Langsung ke konten utama

Tingkatkan Kualitas Panen, Petani Dilatih Budidaya Padi Organik

Padi organik. Foto : pupukorganikhcs.wordpress.com
MAGELANG, BERITASEMARANG.COM- Para petani di Desa Bligo, Ngluwar, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menjalani pelatihan budi daya padi organik agar mendapatkan panenan yang berkualitas dan bernilai jual lebih tinggi ketimbang budi daya secara nonorganik.

"Padi organik lebih sehat dan nilai jualnya tinggi," kata pelatih kegiatan yang juga Ketua Gabungan Kelompok Tani "Permatasari Tirtosari" Sawangan Wartono di Magelang, Jumat seperti dikutip Antarajateng.com.

Mereka yang berjumlah 15 peserta itu menjalani pelatihan budi daya padi organik jenis mentik wangi susu yang merupakan padi lokal unggulan berasal dari Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang.

Hadir pada kesempatan itu, antara lain Bintara Pembina Desa Bligo, Kecamatan Ngluwar Serda Mujiyono dan petugas penyuluh pertanian setempat. Selain itu, dilakukan penyerahan 25 kilogram bibit padi mentik wangi kepada petani setempat, Murjito.

Ia menjelaskan tentang karakter padi mentik wangi susu yang merupakan gabungan antara mentik wangi dan mentik susu dengan kelebihan hasil panenan, antara lain aroma wangi dan rasa pulen.

Beras organik dihasilkan melalui proses yang organis, antara lain pemupukan menggunakan kompos dan pupuk berbahan baku daun "hijauan", serta penanganan terhadap hama menggunakan pestisida alami dari dedaunan dan buah-buahan yang sudah diproses fermentasi.

"Boleh tetap menggunakan pestisida yang mengandung kimia, namun dalam jumlah yang terbatas dan terukur karena penggunaan pestisida kimia yang berlebihan, membuat proses perbaikan tanah membutuhkan waktu yang cukup lama," katanya saat memberikan pelatihan.

Ia menjelaskan budi daya padi secara organik memberi manfaat juga untuk perbaikan struktur dan kesuburan tanah.

"Untuk kepentingan jangan panjang, kualitas tanah semakin membaik dan semakin subur," katanya. (Antara Jateng)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Dieng, Negeri di Atas Awan

Dieng adalah salah satu destinasi unik dan menarik di Jawa Tengah, di kawasan Dieng Platheu ini anda dapat mengunjungi berbagai tempat wisata seperti Telaga Warna, Telaga Pengilon, Goa Semar-Sumur-Jaran dan Penganten, Museum Kailasa (Tempat peninggalan Purbakala), Kawah Sikidang, Candi Bima, Candi Gatotkaca, Kompleks Candi Arjuna, Sumur Jalatunda, Kawah Sileri dan masih banyak lagi lainnya selain dapat menikmati lanscape telaga warna dari Puncak Bukit Batu dan Bukit Sidengkeng. Sunrise ditempat ini pun sangat indah tidak kalah kelindahannya dengan sunrise di tempat lain. Anda dapat melihat Golden Sunrise dengan latar belakang Gunung Sindoro, Gunung Merapi. Gunung Merbabu, dan Gunung Wilis dari atas awan di puncak Gunung Sikunir, Gunung Pakuwaja dan Gunung Prau. Selain keindahan alam dan budaya yang dimiliki, Dieng juga memiliki mitos menarik yang masih ada hingga saat ini yaitu Mitos Anak Berrambut Gimbal/Gembel Titisan Kaladete yang hanya bisa kembali tumbuh normal jika sudah di ...

Belajar dari Tjokroaminoto

  Darah yang terpercik di antara hamparan kapas menyiratkan penderitaan rakyat pada saat babak baru Hindia Belanda selepas era tanam paksa di akhir tahun 1800. Kondisi itu berbanding terbalik dengan pemuda bangsawan, Oemar Said Tjokroaminoto (Tjokro).  Dia hidup nyaman. dengan tubuh berbalut beskap dan kain sarung  batik. Tidak seperti kebanyakan rakyat Indonesia. Kemiskinan, kebodohan   karena tak mengenyam pendidikan dan kesenjangan sosial inilah yang membuat hati Tjokro, sosok rendah hati, peduli dan hormat dengan siapapun berkobar untuk perubahan melalui Sarekat Islam (SI). Organisasi yang dibentuk untuk meningkatkan harkat dan martabat rakyat Indonesia. Ya, hampir semua adegan tergambar apik dalam “Guru Bangsa: Tjokroaminoto”. Film drama biopik besutan sutradara Garin Nugroho yang dirilis 9 April lalu, mengisahkan tokoh sejarah Indonesia bernama HOS Tjokroaminoto. Film ini menitikberatkan kehidupan dan perjuangan Tjokro. Film berjalan dengan mengi...

Pertemuan Mesra di Gang Baru

Pedagang di Pasar Gang Baru. Foto:@aernee SEMARANG, BERITASEMARANG.COM- Tak hanya tawar menawar barang, celoteh sendau gurau mewarnai suasana pagi di gang sempit yang penuh sesak dengan dagangan dan pembeli. Keramaian itu memang biasa bisa di temui di Gang Baru pada pagi hari. Di gang sempit inilah pasar tiban Gang Baru kawasan Pecinan Semarang selalu ramai di kunjungi pembeli. Tidak hanya warga Pecinan tetapi juga masyarakat dan pedagang eceran dari wilayah Semarang lainnya. Ya, siapa yang tak kenal Pasar Gang Baru, p asar tradisional ini terletak di kawasan Pecinan, dimana keberadaannya sudah dimulai sejak awal pembentukan kawasan Pecinan. Pasar Gang Baru tidak menempati ruang khusus atau bangunan untuk pasar, tetapi menempati jalan (gang) dan ruang-ruang hunian di sepanjang jalan Gang Baru. Nama Gang Baru, dilekatkan sebagai identitas atas sebuah jalan yang baru terbentuk pada masa itu. Pasar ini digelar ditengah jalan di antara rumah-rumah penduduk, hingga tidak d...