Langsung ke konten utama

Leluhur Madame Lee Kuan Yew juga Jawa

Mr and Mrs Lee Kuan Yew / foto:www.youth.sg
SEMARANG, BERITASEMARANG.COM- Oral history yang berkembang di masyarakat seringkali diakui kebenarannya. Bisa jadi karena di suatu masa itu tidak ada yang membuat atau mengabadikan dalam manuskrip yang bisa menjadi referensi. Cerita berkembang turun temurun hingga kemudian menghilang begitu saja ketika tak lagi menjadi bahan pembicaraan hangat.

Namun, cerita-cerita itu bisa saja muncul kembali ketika momentum menginginkannya. Seperti kisah leluhur bapak pendiri Singapura, Lee Kuan Yew. yang memiliki jejak di Kota Semarang sebelum leluhurnya hijrah ke Singapura, tepatnya di Kampung Jawa, Kampong Java Road, Singapura.

Tak ada yang mengungkit leluhur Mantan Perdana Menteri negeri Singa itu, meski di banyak buku profilnya banyak mengupas asal usulnya. Momentum yang tepat itu ketika dunia kehilangan. Semua yang terkait dengannya pun digali.

Jongkie Tio, warga Tionghoa yang mempunyai banyak informasi tentang kehidupan warga Tionghoa di Semarang menjadi rujukan saya untuk mencari keberadaan leluhur Lee yang disebutkan di banyak buku seperti “The Singapore Story, Memoirs of Lee Kuan Yew” dan "Lee Kuan Yew, In Memoriam : Bapak Pembangunan Singapura".

"Komunitas Tionghoa di Kawasan Pecinan Semarang tidak pernah membicarakan dalam forum resmi maupun obrolan keseharian. Jadi, jejak leluhur tidak berada di Pecinan," imbuh Jongkie Tio.

Itu dikuatkan dengan sejarah Pecinan Semarang yang memang baru karena keterlibatan Belanda untuk mengisolasi warga Tionghoa dan peranakan yang ada di Semarang.

Namun, Jongkie Tio tak menampik jika pernah mendengar cerita jika leluhur Lee Kuan Yew dari pihak ayah pernah tinggal di Semarang.
Tak hanya leluhur Lee Kuan Yew. Mendiang sang istri yakni Kwa Geok Choo juga memiliki keterikatan dengan Jawa. Keluarga dari pihak ayah Kwa Geok Choo yang bernama Kwa Sew Tee adalah seorang Bankir OCBC yang memiliki akar keluarga kelahiran Jawa.

Ketika Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew beserta istri akan melakukan kunjungan pertamanya ke Indonesia di tahun 1973, SN Wargatjie, koresponden Kompas di Semarang pernah  menuliskan di halaman pertama Harian Kompas edisi tanggal 26 Mei 1973 mengenai perjuangannya mendapatkan berita tentang nenek moyang Madame Lee Kwan Yew dari keluarga ayah.

Kwa Giok Choo, nama kecil  Ny. Lee Kuan Yew berasal dari keluarga di Semarang dan kedua orangtuanya  pernah tinggal di Jalan Dr. Cipto Semarang. Cecuil informasi yang didapat dari Pak Jacob Oetama kala itu.

Dalam penelusurannya, diketahui bahwa keluarga tionghoa bermarga Kwa pernah tinggal di Jalan Dr. Cipto. Tapi, kemudian pindah ke  Kampung Karanggeneng. Tepatnya di salah satu rumah sederhana di Jalan Karanggeneng Utara No.163.

Rumah itu ditinggali Kwa Sioe Djin lelaki berumur 90 tahun dan anak laki-lakinya bernama Kwa Soen Ie. Kwa Sioe Djin inilah yang mempunyai hubungan kakak-adik dengan ayah Kwa Geok Choo yang bernama Kwa Sioe Tie.

“Memang ayah saya, Kwa Sioe Djin ini kakak-beradik dengan papah Kwa Giok Choo (nama kecil Ny. Lee Kuan Yew), yang bernama Kwa Sioe Tie. Hubungan keluarga Lee Kuan Yew dengan keluarga di Semarang ini sudah menjadi jauh. Tapi, antara papah Kwa Giok Choo dengan ayah saya masih surat-suratan, meskipun terbatas kartu ucapan Tahun Baru dan Natal dan surat-surat pendek,” ungkap Kwa Sioe Djin, yang menjadi saudara sepupu Ny. Lee seperti ditulis di Harian Kompas tersebut.

Setelah 42 tahun kemudian, keberadaan Kampung Karanggeneng masih nampak sebagai perkampungan padat penduduk di tengah Kota Semarang.

Jalan masuk ke Karanggeneng utara sangat sempit. Hanya bisa dilewati kendaraan sepeda motor namun padat dan rumah saling berdempetan tak berjarak. Wilayah ini berdekatan dengan kawasan pecinan Semarang dan sebagain besar penghuninya warga Tionghoa peranakan.

Namun, setelah waktu berlalu cukup lama,  tidak ada yang mengetahui dan tidak paham jika di kawasan itu pernah ditinggali keluarga besar Ny. Lee.

"Simpang siur juga karena ada cerita kalau keluarga Kwa Giok Choo dari Kudus. Tidak ada informasi yang jelas," ungkap Jongkie Tio.
Abad berganti dan jaman berubah itu membuat jejak-jejak masa lalu yang semestinya menjadi harta karun sejarah bangsa justru semakin tak terlacak. (@aernee)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Dieng, Negeri di Atas Awan

Dieng adalah salah satu destinasi unik dan menarik di Jawa Tengah, di kawasan Dieng Platheu ini anda dapat mengunjungi berbagai tempat wisata seperti Telaga Warna, Telaga Pengilon, Goa Semar-Sumur-Jaran dan Penganten, Museum Kailasa (Tempat peninggalan Purbakala), Kawah Sikidang, Candi Bima, Candi Gatotkaca, Kompleks Candi Arjuna, Sumur Jalatunda, Kawah Sileri dan masih banyak lagi lainnya selain dapat menikmati lanscape telaga warna dari Puncak Bukit Batu dan Bukit Sidengkeng. Sunrise ditempat ini pun sangat indah tidak kalah kelindahannya dengan sunrise di tempat lain. Anda dapat melihat Golden Sunrise dengan latar belakang Gunung Sindoro, Gunung Merapi. Gunung Merbabu, dan Gunung Wilis dari atas awan di puncak Gunung Sikunir, Gunung Pakuwaja dan Gunung Prau. Selain keindahan alam dan budaya yang dimiliki, Dieng juga memiliki mitos menarik yang masih ada hingga saat ini yaitu Mitos Anak Berrambut Gimbal/Gembel Titisan Kaladete yang hanya bisa kembali tumbuh normal jika sudah di ...

Belajar dari Tjokroaminoto

  Darah yang terpercik di antara hamparan kapas menyiratkan penderitaan rakyat pada saat babak baru Hindia Belanda selepas era tanam paksa di akhir tahun 1800. Kondisi itu berbanding terbalik dengan pemuda bangsawan, Oemar Said Tjokroaminoto (Tjokro).  Dia hidup nyaman. dengan tubuh berbalut beskap dan kain sarung  batik. Tidak seperti kebanyakan rakyat Indonesia. Kemiskinan, kebodohan   karena tak mengenyam pendidikan dan kesenjangan sosial inilah yang membuat hati Tjokro, sosok rendah hati, peduli dan hormat dengan siapapun berkobar untuk perubahan melalui Sarekat Islam (SI). Organisasi yang dibentuk untuk meningkatkan harkat dan martabat rakyat Indonesia. Ya, hampir semua adegan tergambar apik dalam “Guru Bangsa: Tjokroaminoto”. Film drama biopik besutan sutradara Garin Nugroho yang dirilis 9 April lalu, mengisahkan tokoh sejarah Indonesia bernama HOS Tjokroaminoto. Film ini menitikberatkan kehidupan dan perjuangan Tjokro. Film berjalan dengan mengi...

Pertemuan Mesra di Gang Baru

Pedagang di Pasar Gang Baru. Foto:@aernee SEMARANG, BERITASEMARANG.COM- Tak hanya tawar menawar barang, celoteh sendau gurau mewarnai suasana pagi di gang sempit yang penuh sesak dengan dagangan dan pembeli. Keramaian itu memang biasa bisa di temui di Gang Baru pada pagi hari. Di gang sempit inilah pasar tiban Gang Baru kawasan Pecinan Semarang selalu ramai di kunjungi pembeli. Tidak hanya warga Pecinan tetapi juga masyarakat dan pedagang eceran dari wilayah Semarang lainnya. Ya, siapa yang tak kenal Pasar Gang Baru, p asar tradisional ini terletak di kawasan Pecinan, dimana keberadaannya sudah dimulai sejak awal pembentukan kawasan Pecinan. Pasar Gang Baru tidak menempati ruang khusus atau bangunan untuk pasar, tetapi menempati jalan (gang) dan ruang-ruang hunian di sepanjang jalan Gang Baru. Nama Gang Baru, dilekatkan sebagai identitas atas sebuah jalan yang baru terbentuk pada masa itu. Pasar ini digelar ditengah jalan di antara rumah-rumah penduduk, hingga tidak d...