaknya.

”Saya orangnya Tidak bisa diam, pengen kerja tidak boleh. Boleh kerja apa saja yang penting dirumah. Iseng aja saya mendesain kerudung sendiri dan menjahitkan di tempat konveksi teman. Saya bawa kain dan model sendiri.”

Tak disangka, teman-teman yang melihat kerudung kreasinya menyukai dan menanyakan tempat membeli kerudungnya.” Akhirnya mereka banyak memesan kerudung buatan saya,” ujar ibu tiga anak ini.

Tapi karena konveksi temannya waktu lebih mementingkan kuantitas dibanding kualitas, Ika mencoba belajar menjahit sendiri. ”Otodidak, pertama belajar bikin sprei. Waktu itu yang ngajarin menjahit pembantu. Kebetulan tante ngasih mesin jahit manual.”

Hasilnya, kerudung Nayana dianggapnya sangat berbeda dengan kerudung kebanyakan yang dijual dipasaran. Ciri khas yang dimiliki kerudung Nayana ini adalah penggunaan kainnya dan simpel. Sebagian besar kerudungnya ini berbahan rayon spandek sehingga lebih nyaman dipakai. Sedangkan model kerudungnya tidak banyak varian. Perbedaan kerudungnya hanya dari hiasan payet atau bordir saja.

Selain hasil ide kreasinya sendiri, untuk menambah wawasan model kerudung juga ia dapatkan dari masukan pelanggannya dan mencari  di majalah.  ”Tergantung feeling saat mendesain. Yang penting nyaman buat saya dulu. Itu kuncinya. Terlebih lagi saya tipe orang yang tidak suka dengan produk masal  yang dipakai orang banyak.”

Dari situlah keisengan Ika berubah menjadi usaha rumahan. Usaha membuat kerudung mulai berkembang dan banyak pesanan. Hingga ia kemudian mutuskan mencari pegawai untuk membantunya.

Pada awalnya, Ia pasarkan kerudung buatannya tanpa merek. Kerudung itu dipasarkan melalui teman, saudara, ditawarkan ke toko-toko, hingga dengan sistem marketing  door to door. ”Suami saya waktu itu melarang menggunakan merek jika saya belum bisa mempertahankan kualitas. Jadi dijual begitu saja.”

Setahun kemudian usahanya semakin menunjukkan prospek menggembirakan. Ika memutuskan untuk mengganti mesin jahit manualnya dengan mesin jahit high speed seperti mesin jahit  pabrik. Tujuannya untuk menambah jumlah produksi dan  meningkatkan kualitas. ”Mesin mahal, waktu itu di pinjami modal suami untuk membeli mesin jahit.”

Bisnis yang dirintis bisa berjalan, meski kemudian usaha konveksi kerudungnya ini mengalami kesulitan memperoleh bahan baku yang selama ini ia dapatkan dari kain sisa pabrik garmen di kawasan Ungaran. Ika menggunakan bahan baku sisa ekspor dari pabrik karena kainnya berkualitas dan harganya lebih murah. Bahan baku dari kain jenis rayon spandek menjadi andalan dari kerudung ini.

”Dari kain sisa ekspor di pabrik garmen, tapi  karena kain sisa maka warna tidak bisa ditentukan. Kadang dapat order 100 tapi tidak ada kainnya, jadi sering kerepotan.”

Untuk memperlancar usaha konveksinya, iapun kemudian memilih untuk fresh order atau order langsung bahan yang di inginkan dari pabrik. Meski menurutnya harga kain jauh lebih mahal dari sebelumnya.  Kain sisa pabrik yang biasa ia beli hanya 25 ribu/kg, harus ia tebus dengan harga berkali lipat. Ika mengambil bahan baku kainnya dari pabrik di Surabaya. ”Kebetulan ada kenalan yang memberitahu fresh order kain spandek rayon, harganya 12 US dollar/kg. Pokoknya nekat fresh order kalau ingin berkembang.”

Kenekatannya itu sempat berdampak pada pemasaran kerudungnya. Sehingga selama setahun, bisnis konveksi kerudung miliknya sempat lesu karena ada kenaikan harga. Tapi kemudian kembali membaik karena konsumen cukup jeli dengan kualitas dari kerudung Nayana. ”Dengan warna dan kain yang berkualitas harga paling murah dibandrol Rp 50 ribu-Rp 240 ribu. Tergantung model dan variasinya .”

Dari keisengan kini Ika mempunyai 12 pekerja dan beberapa tenaga ”pocokan” untuk finishing payet dan bordir yang mampu memproduksi  kerudung "Nayana" hingga 250 sampai 500 kerudung per hari, dengan omset hingga Rp.100 juta per bulan.

Selain tersebar hampir di seluruh Indonesia, kerudung "Nayana" memiliki pasar potensial khususnya Jawa dan Mataram.

Yang menarik, kerudung "Nayana" tidak pernah mengikuti tren kerudung yang sedang ”in” dipasaran. Model kerudung ini justru tidak jauh berubah. Hanya berganti warna dan aplikasi saja. Bahkan ditiap jenisnya,  tidak memproduksi banyak. ”Jadi cenderung limited edition, tergantung stok kainnya saja.”

Hingga kini perjalanan usaha konveksi kerudungnya ini, Ika lebih mengutamakan jaringan distributor untuk melayani pelanggannya.  Biasanya para distibutor itulah yang beredar dan menggerakkan bisnisnya.

Ika mengakui, persaingan bisnis konveksi khususnya kerudung cukup ketat di pasaran. Namun dia optimis jika kerudung  Nayana produksinya ini cukup punya pasar yang potensial hingga kini. ”"Nayana" menggarap segmen sendiri, melayani pelanggan yang lebih menyukai memakai kerudung yang simpel.

Bahkan Ika mengaku pangsa pasar kerudung "Nayana" kreasinya hingga kini tetap stabil meski marak berbagai model kerudung di pasaran.

Dan untuk mengembangkan usahanya ini, dia membuka showroom. ”Ada target ke depan yang hingga kini belum terealisasi. Saya ingin punya showroom sendiri.” Ungkap Ika. (@aernee)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Dieng, Negeri di Atas Awan

Dieng adalah salah satu destinasi unik dan menarik di Jawa Tengah, di kawasan Dieng Platheu ini anda dapat mengunjungi berbagai tempat wisata seperti Telaga Warna, Telaga Pengilon, Goa Semar-Sumur-Jaran dan Penganten, Museum Kailasa (Tempat peninggalan Purbakala), Kawah Sikidang, Candi Bima, Candi Gatotkaca, Kompleks Candi Arjuna, Sumur Jalatunda, Kawah Sileri dan masih banyak lagi lainnya selain dapat menikmati lanscape telaga warna dari Puncak Bukit Batu dan Bukit Sidengkeng. Sunrise ditempat ini pun sangat indah tidak kalah kelindahannya dengan sunrise di tempat lain. Anda dapat melihat Golden Sunrise dengan latar belakang Gunung Sindoro, Gunung Merapi. Gunung Merbabu, dan Gunung Wilis dari atas awan di puncak Gunung Sikunir, Gunung Pakuwaja dan Gunung Prau. Selain keindahan alam dan budaya yang dimiliki, Dieng juga memiliki mitos menarik yang masih ada hingga saat ini yaitu Mitos Anak Berrambut Gimbal/Gembel Titisan Kaladete yang hanya bisa kembali tumbuh normal jika sudah di ...

Belajar dari Tjokroaminoto

  Darah yang terpercik di antara hamparan kapas menyiratkan penderitaan rakyat pada saat babak baru Hindia Belanda selepas era tanam paksa di akhir tahun 1800. Kondisi itu berbanding terbalik dengan pemuda bangsawan, Oemar Said Tjokroaminoto (Tjokro).  Dia hidup nyaman. dengan tubuh berbalut beskap dan kain sarung  batik. Tidak seperti kebanyakan rakyat Indonesia. Kemiskinan, kebodohan   karena tak mengenyam pendidikan dan kesenjangan sosial inilah yang membuat hati Tjokro, sosok rendah hati, peduli dan hormat dengan siapapun berkobar untuk perubahan melalui Sarekat Islam (SI). Organisasi yang dibentuk untuk meningkatkan harkat dan martabat rakyat Indonesia. Ya, hampir semua adegan tergambar apik dalam “Guru Bangsa: Tjokroaminoto”. Film drama biopik besutan sutradara Garin Nugroho yang dirilis 9 April lalu, mengisahkan tokoh sejarah Indonesia bernama HOS Tjokroaminoto. Film ini menitikberatkan kehidupan dan perjuangan Tjokro. Film berjalan dengan mengi...

Pertemuan Mesra di Gang Baru

Pedagang di Pasar Gang Baru. Foto:@aernee SEMARANG, BERITASEMARANG.COM- Tak hanya tawar menawar barang, celoteh sendau gurau mewarnai suasana pagi di gang sempit yang penuh sesak dengan dagangan dan pembeli. Keramaian itu memang biasa bisa di temui di Gang Baru pada pagi hari. Di gang sempit inilah pasar tiban Gang Baru kawasan Pecinan Semarang selalu ramai di kunjungi pembeli. Tidak hanya warga Pecinan tetapi juga masyarakat dan pedagang eceran dari wilayah Semarang lainnya. Ya, siapa yang tak kenal Pasar Gang Baru, p asar tradisional ini terletak di kawasan Pecinan, dimana keberadaannya sudah dimulai sejak awal pembentukan kawasan Pecinan. Pasar Gang Baru tidak menempati ruang khusus atau bangunan untuk pasar, tetapi menempati jalan (gang) dan ruang-ruang hunian di sepanjang jalan Gang Baru. Nama Gang Baru, dilekatkan sebagai identitas atas sebuah jalan yang baru terbentuk pada masa itu. Pasar ini digelar ditengah jalan di antara rumah-rumah penduduk, hingga tidak d...