Langsung ke konten utama

Demi Kelestarian Lingkungan, Penambangan Batu Akik Bakal Diatur

Variasi batu aki. Foto : henzr.blogspot.com
BERITASEMARANG.COM - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan menata berbagai aktivitas penambangan batu akik dengan menyusun regulasi sehingga kelestarian lingkungan tetap terjaga.

"Regulasi itu akan mengatur penambangan batu akik sehingga ke depan tidak menimbulkan masalah terutama di bidang lingkungan," kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Purbalingga, Jumat.

Ia menjelaskan bahwa Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Jateng akan berkoordinasi dengan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air serta Balai Besar Wilayah Sungai terkait dengan penyusunan regulasi tersebut karena kebanyakan titik penambangan batu akik itu di sungai.

"Adanya penambangan batu akik seperti ini bagus untuk pertumbuhan perekonomian masyarakat, dengan catatan caranya tidak boleh sembarangan dan harus tetap melihat kondisi sekitarnya," ujarnya didampingi Bupati Purbalingga Sukento Rido Marhaendrianto.

Hal tersebut disampaikan Ganjar usai membuka pameran batu akik di Griya UMKM Kabupaten Purbalingga.

Ilustrasi penambang batu akit. Foto : Ist.
Sebelumnya, Kepala Dinas ESDM Jateng Teguh Dwi Paryono mengungkapkan bahwa berbagai aktivitas penambangan batu akik harus ada mengantongi izin karena batuan yang sedang populer di masyarakat itu terbentuk dari mineral dan kristal.

"Izin penambangan mineral diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara sehingga tidak bisa sembarangan dan harus berizin," katanya.

Menurut Teguh, ada ancaman hukuman pidana 10 tahun penjara dan denda sebesar Rp10 miliar jika ada pihak-pihak yang terbukti melakukan penambangan batu akik secara ilegal.

Ia menjelaskan bahwa setiap aktivitas penambangan yang dilakukan dengan cara menggali dan mengeluarkan suatu bahan galian dari dalam tanah itu memerlukan izin penambangan.

"Jika masyarakat mengambil batuan di tepi sungai tidak harus izin, namun jika menggali tanah harus ada izinnya, tidak susah kok mengurusnya, yang penting ada dokumen rencana tambang," ujarnya.

Yang terpenting, kata dia, areal penambangan harus masuk dalam rencana kawasan yang akan ditambang agar tidak menyalahi aturan.

"Menambang batuan untuk kemudian diolah menjadi batu akik itu termasuk bagian dari aktivitas penambangan," katanya.

Ia menerangkan bahwa kualitas batu akik terbentuk karena tiga faktor yaitu faktor kekerasan batuan, faktor ketuaan atau umur batu, dan jenis batuannya.

"Semakin langka jenis batuannya maka harga jualnya semakin mahal," ujarnya.

Beberapa waktu lalu, jajaran Dinas ESDM Jateng melakukan operasi penertiban di lokasi penambangan batu akik di Karangsambung, Kabupaten Kebumen yang merupakan kawasan tersebut merupakan daerah konservasi.

Dari operasi penertiban praktik penambangan tersebut, berhasil diamankan batuan seberat 1 ton yang merupakan jenis batuan yang dapat diolah menjadi batu akik. (Antara Jateng)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertemuan Mesra di Gang Baru

Pedagang di Pasar Gang Baru. Foto:@aernee SEMARANG, BERITASEMARANG.COM- Tak hanya tawar menawar barang, celoteh sendau gurau mewarnai suasana pagi di gang sempit yang penuh sesak dengan dagangan dan pembeli. Keramaian itu memang biasa bisa di temui di Gang Baru pada pagi hari. Di gang sempit inilah pasar tiban Gang Baru kawasan Pecinan Semarang selalu ramai di kunjungi pembeli. Tidak hanya warga Pecinan tetapi juga masyarakat dan pedagang eceran dari wilayah Semarang lainnya. Ya, siapa yang tak kenal Pasar Gang Baru, p asar tradisional ini terletak di kawasan Pecinan, dimana keberadaannya sudah dimulai sejak awal pembentukan kawasan Pecinan. Pasar Gang Baru tidak menempati ruang khusus atau bangunan untuk pasar, tetapi menempati jalan (gang) dan ruang-ruang hunian di sepanjang jalan Gang Baru. Nama Gang Baru, dilekatkan sebagai identitas atas sebuah jalan yang baru terbentuk pada masa itu. Pasar ini digelar ditengah jalan di antara rumah-rumah penduduk, hingga tidak d...

Wisata Dieng, Negeri di Atas Awan

Dieng adalah salah satu destinasi unik dan menarik di Jawa Tengah, di kawasan Dieng Platheu ini anda dapat mengunjungi berbagai tempat wisata seperti Telaga Warna, Telaga Pengilon, Goa Semar-Sumur-Jaran dan Penganten, Museum Kailasa (Tempat peninggalan Purbakala), Kawah Sikidang, Candi Bima, Candi Gatotkaca, Kompleks Candi Arjuna, Sumur Jalatunda, Kawah Sileri dan masih banyak lagi lainnya selain dapat menikmati lanscape telaga warna dari Puncak Bukit Batu dan Bukit Sidengkeng. Sunrise ditempat ini pun sangat indah tidak kalah kelindahannya dengan sunrise di tempat lain. Anda dapat melihat Golden Sunrise dengan latar belakang Gunung Sindoro, Gunung Merapi. Gunung Merbabu, dan Gunung Wilis dari atas awan di puncak Gunung Sikunir, Gunung Pakuwaja dan Gunung Prau. Selain keindahan alam dan budaya yang dimiliki, Dieng juga memiliki mitos menarik yang masih ada hingga saat ini yaitu Mitos Anak Berrambut Gimbal/Gembel Titisan Kaladete yang hanya bisa kembali tumbuh normal jika sudah di ...

Belajar dari Tjokroaminoto

  Darah yang terpercik di antara hamparan kapas menyiratkan penderitaan rakyat pada saat babak baru Hindia Belanda selepas era tanam paksa di akhir tahun 1800. Kondisi itu berbanding terbalik dengan pemuda bangsawan, Oemar Said Tjokroaminoto (Tjokro).  Dia hidup nyaman. dengan tubuh berbalut beskap dan kain sarung  batik. Tidak seperti kebanyakan rakyat Indonesia. Kemiskinan, kebodohan   karena tak mengenyam pendidikan dan kesenjangan sosial inilah yang membuat hati Tjokro, sosok rendah hati, peduli dan hormat dengan siapapun berkobar untuk perubahan melalui Sarekat Islam (SI). Organisasi yang dibentuk untuk meningkatkan harkat dan martabat rakyat Indonesia. Ya, hampir semua adegan tergambar apik dalam “Guru Bangsa: Tjokroaminoto”. Film drama biopik besutan sutradara Garin Nugroho yang dirilis 9 April lalu, mengisahkan tokoh sejarah Indonesia bernama HOS Tjokroaminoto. Film ini menitikberatkan kehidupan dan perjuangan Tjokro. Film berjalan dengan mengi...