Langsung ke konten utama

Nelayan Jateng Akan Mudah Melaut

foto : beritagar.com
SEMARANG, BERITASEMARANG.COM- Jawa Tengah berencana menyederhanakan ijin pelayaran bagi nelayan.

Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jateng Ferdiawan mengatakan, selama ini prosedur kelengkapan dokumen perijinan sebelum melaut cukup banyak sehingga menyulitkan bagi para nelayan.

Sebelum melaut ada sekitar 20 dokumen atau surat ijin yang harus dilengkapi yang dikeluarkan oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Kementerian Perhubungan. "Jumlah dokumen disesuaikan dengan ukuran dan jenis kapal.Untuk kapal dengan ukuran di atas 30 GT, maka dokumen yang harus diurus ke pusat akan lebih banyak."

Rencananya, perijinan itu akan disederhanakan menjadi 5-6 surat ijin saja, dan akan dilakukan secara bertahan. Pasalnya, penyederhanaan itu bukan hal mudah dan butuh proses untuk dapat merealisasikannya.

"Untuk awalan, kami sudah ada pembicaraan dengan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) di bawah Kementerian Perhubungan. Tapi masih ada tahap lanjutan yang harus dilalui," katanya.

Ferdiawan menambahkan, salah satu penyederhanaan adalah waktu pemberlakukan surat izin penangkapan ikan (SIPI) dari tiga tahun menjadi satu tahun. Karena permasalahan tenggat waktu tersebut diatur dalam Perda sehingga jika diubah harus adan perubahan Perda.

"Dalam waktu dekat ini kami bertemu dengan DPRD Provinsi Jawa Tengah sehingga ada kemungkinan merevisi Perda tersebut."

Penyederhaaan dokumen perijinan itu penting bagi nelayan untuk mempermudah melakukan aktivitas pelayaran atau mencari  ikan di laut. Namun, pengurusan dokumen seringkali memakan waktu cukup lama, apalagi karena waktu jatuh tempo antara dokumen satu dengan yang lain tidak bersamaan.

"Kalau ada salah satu dokumen yang masa berlakunya habis, nelayan harus kembali ke darat. Ini proses yang merepotkan." katanya.

Ke depan, Pemprov Jateng juga akan memanfaatkan teknologi "barcode" di setiap kapal untuk memudahkan identifikasi. Sehingga dari tanda 'barcode' tersebut dapat dengan mudah diketahui riwayat kapal berikut kelengkapan dokumennya.

Pemantauan melalui 'barcode' tersebut rencananya dapat diakses melalui internet, meski akan muncul kendala akses ketika kapal berada di tengah laut.

Permasalahan perijinan kapal nelayan juga disampaikan dalam pertemuan para nelayan dengan anggota Komisi B DPRD Jateng.

Nelayan di Provinsi Jawa Tengah mengeluhkan rumitnya proses pengurusan perijinan kapal penangkap ikan sehingga harus menunggu cukup lama sampai izin keluar agar bisa melaut.

“Butuh waktu hingga satu tahun untuk pengurusan izin satu kapal, padahal semua persyaratannya lengkap. Efeknya kami jadi tidak bisa melaut,” kata Agus, nelayan asal Kabupaten Pati, seperti dikutip Antara, Senin (2/3/2015).

Para nelayan harus melengkapi belasan dokumen surat ijin dari berbagai instansi pemerintah jika ingin mengurus perizinan kapal penangkap ikan.

“Kami meminta dipermudah karena nelayan menggantungkan hidup dari hasil tangkapan di laut,” ujarnya.

Anggota Komisi B DPRD Jateng Riyono mengaku akan mendorong transparansi dan kemudahan perijinan kapal penangkap ikan bagi nelayan.

“Kesejahteraan nelayan tergantung dari hasil tangkapan. Semoga ini mendapat perhatian dan prioritas daripemerintah agar nasib nelayan bisa lebih baik."(@aernee)

sumber : antarajateng

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wisata Dieng, Negeri di Atas Awan

Dieng adalah salah satu destinasi unik dan menarik di Jawa Tengah, di kawasan Dieng Platheu ini anda dapat mengunjungi berbagai tempat wisata seperti Telaga Warna, Telaga Pengilon, Goa Semar-Sumur-Jaran dan Penganten, Museum Kailasa (Tempat peninggalan Purbakala), Kawah Sikidang, Candi Bima, Candi Gatotkaca, Kompleks Candi Arjuna, Sumur Jalatunda, Kawah Sileri dan masih banyak lagi lainnya selain dapat menikmati lanscape telaga warna dari Puncak Bukit Batu dan Bukit Sidengkeng. Sunrise ditempat ini pun sangat indah tidak kalah kelindahannya dengan sunrise di tempat lain. Anda dapat melihat Golden Sunrise dengan latar belakang Gunung Sindoro, Gunung Merapi. Gunung Merbabu, dan Gunung Wilis dari atas awan di puncak Gunung Sikunir, Gunung Pakuwaja dan Gunung Prau. Selain keindahan alam dan budaya yang dimiliki, Dieng juga memiliki mitos menarik yang masih ada hingga saat ini yaitu Mitos Anak Berrambut Gimbal/Gembel Titisan Kaladete yang hanya bisa kembali tumbuh normal jika sudah di ...

Belajar dari Tjokroaminoto

  Darah yang terpercik di antara hamparan kapas menyiratkan penderitaan rakyat pada saat babak baru Hindia Belanda selepas era tanam paksa di akhir tahun 1800. Kondisi itu berbanding terbalik dengan pemuda bangsawan, Oemar Said Tjokroaminoto (Tjokro).  Dia hidup nyaman. dengan tubuh berbalut beskap dan kain sarung  batik. Tidak seperti kebanyakan rakyat Indonesia. Kemiskinan, kebodohan   karena tak mengenyam pendidikan dan kesenjangan sosial inilah yang membuat hati Tjokro, sosok rendah hati, peduli dan hormat dengan siapapun berkobar untuk perubahan melalui Sarekat Islam (SI). Organisasi yang dibentuk untuk meningkatkan harkat dan martabat rakyat Indonesia. Ya, hampir semua adegan tergambar apik dalam “Guru Bangsa: Tjokroaminoto”. Film drama biopik besutan sutradara Garin Nugroho yang dirilis 9 April lalu, mengisahkan tokoh sejarah Indonesia bernama HOS Tjokroaminoto. Film ini menitikberatkan kehidupan dan perjuangan Tjokro. Film berjalan dengan mengi...

Pertemuan Mesra di Gang Baru

Pedagang di Pasar Gang Baru. Foto:@aernee SEMARANG, BERITASEMARANG.COM- Tak hanya tawar menawar barang, celoteh sendau gurau mewarnai suasana pagi di gang sempit yang penuh sesak dengan dagangan dan pembeli. Keramaian itu memang biasa bisa di temui di Gang Baru pada pagi hari. Di gang sempit inilah pasar tiban Gang Baru kawasan Pecinan Semarang selalu ramai di kunjungi pembeli. Tidak hanya warga Pecinan tetapi juga masyarakat dan pedagang eceran dari wilayah Semarang lainnya. Ya, siapa yang tak kenal Pasar Gang Baru, p asar tradisional ini terletak di kawasan Pecinan, dimana keberadaannya sudah dimulai sejak awal pembentukan kawasan Pecinan. Pasar Gang Baru tidak menempati ruang khusus atau bangunan untuk pasar, tetapi menempati jalan (gang) dan ruang-ruang hunian di sepanjang jalan Gang Baru. Nama Gang Baru, dilekatkan sebagai identitas atas sebuah jalan yang baru terbentuk pada masa itu. Pasar ini digelar ditengah jalan di antara rumah-rumah penduduk, hingga tidak d...