![]() |
| foto : pertani.co.id |
"Sudah terlihat sejak tahun lalu. Imbasnya pada penurunan produksi padi yang mencapai 6,73 persen," jelas Kepala Bidang Statistik Produksi Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, Totok Tavirijanto
Menurut dia, penurunan produksi ini bahkan paling signifikan terjadi di areal persawahan di pantura.Kondisi tersebut juga dipicu penurunan luas panen yang mencapai 44,54 ribu hektare. "Mulai dari Brebes hingga Rembang banyak yang mengalami kelebihan air."
Berdasarkan laporan dari Pemerintah kabupaten/kota yang diterima BPS, banyak padi puso sehingga berdampak pada proses pertumbuhan bulir dan cepatnya perkembang biakan hama.
Meski mengalami penurunan luas budi daya, Kabupaten Cilacap juga masih menjadi daerah dengan lahan padi sawah terluas yaitu mencapai 124.033hektare. Sedangkan Kabupaten Grobogan justru mengalami kenaikan luasan lahan yaitu mencapai 107.558 hektare.
Totok menambahkan, untuk produktivitas tahun 2015, BPS masih melakukan pendataan karena hingga kini panen masih berlangsung.
Namun, sesuai dengan angka sementara BPS jika pada tahun 2013 produksi gabah kering giling mencapai 10,34 juta ton maka pada tahun 2014 produksinya menjadi 9,65 juta ton. Jika dirinci, untuk produksi padi sawah mencapai 9.294.475 ton, sedangkan untuk produksi padi ladang mencapai 353.629 ton.
Sementara itu, meski areal persawahan menurun, luas areal tanaman padi ladang atau bukan sawah pada 2015 justru meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Berdasarkan data BPS, tahun 2014 luas lahan padi bukan sawah sebesar 80.207 hektare, untuk tahun ini menjadi 83.638 hektare.
Daerah dengan areal tanaman padi bukan sawah terluas yaitu Kabupaten Wonogiri 17.536 hektare, Kabupaten Kebumen dengan lahan padi ladang 7.860, dan Kabupaten Blora 7.796 hektare. (@aernee)
sumber : antarajateng

Komentar
Posting Komentar