![]() |
| Foto:lampost.co |
Tetapi saya tidak akan bicara tentang orang-orang yang “terjebak” berada di area konflik dalam arti harafiah seringkali dikatakan wilayah perang. Atau seperti yang ada di Wikipedia, konflik (configure) : saling memukul. Yang dalam konteks sosiologis, diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
Ditambah lagi dalam pandangan tradisional (The Traditional View) mengatakan kalau konflik itu hal yang buruk, sesuatu yang negatif, merugikan, dan harus dihindari. Bahkan konflik disinonimkan dengan istilah violence, destruction, dan irrationality. Nampaknya seram sekali. Mungkin pengertian itu yang membuat banyak orang “nggak ngaku” dan menampik tengah berkonflik.
Bagi saya, tidak perlu “menunggu” ada dua orang atau lebih untuk menghancurkan atau membuatku sangat tidak berdaya karena jujur saja saya mengakui tengah menghadapi konflik. Bukan konflik karena berseteru dengan kawan, orangtua bahkan bocah kecil yang sering membuat kepala ini menggeleng bertubi karena kebandelannya. Tapi ini konflik dengan diri sendiri yang ternyata juga membuat saya sangat tidak berdaya.
Seperti misalnya ketika konflik batin itu muncul karena pertentangan dan ketidak berdayaan melihat seorang teman mengunggah foto berisi tulisan provokatif dengan caption : “ironi” . Foto yang menurut saya dapat menimbulkan persepsi negatif bahkan bisa saja yang melihat menghujat si pembuat tulisan yang difoto teman saya itu.
Terlepas dari kebenarannya, ketika mengunggah foto tidak disertai dengan keterangan yang jelas itu menurut saya sebuah kejahatan. Dan kejahatan itu bertambah hebatnya ketika banyak yang menge-like dan men-share.
Konsentrasi membuyar ketika kenyataan yang saya lihat itu “merusak” batin saya. Terlebih lagi ketika isi konfirmasi dari si pengungah sangat sederhana. “Biarlah masyarakat yang menilai”. Ya, memang begitu, tapi bagaimana kalau penilaian itu muncul dari informasi yang kebenarannya saja diragukan.
Konflik emang sesuatu yang tidak dapat dielakkan dan merupakan konsekuensi logis dari hasil interaksi manusia atau dengan diri sendiri. Nah, kalau kemudian muncul pemikiran logis untuk mencari cara meredam konflik, itu hal yang masuk akal.
Tapi bukankah itu cuman jalan pintas seperti ketika pusing kemudian spontan mencari obat dan meminumnya? Sialnya lagi, obat yang diminum belum tentu menghilangkan penyakit itu. Bukan dengan mencari ujung pangkal kenapa bisa pusing dan berusaha menyembuhkannya tanpa merusak apa yang sudah ada. Bisa jadi pusing itu akibat tidak mempunyai uang, diputus kekasih atau gegara pertikaian dengan orangtua.
Daripada ngelantur, yakinlah bahwa konflik itu nggak selamanya buruk. Karena toh itu tetap bisa menjadi pengalaman positif plus pembelajaran agar bisa melakukan hal yang lebih baik. Konflik memang melelahkan, tapi jangan pernah lelah mempelajari konflik seperti halnya konflik di negeri ini. Semoga saja…(@aernee)

Komentar
Posting Komentar