Langsung ke konten utama

Jalan Keluar Pecandu Napza

Foto: hrvic.org
Status sebagai ibu rumah tangga tak menghentikan langkah Yvonne Sibuea untuk menembus kehidupan para pecandu pecandu narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (Napza) dan membantu menyuarakan hak mereka untuk mendapatkan akses kesehatan dan hukum. Upayanya dilakukan dengan menginisiasi kebijakan Harm Reduction (pengurangan dampak buruk) pecandu Napza.  Sebuah upaya yang hingga kini hanya dilakukan segelintir orang di Indonesia.

Pergulatannya dimulai delapan tahun lalu ketika ia bekerja di Yayasan Wahana Bakti Sejahtera di Semarang yang fokus untuk memberikan edukasi tentang HIV dan napza pada warga binaan kasus narkoba di Lembaga Pemasyarakatan di Jateng.

“Tiga kali seminggu masuk ke Lapas Kedungpane, Lapas wanita Bulu dan Ambarawa hingga menjadi tempat curhat warga binaan khusus narkoba. Salah satu yang memprihatinkan itu layanan kesehatan yang tidak layak,” jelas perempuan kelahiran Jakarta 15 Mei 1976.

Mereka hanya mendapat fasilitas layanan kesehatan di klinik lapas yang minim. Terlebih lagi pada kurun waktu itu, lapas di Jateng menerima limpahan napi narkoba dari  wilayah lain yang mengidap HIV positif. “Angka kematian napi transfer di Jateng sangat tinggi dan itu meresahkan. Sementara tidak ada rumahsakit rujukan untuk mendapatkan penanganan ketika sakit parah,” imbuhnya.

Kondisi itulah yang kemudian menggerakkan Yvonne dan kedua temannya untuk membentuk Pergerakan Reformasi Kebijakan Napza (Performa) di awal 2007.  Sebuah komunitas advokasi perubahan kebijakan napza yang fokus pada layanan kesehatan warga binaan narkotika di penjara.

Yvonne mengatakan, wadah itu menjadi terobosan untuk menekan dan mendesak pemerintah memperbaiki pelayanan kesehatan di lapas dengan memperpendek jalur rujukan ke rumahsakit melalui jamkesmas. “Warga binaan dari luar kota juga bisa mengakses jamkesmas yang biasanya hanya digunakan sesuai domisili.”

Perjuangannya membuahkan hasil. Pemerintah akhirnya memberi dispensasi kepada warga binaan untuk mengakses rumahsakit rujukan. Tak hanya itu, pemerintah juga menaikkan uang makan sebesar Rp 2.500 untuk peningkatan gizi. “ Itu sangat menolong warga binaan yang berasal dari luar kota,” ucap perempuan berambut panjang ini.

Tidak hanya di lapas, setahun kemudian, Performa juga mendesak pemerintah untuk memperhatikan dan menyediakan layanan kesehatan yang layak untuk pengguna napsa di perkotaan. Salah satunya dengan mengusulkan penyediaan layanan terapi subsitusi dengan terapi Metadon (bentuk sintesis heroin). Bentuk terapi jangka panjang untuk memulihkan pecandu secara bertahap. Upaya mewujudkan itu dilakukan Yvonne dengan mengajak dokter di Rumahsakit Kariadi untuk mempelajari metode ini dengan Asosiasi Dokter Adisi Internasional di Austria. “Terapi ini sudah diterapkan di luar negeri dan aman karena mereka tidak bisa berhenti seketika. Tapi di Semarang belum ada fasilitas pendukung. Pelaku medis juga masih ragu.”

Lagi-lagi upayanya berhasil. RS Kariadi bersedia membuka layanan klinik terapi Metadon pertama dan menyediakan peralatan lengkap tes hiv dan napza. Tak hanya itu, empat puskesmas di Semarang juga menjadi rujukan dan melayani pecandu napza. Salah satunya puskesmas Poncol.
“Pasiennya terus bertambah dan ini menunjukkan mereka ingin lepas dari jeratan narkoba. Senang karena pemerintah mulai memperhatikan mereka dan menganggap pecandu  harus diselamatkan dan diobati.  Bukan dipenjarakan,” tegasnya.

Yvone dan koleganya Gentry Amalo juga mendirikan media online napzaindonesia.com sebagai media kampanye Harm Reduction dan edukasi masyarakat. Bahkan website ini kemudian menjadi rujukan komunitas pecandu untuk mendapatkan informasi, kegiatan dan kebijakan napza dengan memberdayakan dan melatih para pecandu sebagai kontributor.

“Kami harus ekstra sabar tapi ini tantangan. Mereka datang ke lokasi dan liputan itu udah sangat luar biasa. Kalau tidak sakit bisa ke kantor jam 8 kadang datang datang jam 13.00 karena demam. Mereka orang khusus jadi harus ada perlakukan khusus,” imbuh Yvonne.

Bahkan tahun ini Performa membentuk Lembaga bantuan Hukum (LBH) korban napza untuk membantu mereka yang terjerat kasus hukum. Upaya untuk memperjuangkan agar mereka mendapat rehabititasi. “Mereka harus pulihkan lagi bukan dipenjara. Kecanduan itu sakit mental yang harus dirawat.”

Yvonne mengakui ini tantangan sangat besar dan tidak mudah untuk yang merintis organisasi pecandu di Indonesia dan mendekati dan menjadi orang kepercayaan para pecandu. Butuh usaha eksra keras untuk mengidentifikasi dan memperluas jaringan.

“Sangat rumit. Saya turun ke bawah melihat mereka bergaul dengan menyesuaikan kehidupan mereka, di emperan, pakai celana sobek-sobek untuk mendapat kepercayaan dan mengorganisir mereka. Melebur ke tengah dengan masyarakat dan menekan pemangku kebijakan.”

Tidak hanya bergaul dengan pecandu tapi juga memantau isu dan tren napza internasional, mengikuti seminar dan konferensi internasional, serta belajar kebijakan napza di negara lain untuk berbagi pengalaman dan pembelajaran. Yvonne juga mengajak mantan pecandu menjadi paralegal untuk membantu sesama dan  mengajak masyarakat umum bergabung sebagai sukarelawan.  “Ini sebenarnya kerja bersama untuk melakukan perubahan. Gerakan people to people. Karena saya melihat langsung dan tahu itulah yang menggerakkan saya untuk “memanusiakan mereka. Upaya ini bahkan jadi percotohan kebijakan napsa internasional dan mendukung kebijakan napsa yang manusiawi.”

Menurutnya tak hanya edukasi ke luar tapi juga butuh sinergi pemerintah untuk melawan stigma negative melalui kampanye lebih informasif dengan pendekatan yang lebih manusiawi.
“Saya sudah kebal mendapat stigma negatif karena bergaul dengan mereka karena masyarakat terilusi dengan hal jelek tentang pecandu. Padahal saya bukan pecandu.”

Yvonne dan rekannya mendirikan LBH korban Napza untuk membantu tingginya kasus hukum yang menjerat para pecandu. Yvonne juga tengah memperjuangkan hak-hak para perempuan yang terkena dampak napza.

“Kasus hiv tertinggi terjadi pada ibu rumahtangga karena tertular suami. Saya hanya membantu mengurai benang kusus agar perempuan dan anak-anak tidak menjadi korban seperti saya. Sebenarnya jumlah korban yang tidak mengkonsumsi napsa lebih besar. Banyak yang mengalaminya di luar sana. Tidak hanya saya. Jadi pemerintah pun harus membuat kebijakan seimbang,” lanjutnya.
Ya, almarhum suaminya adalah pecandu. Kematian suaminya ketika anak ketiganya berusia setahun inilah yang membulatkan tekadnya untuk mengabdikan hidupnya memerangi napza dan meninggalkan pekerjaan sebelumnya sebagai seorang dress maker.

***
“Saya tetap ibu rumahtangga seperti ibu-ibu yang lain, menemani belajar dan bersenang-senang dengan anak-anak,” kata ibu tiga anak ini.

Ya, meski waktunya terkuras untuk kegiatan sosialnya di Performa. Yvonne Sibuea tetap memprioritaskan tumbuh kembang buah hatinya, terlebih lagi anak pertamanya sudah menginjak remaja. Umurnya 14 tahun, anak kedua berusia 11 tahun dan sibungsu 9 tahun.

Menurutnya, banyak hal menyenangkan dilakukan untuk menikmati kebersamaan. Seperti berenang, menonton film dan k berburu buku bekas di pasar loak di Semarang.“ Kami tidak suka ke mal dan akrab dengan air sejak kecil. Jadi semua punya hobi renang. Matanya juga “hijau” kalau lihat buku bekas dan kuno,” ungkapnya koordinator Performa ini.

Tak hanya itu, Yvonne juga ingin semua anaknya tahu dan paham aktivitasnya. Selain membangun kepercayaan diantara mereka, ini juga menjadi upaya edukasi secara langsung agar semua anaknya lebih mengenal dan memahami kehidupan para pecandu napza dan hal-hal yang tengah diperjuangkannya.  “Saya ajak ke kantor dan mengenalkan mereka dengan para pecandu. Mereka tahu siapa saja teman ibunya. Mereka bahkan sering hengot bersama. Piknik dan nonton bioskop.”

Menurutnya, edukasi menjadi yang terpenting berawal dari rumah. Tingginya angka pengguna napza juga disebabkan karena kesibukan orangtua dan minimnya waktu bersama keluarga. Orangtua tak menyadari ketika anak-anaknya bermasalah sedangkan anak tak berkomunikasi baik dengan orangtua. Hasil penelitian bahkan menyebutkan,  80 persen pecandu diawali merokok. Ini bermula dari kebiasaan coba-coba tanpa edukasi yang benar. “Kami seperti teman, bergosip, bermain dan mencoba memahami keinginan mereka. Pokoknya membuang pikiran kalau ibunya menakutkan dan mengubah kultur sehingga anak bisa lebh terbuka dengan orangtua.”

Yvonne mengakui jika ia telah kehilangan banyak waktu bersama anak-anaknya beberapa tahun ke belakang. Karena itu untuk menebusnya, ia mengubah ritme kerjanya dan lebih fokus pada berbagai riset terkait kebijakan napza.  “Tapi saya anggap ini bentuk pengorbanan anak-anak di masyarakat untuk membantu mengubah kebijakan yang rumit. Hidup mengalir saja. Yang jelas, berjuang itu butuh keyakinan.”

Apalagi Yvonne sudah dianggap sebagai “mbok-mbokan” para pecandu dan keluarganya sehingga harus tetap menjaga kepercayaan. Tidak hanya jadi curhat suami yang pecandu tapi juga tempat berkeluh kesah para istri mereka. “Mbak suamiku dua hari nggak pulang atau suamiku ketangkep, gimana mbak”,” ujar Yvonne menirukan perkataan mereka.

Jadi hal yang biasa dan menjadi bagian dari resiko jika teleponnya disadap, diintimidasi dan diteror banyak pihak karena ktivitasnya dengan para pecandu.
 “Ini bukan persoalan eksistensi tapi membantu memperjuangkan hak juga hal yang berarti bagi saya. Dan yang penting mereka butuh orang gila untuk menjadi managernya, hahaa.” (@aernee)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Dieng, Negeri di Atas Awan

Dieng adalah salah satu destinasi unik dan menarik di Jawa Tengah, di kawasan Dieng Platheu ini anda dapat mengunjungi berbagai tempat wisata seperti Telaga Warna, Telaga Pengilon, Goa Semar-Sumur-Jaran dan Penganten, Museum Kailasa (Tempat peninggalan Purbakala), Kawah Sikidang, Candi Bima, Candi Gatotkaca, Kompleks Candi Arjuna, Sumur Jalatunda, Kawah Sileri dan masih banyak lagi lainnya selain dapat menikmati lanscape telaga warna dari Puncak Bukit Batu dan Bukit Sidengkeng. Sunrise ditempat ini pun sangat indah tidak kalah kelindahannya dengan sunrise di tempat lain. Anda dapat melihat Golden Sunrise dengan latar belakang Gunung Sindoro, Gunung Merapi. Gunung Merbabu, dan Gunung Wilis dari atas awan di puncak Gunung Sikunir, Gunung Pakuwaja dan Gunung Prau. Selain keindahan alam dan budaya yang dimiliki, Dieng juga memiliki mitos menarik yang masih ada hingga saat ini yaitu Mitos Anak Berrambut Gimbal/Gembel Titisan Kaladete yang hanya bisa kembali tumbuh normal jika sudah di ...

Belajar dari Tjokroaminoto

  Darah yang terpercik di antara hamparan kapas menyiratkan penderitaan rakyat pada saat babak baru Hindia Belanda selepas era tanam paksa di akhir tahun 1800. Kondisi itu berbanding terbalik dengan pemuda bangsawan, Oemar Said Tjokroaminoto (Tjokro).  Dia hidup nyaman. dengan tubuh berbalut beskap dan kain sarung  batik. Tidak seperti kebanyakan rakyat Indonesia. Kemiskinan, kebodohan   karena tak mengenyam pendidikan dan kesenjangan sosial inilah yang membuat hati Tjokro, sosok rendah hati, peduli dan hormat dengan siapapun berkobar untuk perubahan melalui Sarekat Islam (SI). Organisasi yang dibentuk untuk meningkatkan harkat dan martabat rakyat Indonesia. Ya, hampir semua adegan tergambar apik dalam “Guru Bangsa: Tjokroaminoto”. Film drama biopik besutan sutradara Garin Nugroho yang dirilis 9 April lalu, mengisahkan tokoh sejarah Indonesia bernama HOS Tjokroaminoto. Film ini menitikberatkan kehidupan dan perjuangan Tjokro. Film berjalan dengan mengi...

Pertemuan Mesra di Gang Baru

Pedagang di Pasar Gang Baru. Foto:@aernee SEMARANG, BERITASEMARANG.COM- Tak hanya tawar menawar barang, celoteh sendau gurau mewarnai suasana pagi di gang sempit yang penuh sesak dengan dagangan dan pembeli. Keramaian itu memang biasa bisa di temui di Gang Baru pada pagi hari. Di gang sempit inilah pasar tiban Gang Baru kawasan Pecinan Semarang selalu ramai di kunjungi pembeli. Tidak hanya warga Pecinan tetapi juga masyarakat dan pedagang eceran dari wilayah Semarang lainnya. Ya, siapa yang tak kenal Pasar Gang Baru, p asar tradisional ini terletak di kawasan Pecinan, dimana keberadaannya sudah dimulai sejak awal pembentukan kawasan Pecinan. Pasar Gang Baru tidak menempati ruang khusus atau bangunan untuk pasar, tetapi menempati jalan (gang) dan ruang-ruang hunian di sepanjang jalan Gang Baru. Nama Gang Baru, dilekatkan sebagai identitas atas sebuah jalan yang baru terbentuk pada masa itu. Pasar ini digelar ditengah jalan di antara rumah-rumah penduduk, hingga tidak d...