Langsung ke konten utama

Lahan Pertanian di Jateng Makin Menyempit

foto : pertani.co.id
SEMARANG, BERITASEMARANG.COM- Luas areal tanaman padi  di Jawa Tengah terus menurun. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah  menyebutkan, pada tahun 2015 luas lahan padi sawah 1.717.281 hektare. Turun dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 1.765.240 hektare.

"Sudah terlihat sejak tahun lalu. Imbasnya pada penurunan produksi padi yang mencapai 6,73 persen," jelas Kepala Bidang Statistik Produksi Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, Totok Tavirijanto

Menurut dia, penurunan produksi ini bahkan paling signifikan terjadi di areal persawahan di pantura.Kondisi tersebut juga dipicu penurunan luas panen yang mencapai 44,54 ribu hektare. "Mulai dari Brebes hingga Rembang  banyak yang mengalami kelebihan air."

Berdasarkan laporan dari Pemerintah kabupaten/kota yang diterima BPS, banyak padi puso sehingga berdampak pada proses pertumbuhan bulir dan cepatnya perkembang biakan hama.

Meski mengalami penurunan luas budi daya, Kabupaten Cilacap juga masih menjadi daerah dengan lahan padi sawah terluas yaitu mencapai 124.033hektare. Sedangkan Kabupaten Grobogan justru mengalami kenaikan luasan lahan yaitu mencapai 107.558 hektare.

Totok menambahkan, untuk produktivitas tahun 2015, BPS masih melakukan  pendataan karena hingga kini panen masih berlangsung.

Namun, sesuai dengan angka sementara BPS jika pada tahun 2013 produksi gabah kering giling mencapai 10,34 juta ton maka pada tahun 2014 produksinya menjadi 9,65 juta ton. Jika dirinci, untuk produksi padi sawah mencapai 9.294.475 ton, sedangkan untuk produksi padi ladang mencapai 353.629 ton.

Sementara itu, meski areal persawahan menurun, luas areal tanaman padi ladang atau bukan sawah pada 2015 justru meningkat  dibandingkan tahun sebelumnya.

Berdasarkan data BPS, tahun 2014 luas lahan padi bukan sawah sebesar 80.207 hektare, untuk tahun ini menjadi 83.638 hektare.

Daerah dengan areal tanaman padi bukan sawah terluas yaitu Kabupaten Wonogiri  17.536 hektare, Kabupaten Kebumen dengan lahan padi ladang 7.860, dan  Kabupaten Blora 7.796 hektare. (@aernee)


 sumber : antarajateng

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Dieng, Negeri di Atas Awan

Dieng adalah salah satu destinasi unik dan menarik di Jawa Tengah, di kawasan Dieng Platheu ini anda dapat mengunjungi berbagai tempat wisata seperti Telaga Warna, Telaga Pengilon, Goa Semar-Sumur-Jaran dan Penganten, Museum Kailasa (Tempat peninggalan Purbakala), Kawah Sikidang, Candi Bima, Candi Gatotkaca, Kompleks Candi Arjuna, Sumur Jalatunda, Kawah Sileri dan masih banyak lagi lainnya selain dapat menikmati lanscape telaga warna dari Puncak Bukit Batu dan Bukit Sidengkeng. Sunrise ditempat ini pun sangat indah tidak kalah kelindahannya dengan sunrise di tempat lain. Anda dapat melihat Golden Sunrise dengan latar belakang Gunung Sindoro, Gunung Merapi. Gunung Merbabu, dan Gunung Wilis dari atas awan di puncak Gunung Sikunir, Gunung Pakuwaja dan Gunung Prau. Selain keindahan alam dan budaya yang dimiliki, Dieng juga memiliki mitos menarik yang masih ada hingga saat ini yaitu Mitos Anak Berrambut Gimbal/Gembel Titisan Kaladete yang hanya bisa kembali tumbuh normal jika sudah di ...

Belajar dari Tjokroaminoto

  Darah yang terpercik di antara hamparan kapas menyiratkan penderitaan rakyat pada saat babak baru Hindia Belanda selepas era tanam paksa di akhir tahun 1800. Kondisi itu berbanding terbalik dengan pemuda bangsawan, Oemar Said Tjokroaminoto (Tjokro).  Dia hidup nyaman. dengan tubuh berbalut beskap dan kain sarung  batik. Tidak seperti kebanyakan rakyat Indonesia. Kemiskinan, kebodohan   karena tak mengenyam pendidikan dan kesenjangan sosial inilah yang membuat hati Tjokro, sosok rendah hati, peduli dan hormat dengan siapapun berkobar untuk perubahan melalui Sarekat Islam (SI). Organisasi yang dibentuk untuk meningkatkan harkat dan martabat rakyat Indonesia. Ya, hampir semua adegan tergambar apik dalam “Guru Bangsa: Tjokroaminoto”. Film drama biopik besutan sutradara Garin Nugroho yang dirilis 9 April lalu, mengisahkan tokoh sejarah Indonesia bernama HOS Tjokroaminoto. Film ini menitikberatkan kehidupan dan perjuangan Tjokro. Film berjalan dengan mengi...

Pertemuan Mesra di Gang Baru

Pedagang di Pasar Gang Baru. Foto:@aernee SEMARANG, BERITASEMARANG.COM- Tak hanya tawar menawar barang, celoteh sendau gurau mewarnai suasana pagi di gang sempit yang penuh sesak dengan dagangan dan pembeli. Keramaian itu memang biasa bisa di temui di Gang Baru pada pagi hari. Di gang sempit inilah pasar tiban Gang Baru kawasan Pecinan Semarang selalu ramai di kunjungi pembeli. Tidak hanya warga Pecinan tetapi juga masyarakat dan pedagang eceran dari wilayah Semarang lainnya. Ya, siapa yang tak kenal Pasar Gang Baru, p asar tradisional ini terletak di kawasan Pecinan, dimana keberadaannya sudah dimulai sejak awal pembentukan kawasan Pecinan. Pasar Gang Baru tidak menempati ruang khusus atau bangunan untuk pasar, tetapi menempati jalan (gang) dan ruang-ruang hunian di sepanjang jalan Gang Baru. Nama Gang Baru, dilekatkan sebagai identitas atas sebuah jalan yang baru terbentuk pada masa itu. Pasar ini digelar ditengah jalan di antara rumah-rumah penduduk, hingga tidak d...