Langsung ke konten utama

Petani Tak Lagi Diminati

Petani bawang di Karangreja, Brebes / Foto:beritadaerah.co.id
SEMARANG, BERITASEMARANG.COM- Krisis pangan semakin nyata. Hal ini tak hanya disebabkan terus menyempitnya lahan pertanian, tetapi juga semakin menurunnya jumlah petani. Termasuk di Jawa Tengah yang notabenenya merupakan salah satu daerah lumpung pangan.

Pada 2003 tercatat sebanyak 5.770.801 rumah tangga petani, namun pada  satu dekade terakhir hanya terdapat 4.290.619 RTP.

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Jateng Suryo Banendro mengatakan,  setiap tahun jumlah petani di di propinsi ini terus mengalami penurunan sehingga perlu berbagai  usaha pengembangan di sektor pertanian. “Terus berkurang karena petani alih pekerjaan yang secara ekonomi lebih menguntungkan.”

Meurut dia, pekerjaan petani tak lagi diminati dan enggan menggarap lahan pertanian karena banyak hal, seperti  kerusakan infrastruktur pertanian, alih fungsi lahan pertanian, masih tingginya kehilangan hasil dan sering merugi,  serta keterbatasan akses petani terhadap pembiayaan. “Akibatnya banyak lahan pertanian yang mangkrak karena tidak digarap.”

Kondisi tersebut diperparah dengan minimnya tenaga penyuluh pertanian sehingga tidak ideal. Data Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Jateng menyebutkan,  terdapat 8.577 desa, sedangkan tenaga penyuluh pertanian hanya 5.300 orang.

Padahal, sektor pertanian di Jateng masih mempunyai peluang dan potensi sumber daya lahan baik sawah, lahan perkebunan, atau kehutanan untuk dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas. “Banyak cara dilakukan untuk memperbaiki sektor pertanian, seperti  mengoptimalkan luas tanam dan luas panen, perbaikan manajeman, melakukan regulasi harga produksi , pemanfaatan teknologi dan peningkatan SDM," katanya.

Untuk mengurai permasalahan tersebut, Propinsi  Jawa Tengah mengusulkan Rancangan Peraturan Daerah tentang perlindungan dan pemberdayaan petani yang kini masih digodok di DPRD Jateng.(@aernee)

sumber : Antarajateng

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Dieng, Negeri di Atas Awan

Dieng adalah salah satu destinasi unik dan menarik di Jawa Tengah, di kawasan Dieng Platheu ini anda dapat mengunjungi berbagai tempat wisata seperti Telaga Warna, Telaga Pengilon, Goa Semar-Sumur-Jaran dan Penganten, Museum Kailasa (Tempat peninggalan Purbakala), Kawah Sikidang, Candi Bima, Candi Gatotkaca, Kompleks Candi Arjuna, Sumur Jalatunda, Kawah Sileri dan masih banyak lagi lainnya selain dapat menikmati lanscape telaga warna dari Puncak Bukit Batu dan Bukit Sidengkeng. Sunrise ditempat ini pun sangat indah tidak kalah kelindahannya dengan sunrise di tempat lain. Anda dapat melihat Golden Sunrise dengan latar belakang Gunung Sindoro, Gunung Merapi. Gunung Merbabu, dan Gunung Wilis dari atas awan di puncak Gunung Sikunir, Gunung Pakuwaja dan Gunung Prau. Selain keindahan alam dan budaya yang dimiliki, Dieng juga memiliki mitos menarik yang masih ada hingga saat ini yaitu Mitos Anak Berrambut Gimbal/Gembel Titisan Kaladete yang hanya bisa kembali tumbuh normal jika sudah di ...

Belajar dari Tjokroaminoto

  Darah yang terpercik di antara hamparan kapas menyiratkan penderitaan rakyat pada saat babak baru Hindia Belanda selepas era tanam paksa di akhir tahun 1800. Kondisi itu berbanding terbalik dengan pemuda bangsawan, Oemar Said Tjokroaminoto (Tjokro).  Dia hidup nyaman. dengan tubuh berbalut beskap dan kain sarung  batik. Tidak seperti kebanyakan rakyat Indonesia. Kemiskinan, kebodohan   karena tak mengenyam pendidikan dan kesenjangan sosial inilah yang membuat hati Tjokro, sosok rendah hati, peduli dan hormat dengan siapapun berkobar untuk perubahan melalui Sarekat Islam (SI). Organisasi yang dibentuk untuk meningkatkan harkat dan martabat rakyat Indonesia. Ya, hampir semua adegan tergambar apik dalam “Guru Bangsa: Tjokroaminoto”. Film drama biopik besutan sutradara Garin Nugroho yang dirilis 9 April lalu, mengisahkan tokoh sejarah Indonesia bernama HOS Tjokroaminoto. Film ini menitikberatkan kehidupan dan perjuangan Tjokro. Film berjalan dengan mengi...

Pertemuan Mesra di Gang Baru

Pedagang di Pasar Gang Baru. Foto:@aernee SEMARANG, BERITASEMARANG.COM- Tak hanya tawar menawar barang, celoteh sendau gurau mewarnai suasana pagi di gang sempit yang penuh sesak dengan dagangan dan pembeli. Keramaian itu memang biasa bisa di temui di Gang Baru pada pagi hari. Di gang sempit inilah pasar tiban Gang Baru kawasan Pecinan Semarang selalu ramai di kunjungi pembeli. Tidak hanya warga Pecinan tetapi juga masyarakat dan pedagang eceran dari wilayah Semarang lainnya. Ya, siapa yang tak kenal Pasar Gang Baru, p asar tradisional ini terletak di kawasan Pecinan, dimana keberadaannya sudah dimulai sejak awal pembentukan kawasan Pecinan. Pasar Gang Baru tidak menempati ruang khusus atau bangunan untuk pasar, tetapi menempati jalan (gang) dan ruang-ruang hunian di sepanjang jalan Gang Baru. Nama Gang Baru, dilekatkan sebagai identitas atas sebuah jalan yang baru terbentuk pada masa itu. Pasar ini digelar ditengah jalan di antara rumah-rumah penduduk, hingga tidak d...