| Teknologi tepat guna penangkap kabut baru dikembangkan di Dusun Ngoho. Foto : @aernee |
Memanen awan bukan mustahil bagi petani sayur di Dusun Ngoho, Kemitir, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Cukup dengan teknologi sederhana, mereka berhasil menangkap kabut dan memanfaatkannya untuk mengatasi kekeringan di lahan pertanian.
“Sudah petik delapan kali,” ujar Puji Utomo, petani sayur Dusun Ngoho, sambil menyiangi tanaman cabai yang menua. Seribu batang tanaman cabai yang sudah berumur enam bulan itu semestinya diganti baru. Tapi melihat batang masih hijau, ia yakin tanaman yang sudah menghasilkan puluhan kuintal cabai masih panen sekali lagi. Apalagi harga cabai sedang meroket hingga Rp 24 ribu per kilogram.
Sumowono ini memang salah satu pemasok cabai terbesar di luas areal penanaman cabai hampir 600 ha di Kabupaten Semarang dengan produksi 35 ribu meter kubik/tahun.
Di musim kemarau, hasil panen tetap memuaskan meski empat bulan terakhir ini tak ada hujan. Tanamannya tetap mendapat suplai air. “Disiram setiap hari dengan air kabut,” jelas lelaki yang menjabat sebagai Kepala Desa Kemitir sambil menunjuk paranet dengan penyangga bambu di bibir lahan pertaniannya.
Bukan dari mata air, sungai atau irigasi. Yang dimaksud Puji adalah alat pemanen kabut (fog harvesting) yang dipasang di punggung perbukitan Sumowono yang memiliki ketinggian 1500 mdpl.
| Lahan pertanian sayur di Dusun Ngoho/@aernee |
Jangankan untuk kebutuhan pertanian seluas 75 hektar yang ada di Dusun Ngoho, kebutuhan air sehari-hari pun sulit didapat.
Pasalnya, air resapan di dusun “lari” ke desa lain di lereng gunung yang letak geografisnya lebih rendah. Dari enam sumur resapan di dusun dengan kedalaman 25-45 meter, hanya dua yang masih berfungsi. Sisanya mengering, bahkan sumur artesis bantuan Badan Geologi Jawa Tengah sedalam 185 meter pun tak mampu mengatasi kebutuhan air 350 kepala keluarga di Ngoho. Pipa saluran air yang menghubungkan sumber air sumur resapan dengan rumah warga tak lagi terisi.
“Pengambilan air dibatasi dan digilir karena sumur asat (kering). Sumur artesis hanya mampu menyedot selama 45 menit, selebihnya yang keluar hanya angin. Sebagian warga iuran membeli tangki air untuk konsumsi, sedangkan mencuci dan mandi pergi ke sungai di Sumowono dan Bandungan dengan menyewa mobil bak terbuka,” lanjut Puji.
Untuk mencukupi kebutuhan air bersih, warga rela antre atau mencari sumber air di desa lain. “Saya dapat dua jerigen isi 40 liter, lumayan untuk air minum dan memasak,” imbuh Mursaseni, warga Ngoho yang memikul jerigennya sejauh sekitar 500 meter dari sumur ke rumah.
Tak heran jika kemudian warga Ngoho enggan mengurus lahan pertanian dan dibiarkan bero (tidak ditanami). Lahan tak bisa diolah dan ditanami karena tidak ada pasokan air. Lahan pertanian ditinggalkan sementara hingga musim hujan tiba. Dan petani beralih pekerjaan sebagai buruh musiman.
Ini terlihat dari hasil sensus pertanian Kabupaten Semarang 2013 yang menunjukkan lebih dari 36 ribu petani di 19 kecamatan beralih profesi karena hasil produksi tidak sebanding dengan biaya pengolahan tanaman. "Satu dekade lalu jumlah petani mencapai 167.354 rumah tangga, kini menjadi 130.385 rumah tangga. Mayoritas petani gurem atau petani tradisional," kata Rochwan, Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Semarang.
Namun Urip Triyoga, Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Kabupaten Semarang menegaskan jika kondisi itu tidak memengaruhi produksi pertanian di Kabupaten Semarang. Bahkan untuk produksi padi justru meningkat hingga 4.000 ton per tahun. “Tahun lalu, hasil pertanian 202.576 ton, naik menjadi 206.633 ton. Pun dengan panen sayur mayur yang terus mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.”
Panen kabut sebenarnya baru dirasakan Puji sejak April lalu ketika teknologi pemanen kabut di pasang di lahan pertanian sayur miliknya. Ini bukan teknologi baru, tapi teknologi sederhana yang sebelumnya telah dicoba, diuji dan diaplikasikan untuk mengatasi kekeringan di dataran tinggi di sejumlah negara seperti Peru, Nepal, Oman, Chile dan Maroko.
Tapi di Indonesia, teknologi menangkap kabut baru dikembangkan di Dusun Ngoho. “Di beberapa negara, teknologi itu sudah dikembangkan. Itupun berbeda-beda sesuai dengan potensi kabut, ketinggian wilayah dan kecepatan angin,” papar Aditya Rizky Taufani, salah satu penggagas fog harvesting di Ngoho.
Saat pengabdian masyarakat di Dusun Ngoho itulah, Aditya dan ketiga mahasiswa program studi Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas Gajahmada (UGM) tergugah membantu dusun yang selalu kekeringan ketika kemarau. “Dusun di dataran tinggi dan berkabut ini menghadapi masalah krusial. Hingga kami tertarik untuk mencari solusinya dengan transfer teknologi.”
Kemudian, tim yang terdiri dari Aditya Riski Taufani, Puji Utomo, Taufiq Ilham Maulana, dan Musofa melakukan penelitian awal di tahun 2012 untuk mencari potensi desa, kondisi hidro-klimatologi, potensi kabut dan kelayakannya. “Ternyata potensi kabut di dusun ini cukup tinggi dan bisa dimanfaatkan. Setahun kemudian kami implementasikan dengan menggunakan dana Rp 9 juta dari Dikti melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM),” imbuh Puji Utomo, tim PKM Projek Pengembangan Teknologi Pemanenan Kabut.
Dusun terluar dari Kabupaten Semarang yang berada di dataran tinggi Ungaran dan berbatasan dengan Kabupaten Temanggung ini memang “dihiasi” kabut sepanjang tahun. Hampir setiap hari awan yang membawa butiran air itu muncul. Saat kemarau sekalipun. Potensi kabut hanya menyusut jika intensitas hujan meningkat. “Jadi lebih tepat guna dan lebih cocok digunakan saat kemarau panjang.”
Puji mengungkap, teknologi pemanen kabut dikembangkan dengan menggunakan peralatan sederhana. Untuk menangkap dan mengumpulkan air dalam kabut hanya dibutuhkan paranet, talang, tiang pemancang, pipa, selang, jerigen. “Kami uji coba dengan paranet berukuran 1×1 meter dan di bawahnya dipasang talang untuk menampung air yang turun dari paranet. Dengan parameter ketinggian dan arah angin, paranet dapat memanen kabut 2,74 liter hingga 10 liter perhari.”
Dia menambahkan, dalam kondisi ideal dengan asumsi tingkat efisiensi 80 persen, ketersediaan air dari hasil pemanenan kabut ukuran 1 m2 bisa mencapai 8 liter/hari. Ukuran 16 m2 bisa menampung 102,4 liter/hari. Itu artinya, air tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan minimal air bersih per hari.
“Selain pengamatan, potensi air diprediksi dengan menghitung data metereologi, kandungan titik air, luas jaring pengumpul, kecepatan angin dan durasi kabut. Kami bisa modifikasi arah angin dan bahan jaring pengumpul karena faktor yang lain bergantung pada kondisi cuaca dan lingkungan sekitar,” imbuhnya.
Pada 2014, upaya ini ditindaklanjuti Tim PKM Adopsi Teknologi Pemanen Kabut UGM yakni Vianita Meiranti Yogamitria, Sarjono, Musofa, Puji Utomo, Sayyidah Azzahra. Dengan menambah bentangan jaring pemanen kabut untuk menghasilkan air lebih banyak.
“Kami pasang instalasi pemanen kabut di lahan milik Pak Puji dengan bentang delapan meter dengan pemasangan huruf “L” agar tangkapan kabut bertambah,” papar Vianita Meiranti Yogamitria.
Semua bahan seperti paranet (jaring dari poliprofilen berbahan plastik), besi hollow, talang, drum, pipa paralon, selang, kawat, semen, kerikil dan pasir hanya butuh dana sekitar Rp 400 ribu dikembangkan lebih sederhana dan ekonomis dengan mengganti bahan baku dari potensi lokal.
Hanya membeli paranet Rp 2500/meter, paralon atau selang dan talang. Bahkan besi hollow bisa diganti dengan bambu sebagai tiang penyangga yang hanya dipendam saja. Bingkai paranet juga dibuat dari bambu. “Kami menyesuaikan dengan ketersediaan bahan lokal dan dana agar mudah diaplikasikan. Sebisa mungkin bahan mudah didapat tetapi hasilnya optimal. hanya perlu menyesuaikan efisiensi dari jaring pengumpul.”
Bahan yang digunakan tentu saja berpengaruh pada air yang dihasilkan, khususnya jaring pengumpulnya karena tiap bahan menghasilkan volume air yang berbeda. Misalnya, diganti dengan ijuk pohon aren yang banyak tumbuh di Dusun Ngoho. Penggunaan fiber pernah diuji cobakan untuk “mengekstrak” air dari kabut.
Alat ini pun bekerja manual. Hanya dengan “menjaring” awan stratocumulus si pembawa jutaan butiran titik air yang terbawa arah angin ke permukaan pegunungan dan sekitarnya, hingga menempel ke lapisan jaring. Dan secara gravitasional butiran air yang tertangkap jaring akan jatuh ke talang untuk dialirkan melalui paralon yang ditampung di jerigen.
“Kabut itu awan lembab pada permukaan bumi yang mengandung jutaan butiran air yang sangat kecil dan melayang di udara. Makanya alat ini bisa mengkondensasi kabut jadi air,” jelas Puji Utomo yang juga masuk dalam tim pemanen kabut kedua.
Fog harvesting ini kemudian dikombinasikan dengan sistem irigasi tetes di lahan pertanian agar penggunaan air kabut lebih efektif. Pengaliran air menggunakan sistem grafitasi. “Kami gunakan alat fergetasi tetes dengan menambahkan selang dan infus sehingga air langsung meresap ke tanah. Ini juga terjangkau untuk petani.”
Cuaca berperan penting dalam mengaplikasikan teknologi inovatif fog harvesting yang masih relatif tradisional dan sederhana. Namun, air yang dihasilkan tiap alat berbeda. Tergantung dari durasi kabut, kandungan titik air pada kabut, arah dan kecepatan angin, serta efisiensi dari jaring pengumpul. Kelembaban dan temperature juga memengaruhi hasil.
Meski di Ngoho, kehadiran kabut tidak dapat diprediksi karena dipengaruhi kondisi alam sekitar. Bisa muncul sepanjang hari bahkan tak berkabut sama sekali.
Aditya mengaku, sejauh ini alat pemanen kabut hanya dimanfaatkan untuk pertanian dalam jumlah sangat terbatas. Pihaknya juga belum mengetahui jumlah kebutuhan sarana pengairan seluruh lahan pertanian di Ngoho. “Masih butuh pengembangan, tapi paling tidak ini menjadi salah satu awal baik untuk mengatasi permasalahan kekeringan.”
Sebenarnya, fog harvesting juga bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan air rumah tangga yang diperkirakan sebesar 10 liter per orang per hari serta kebutuhan air untuk memasak sebesar 20 liter per orang per hari. Namun, psikografis petani di Dusun Ngoho masih tradisional sehingga butuh waktu untuk mengaplikasikan alat ini secara masal. “Butuh koordinasi dengan warga karena alat harus di pasang di titik tertentu yang paling cocok. Selain itu juga pemasangan alat pemanen kabut dan pemeliharaannya.”
Namun, hasil penelitian uji kualitas air dari pemanen kabut yang dilakukan tim PKM UGM menunjukkan, air kabut di Dusun Ngoho belum memenuhi standar baku mutu air minum. “Warna air kekuningan, pH < 6 sehingga bersifat asam, dan kadar zat organik (KMnO4) tinggi sehingga melebihi batas syarat maksimum kriteria mutu air kelas 1 untuk air baku air minum. Mungkin karena banyak kendaraan melintas di dusun yang menjadi jalur alternatif Semarang-Temanggung,” ungkap Puji.
Pada dasarnya fog harvesting dapat diaplikasikan pada semua daerah di Indonesia mempunyai karakteristik serupa dengan dusun ngoho dengan tingkat kesuksesan yang berbeda. Baik dengan alat yang lebih canggih seperti mesin maupun secara manual. Yang jelas ini bisa menjadi solusi alternatif untuk mengatasi krisis air di musim kemarau. Khususnya untuk pertanian.
“Tidak berhenti sampai di sini karena kami juga sedang mengembangkan cara baru untuk menganalisa kemunculan kabut dengan memasang alat Automatic Wheater Station untuk merekam data kelembaban dan kecepatan angin agar air yang dihasilkan lebih maksimal,” tandas Aditya.
Meskipun teknologi ini masih bersifat "pilot project", tim PKM UGM dan masyarakat berharap pemerintah dapat mendukung penerapan teknologi "pemanen kabut" ini. Sehingga tak ada lagi kasus kekeringan di dataran tinggi yang berkabut tinggi.
Sementara itu Petugas Fungsional Penyuluh Pertanian dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah, Agus Sutanto juga berharap, teknologi tepat guna ini dapat segera diadopsi di seluruh lahan pertanian Dusun Ngoho dan wilayah lain. “Ada beberapa daerah dataran tinggi di Jateng yang memiliki karakteristik serupa sehingga kekeringan teratasi.” (@aernee)
See related post http://www.beritasemarang.com/2015/03/orang-orang-yang-memanen-kabut-1.html
Komentar
Posting Komentar