Langsung ke konten utama

Tyto Alba, Penyelamat Petani Tlogoweru

Petani Tlogoweru. Foto:@aernee

BERITASEMARANG.COM - Peluh di kening Darminingsih (60) menetes deras. Wajah petani Desa Tlogoweru, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, Jawa Tengah ini sumringah meski terik menyengat. Gurauan dan tawa bersama tiga pekerja mengiringi kedua tangan terampilnya mengayak padi hasil panen musim tanam pertama yang di kelantang di halaman rumah.

Kebahagiaan menyaksikan gendutnya bulir padi dan panen melimpah, juga  dirasakan warga lain di desanya sejak empat tahun terakhir. Kegetiran puluhan tahun menjelang panen padi dan jagung pun hilang. “Satu bahu (petak) bisa mengasilkan 70 karung dan bisa untung Rp 15 juta. Tidak merugi dan “nombok” lagi,”ujar Darminingsih dengan logat Jawa.

Sebelumnya, dia selalu meratapi panen yang wurung (gagal) karena padi dan jagung habis dalam semalam diserbu hama tikus. Tiap musim panen mengalami kerusakan hingga 60 persen. Serangan tikus begitu endemis hingga memperpuruk perekonomian warga. “Setelah diperiksa hanya tongkolnya (tangkai tempat bulir jagung) saja. Panen satu petak hanya tujuh karung. Itupun mengais bulir padi atau jagung yang tersisa. Panen jarang berhasil. Tapi, sejak ada Tyto semua berubah,” kenangnya.

Tyto Alba menjadi sahabat petani Tlogoweru / Foto:@aernee
Tyto? Ya, begitulah warga desa Tlogoweru menyebut Tyto Alba salah satu jenis burung hantu yang kini jadi “penunggu” areal persawahan seluas 225 hektar milik warga. Sejak hidup berdampingan dengan burung predator tikus yang dimitoskan sebagai burung kematian, hasil panennya selalu memuaskan.

Panen melimpah tak lepas dari usaha, tekad dan kerja keras Soetedjo (54), untuk memberantas hama tikus yang muncul hingga lima dekade lebih terus berkembang merusak pertanian dan belum ada solusinya. Berbagai cara dilakukan Kepala Desa Tlogoweru untuk mengubah nasib 900 kepala keluarga yang bergantung pada hasil pertanian. “Upaya gopyokan, pestisida, hingga mewajibkan warga menyetor 15 ekor buntut tikus tak maksimal. Padahal terkumpul 20 ribu ekor tikus tiap panen.”

***
Keprihatinan melihat keresahan petani yang kian membuncak melecut putra Tlogoweru untuk tergerak mencari dan mempelajari predator tikus dari berbagai. Di tahun 2010 itulah pertemuan pertamanya Soetedjo bersama 14 orang warga dengan Tyto Alba untuk belajar teknik  investigasi, introduksi, adopsi, hingga upaya pelestarian burung hantu ini.

“Kami tahu dari internet dan tertarik gagasan Desa Munggur, Ngawi yang memanfaatkan burung hantu untuk menghalau tikus hingga memutuskan mengikuti pelatihan dan belajar di sana meski merogoh kas desa Rp 8 juta,” jelas Soetedjo.

Namun, karena keterbatasan dana mereka memilih mandiri karena tak mampu mendatangkan orang untuk membiakkan burung ini. “Awalnya, hanya dua ekor,” imbuh Soetedjo yang butuh enam bulan mempelajari karakter dan kebiasaan Tyto Alba.

Soetedjo dibantu Pujo Arto Eko Sudibyo kemudian melakukan uji coba karantina untuk menampung dan merawat burung yang didapat dari desa sekitar. Dan berinisiatif  membuat rumah burung hantu (rubuha) yang dipeliharanya. Bukan di gua atau pohon besar. Tapi kotak dari papan yang dipasang di areal persawahan di atas ketinggian tujuh meter dengan jarak 50-100 meter. Jumlahnya kini mencapai 110 unit. 55 rubuha sementara dengan tiang bambu dan 45 rubuha permanen bertiang beton cor. Sisanya di pepohonan.

Tak butuh waktu lama, Tyto Alba langsung bekerja. Panen pertama di akhir tahun 2010 menampakkan hasil menggembirakan. Bahkan dua tahun berselang, pertumbuhan hasil panen mencapai 7,6  ton /ha.  Padi yang rusak hanya 0,4 /ha. “Dalam setahun tiga kali masa panen bisa mengasilkan Rp 46,2 juta / ha. Dengan modal pengembangbiakan burung hantu sebesar Rp 87 juta bisa menghasilkan panen Rp. 10,3 miliar. 60 persen yang dirusak tikus sudah kembali. Total bisa mencapai Rp.15 miliar per tahun.”

Soetedjo mengatakan, kehadiran Tyto Alba berdampak baik bagi perekonomian warga desa Tlogoweru. Banyak  perubahan seiring meningkatnya daya beli masyarakat karena hasil produksi panen bisa disimpan untuk persediaan, dijual, dan modal musim tanam berikutnya. Bahkan, rumah dari papan berganti dengan rumah tembok bergaya modern.

Keberhasilan petani Tlogoweru pun dilirik daerah lain yang punya persoalan serupa. Metode pengembangbiakan Tyto Alba kini dikembangkan  di 14 Kecamatan di Kabupaten Demak dan sejumlah desa di Indonesia. Bahkan peneliti dari luar negeri datang belajar dari desa Tlogoweru hidup dengan Tyto Alba. “Dari situ banyak bantuan mengalir dari sejumlah pihak termasuk program PNPM untuk pembangunan infrastruktur jalan, fasilitas dan pelayanan publik di desa.”

Tak berpuas diri, Soetedjo terus mengajak warga berbenah mewujudkan desa mandiri dengan  mengoptimalkan potensi desa dan pemberdayaan warga hingga berhasil menjadi desa percontohan nasional dalam peningkatan kesejahteraan petani. Tak hanya melalui program pengembangbiakan Tyto Alba pembasmi tikus. Tapi juga program investasi lain penunjang peningkatan produksi pertanian, seperti kincir angin dan 800 sumur pantek untuk irigasi dan pertanian SRI.

“Kami  juga memanfaatkan lahan kosong untuk perikanan, peternakan, tanaman obat dan mentargetkan seribu titik sumur dangkal,” jelas Soetedjo yang diganjar predikat kepala desa inovatif tingkat nasional  di tahun 2012 karena keberhasilannya itu.

Soetedjo mengakui, pengelolaan dengan keterbatasan dana dan tenaga menjadi kendala terbesar. Dia dan 14 Tim lapangan Tyto Alba menjadi voluntir mengajak warga menjaga pelestarian Tyto Alba yang populasinya mencapai 220 ekor, dengan penambahan 500 ekor pertahunnya yang dibiarkan menyebar di desa sekitra. “Biaya perawatan burung yang ditangkar setiap bulan Rp 600 ribu per ekor dan harus selalu dijaga sebelum dilepas. Selama ini upaya pengembangbiakan dan pelestarian masih dilakukan swadaya,” jelas Pujo Arto, salah satu tim lapangan Tyto Alba bagian karantina.

Pelestarian dikuatkan dengan Peraturan Desa No. 4 tahun 2011 tentang larangan menembak burung. Bahkan peringatan larangan ini dipasang di hampir sudut jalan desa.

“Kami ingin Tlogoweru menjadi kerajaan Tyto Alba. Harapannya, pemerintah membantu keberlanjutan karantina Tyto Alba dan  mengeluarkan Perda perlindungana burung hantu,” imbuh laki-laki yang menjabat kepala desa sejak 1988.

Ya, memang banyak yang belajar dan mengaplikasikan metode ini agar senyum warga Tlogoweru menyaksikan panen melimpah di depan mata diikuti petani lain. Tapi kenyataan, tak semua berhasil. “Kuncinya, pelibatan warga dalam menyusun program, menanamkan kepedulian dan komitmen bersama membangun desa untuk kemajuan bersama. Itu yang tidak banyak dilakukan,”tandasnya.(@aernee)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Dieng, Negeri di Atas Awan

Dieng adalah salah satu destinasi unik dan menarik di Jawa Tengah, di kawasan Dieng Platheu ini anda dapat mengunjungi berbagai tempat wisata seperti Telaga Warna, Telaga Pengilon, Goa Semar-Sumur-Jaran dan Penganten, Museum Kailasa (Tempat peninggalan Purbakala), Kawah Sikidang, Candi Bima, Candi Gatotkaca, Kompleks Candi Arjuna, Sumur Jalatunda, Kawah Sileri dan masih banyak lagi lainnya selain dapat menikmati lanscape telaga warna dari Puncak Bukit Batu dan Bukit Sidengkeng. Sunrise ditempat ini pun sangat indah tidak kalah kelindahannya dengan sunrise di tempat lain. Anda dapat melihat Golden Sunrise dengan latar belakang Gunung Sindoro, Gunung Merapi. Gunung Merbabu, dan Gunung Wilis dari atas awan di puncak Gunung Sikunir, Gunung Pakuwaja dan Gunung Prau. Selain keindahan alam dan budaya yang dimiliki, Dieng juga memiliki mitos menarik yang masih ada hingga saat ini yaitu Mitos Anak Berrambut Gimbal/Gembel Titisan Kaladete yang hanya bisa kembali tumbuh normal jika sudah di ...

Belajar dari Tjokroaminoto

  Darah yang terpercik di antara hamparan kapas menyiratkan penderitaan rakyat pada saat babak baru Hindia Belanda selepas era tanam paksa di akhir tahun 1800. Kondisi itu berbanding terbalik dengan pemuda bangsawan, Oemar Said Tjokroaminoto (Tjokro).  Dia hidup nyaman. dengan tubuh berbalut beskap dan kain sarung  batik. Tidak seperti kebanyakan rakyat Indonesia. Kemiskinan, kebodohan   karena tak mengenyam pendidikan dan kesenjangan sosial inilah yang membuat hati Tjokro, sosok rendah hati, peduli dan hormat dengan siapapun berkobar untuk perubahan melalui Sarekat Islam (SI). Organisasi yang dibentuk untuk meningkatkan harkat dan martabat rakyat Indonesia. Ya, hampir semua adegan tergambar apik dalam “Guru Bangsa: Tjokroaminoto”. Film drama biopik besutan sutradara Garin Nugroho yang dirilis 9 April lalu, mengisahkan tokoh sejarah Indonesia bernama HOS Tjokroaminoto. Film ini menitikberatkan kehidupan dan perjuangan Tjokro. Film berjalan dengan mengi...

Pertemuan Mesra di Gang Baru

Pedagang di Pasar Gang Baru. Foto:@aernee SEMARANG, BERITASEMARANG.COM- Tak hanya tawar menawar barang, celoteh sendau gurau mewarnai suasana pagi di gang sempit yang penuh sesak dengan dagangan dan pembeli. Keramaian itu memang biasa bisa di temui di Gang Baru pada pagi hari. Di gang sempit inilah pasar tiban Gang Baru kawasan Pecinan Semarang selalu ramai di kunjungi pembeli. Tidak hanya warga Pecinan tetapi juga masyarakat dan pedagang eceran dari wilayah Semarang lainnya. Ya, siapa yang tak kenal Pasar Gang Baru, p asar tradisional ini terletak di kawasan Pecinan, dimana keberadaannya sudah dimulai sejak awal pembentukan kawasan Pecinan. Pasar Gang Baru tidak menempati ruang khusus atau bangunan untuk pasar, tetapi menempati jalan (gang) dan ruang-ruang hunian di sepanjang jalan Gang Baru. Nama Gang Baru, dilekatkan sebagai identitas atas sebuah jalan yang baru terbentuk pada masa itu. Pasar ini digelar ditengah jalan di antara rumah-rumah penduduk, hingga tidak d...